Google melalui perusahaan induknya Alphabet baru saja mengumumkan rencana investasi infrastruktur AI terbesar dalam sejarah teknologi. Dalam laporan keuangan kuartal keempat 2025 yang dirilis Rabu lalu, raksasa teknologi ini mengungkapkan target belanja modal (capex) sebesar $175 miliar hingga $185 miliar untuk tahun 2026.
Angka fantastis ini hampir dua kali lipat dari pengeluaran capex Alphabet tahun 2025 yang mencapai sekitar $93 miliar. Keputusan ini menegaskan bahwa perlombaan AI kini telah berevolusi menjadi perlombaan infrastruktur, di mana kemampuan mengelola pusat data dan kapasitas komputasi menjadi penentu utama keunggulan kompetitif.
Alokasi Dana Investasi
CFO Alphabet, Anat Ashkenazi, memberikan rincian penggunaan dana investasi raksasa ini. Sekitar 60 persen atau antara $105 miliar hingga $111 miliar akan dialokasikan untuk server dan aset yang cepat terdepresiasi. Sementara 40 persen sisanya, yakni $70 miliar hingga $74 miliar, akan digunakan untuk pembangunan fasilitas pusat data baru beserta infrastruktur jaringannya.
Investasi server akan difokuskan pada pengembangan infrastruktur AI, mencakup Tensor Processing Unit (TPU) buatan Google sendiri dan GPU dari Nvidia. Ashkenazi menyebutkan bahwa investasi infrastruktur komputasi akan dibagi rata antara kebutuhan internal dan platform Google Cloud.
Lonjakan Pendapatan Cloud
Keputusan investasi besar-besaran ini didorong oleh pertumbuhan luar biasa divisi Google Cloud. Pendapatan cloud kuartal keempat 2025 melonjak 47 persen secara tahunan mencapai $17,66 miliar. Yang lebih mengejutkan, backlog atau pesanan yang belum terpenuhi melonjak 55 persen secara kuartalan dan lebih dari dua kali lipat secara tahunan, mencapai $240 miliar pada akhir kuartal keempat.
“Performa GCP didorong oleh pertumbuhan yang meningkat pada produk AI enterprise, yang kini menghasilkan miliaran dolar pendapatan kuartalan,” ungkap Ashkenazi dalam konferensi dengan analis. Ia menambahkan bahwa layanan inti cloud seperti keamanan siber dan analitik data juga mencatat pertumbuhan pendapatan yang signifikan.
Tantangan Kapasitas Komputasi
Ketika ditanya mengenai hal yang menjadi kekhawatiran utama, CEO Alphabet Sundar Pichai menjawab singkat: “kapasitas komputasi.” Ia menjelaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah bagaimana meningkatkan kapasitas untuk memenuhi permintaan luar biasa di tengah keterbatasan daya listrik, lahan, dan rantai pasokan.
Kekhawatiran Pichai mencerminkan tekanan nyata yang dihadapi perusahaan. Berdasarkan laporan internal yang terungkap November lalu, Google harus menggandakan kapasitas server AI setiap enam bulan untuk memenuhi permintaan layanan AI. Amin Vahdat, kepala infrastruktur AI Google, menyebut kompetisi infrastruktur AI sebagai “bagian paling kritis sekaligus paling mahal dari perlombaan AI.”
Perbandingan dengan Kompetitor
Proyeksi capex Alphabet melampaui pesaing utamanya. Meta memperkirakan pengeluaran antara $115 miliar hingga $135 miliar untuk 2026, yang pada batas atas berarti hampir dua kali lipat angka $72,2 miliar tahun lalu. Sementara Microsoft tidak memberikan proyeksi spesifik tetapi menyebutkan capex akan “menurun secara kuartalan” setelah mencatat $37,5 miliar pada periode terakhir.
Amazon yang melaporkan hasil keuangannya hari Kamis diperkirakan analis akan menutup capex 2025 di sekitar $124,5 miliar dan meningkatkannya 18 persen menjadi $146,6 miliar tahun ini. Dengan proyeksi Alphabet, selisih investasi antara raksasa teknologi ini semakin menyempit namun Google tetap memimpin dalam hal nilai absolut.
Kinerja Keuangan Solid
Secara keseluruhan, Alphabet membukukan kinerja keuangan yang solid. Kuartal keempat 2025 mencatat laba $34,45 miliar dari pendapatan $113,82 miliar. Untuk sepanjang tahun, total pendapatan mencapai $402,84 miliar dengan laba $132,17 miliar. Pendapatan iklan dari Google Search, YouTube, dan Network melampaui $82,28 miliar pada kuartal tersebut, naik lebih dari 13 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Aplikasi AI andalan Google, Gemini, kini memiliki 750 juta pengguna aktif bulanan, meningkat dari 650 juta kuartal sebelumnya. Pichai juga menekankan kemitraan dengan Apple untuk memperbarui asisten virtual Siri menggunakan model AI Gemini, dengan Apple memilih Google sebagai penyedia cloud preferensinya.
Akuisisi Strategis
Untuk mendukung ekspansi infrastruktur, Alphabet pada Desember 2025 mengumumkan akuisisi perusahaan pusat data Intersect senilai $4,75 miliar tunai ditambah asumsi utang. Kesepakatan ini diperkirakan rampung pada paruh pertama 2026 dan akan memperkuat kapasitas pusat data Google di Amerika Serikat.
Langkah akuisisi ini menunjukkan bahwa Google tidak hanya membangun infrastruktur sendiri tetapi juga mengakuisisi fasilitas yang sudah ada untuk mempercepat perluasan kapasitas. Strategi ini penting mengingat waktu pembangunan pusat data baru bisa memakan waktu bertahun-tahun sementara permintaan layanan AI terus meningkat eksponensial.
Implikasi bagi Industri
Skala investasi Alphabet memberikan sinyal jelas bahwa era AI membutuhkan infrastruktur berskala nasional. Pusat data, kontrak listrik, dan chip khusus kini diperlakukan sebagai aset strategis setara dengan program infrastruktur nasional terbesar. Bagi startup, kondisi ini menciptakan dua dinamika berbeda.
Di satu sisi, pengeluaran hyperscaler menciptakan permintaan turunan untuk alat keamanan, observabilitas, optimisasi energi, dan orkestrasi beban kerja. Di sisi lain, ini menekan ruang gerak penyedia model AI yang tidak memiliki distribusi dan kapasitas komputasi, mendorong pemain kecil fokus pada AI vertikal yang terdeferensiasi, data proprietary, dan kepemilikan alur kerja ketimbang bersaing langsung dalam pengembangan model dasar.
Investasi $185 miliar Alphabet bukan sekadar angka fantastis. Ini adalah deklarasi bahwa masa depan AI ditentukan oleh siapa yang menguasai infrastruktur. Perusahaan yang mengontrol komputasi dan daya listrik semakin menentukan laju dan ekonomi pengembangan AI global.

