Jakarta, 5 Februari 2026 – Raksasa teknologi Meta resmi mengumumkan kebijakan kontroversial yang akan mengubah cara perusahaan menilai performa karyawannya. Mulai tahun 2026, seluruh pegawai Meta akan dievaluasi berdasarkan seberapa efektif mereka memanfaatkan teknologi AI dalam pekerjaan sehari-hari.
Apa Isi Kebijakan Baru Ini?
Menurut laporan dari WinBuzzer, Meta akan secara formal memasukkan ‘dampak berbasis AI’ (AI-driven impact) sebagai salah satu kriteria utama dalam review performa tahunan. Ini berarti karyawan yang tidak mengadopsi atau memanfaatkan AI dalam workflow mereka bisa mendapat penilaian lebih rendah.
Beberapa poin penting dari kebijakan ini:
- Penilaian Formal: Penggunaan AI akan menjadi bagian dari skor evaluasi resmi.
- Implementasi Bertahap: Di 2025, karyawan ‘didorong’ untuk menyebutkan pencapaian AI. Di 2026, ini menjadi wajib.
- Pelopor Industri: Meta adalah perusahaan pertama yang secara resmi mengkodifikasi hal ini dalam sistem review.
Mengapa Meta Melakukan Ini?
CEO Mark Zuckerberg dikenal sangat agresif dalam mendorong adopsi AI di seluruh lini bisnis Meta. Dengan kebijakan ini, perusahaan ingin memastikan setiap karyawan—dari engineer hingga tim marketing—benar-benar mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan mereka, bukan sekadar slogan.
“Kami percaya AI akan mengubah cara semua orang bekerja. Karyawan yang bisa beradaptasi dan memanfaatkannya akan menjadi aset paling berharga,” ungkap juru bicara Meta.
Bagaimana Reaksi Industri?
Kebijakan ini memicu diskusi hangat di kalangan profesional teknologi. Beberapa mendukung karena dianggap mendorong inovasi, sementara yang lain khawatir ini akan menciptakan tekanan berlebihan dan ketidakadilan bagi pekerja yang job desk-nya memang tidak terlalu membutuhkan AI.
Microsoft, Google, dan Amazon juga dikabarkan sedang mendorong adopsi AI secara internal, namun belum ada yang berani memasukkannya sebagai kriteria evaluasi formal seperti Meta.
Apa Artinya Buat Pekerja di Indonesia?
Meskipun kebijakan ini diterapkan untuk karyawan Meta global (termasuk kantor regional), ini bisa menjadi sinyal tren masa depan untuk perusahaan teknologi lainnya. Para profesional Indonesia yang bekerja di sektor tech mungkin perlu mulai memikirkan bagaimana AI bisa membantu pekerjaan mereka sehari-hari.
Sumber: WinBuzzer, CNBC, Yahoo Finance (Februari 2026)

