NEW YORK – Wall Street kembali diguncang aksi jual yang tajam pada perdagangan Kamis waktu setempat. Indeks-indeks utama saham Amerika Serikat berguguran, dipimpin oleh sektor teknologi yang tertekan hebat. Kombinasi dari kekhawatiran terhadap efektivitas belanja kecerdasan buatan (AI) yang masif dan laporan pasar tenaga kerja yang mengecewakan menjadi pemicu utama sentimen negatif ini.
Bitcoin, aset kripto terbesar di dunia, juga ikut terseret arus, anjlok hingga hampir setengah dari rekor tertingginya yang dicapai musim gugur lalu. Situasi ini mencerminkan kegelisahan mendalam di kalangan investor global yang mulai mempertanyakan valuasi tinggi di sektor teknologi dan keberlanjutan reli pasar saham.
Belanja AI: Investasi Masa Depan atau Pemborosan?
Salah satu faktor utama yang menyeret pasar adalah skeptisisme yang tumbuh terhadap raksasa teknologi. Meskipun induk usaha Google, Alphabet Inc., melaporkan keuntungan yang lebih kuat dari perkiraan analis untuk kuartal terakhir, sahamnya justru sempat tergelincir.
Investor tampaknya lebih fokus pada rencana pengeluaran modal Alphabet yang fantastis. Perusahaan mengumumkan bahwa belanja untuk peralatan dan investasi lainnya—terutama untuk mendukung infrastruktur AI—bisa melonjak dua kali lipat tahun ini hingga mencapai angka mengejutkan sebesar $180 miliar. Angka ini jauh melampaui ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan sekitar $119 miliar.
“Pasar mulai bertanya-tanya, apakah semua investasi jumbo di AI ini akan benar-benar menghasilkan keuntungan yang sepadan dalam waktu dekat?” ujar seorang analis pasar senior. Kekhawatiran bahwa perusahaan teknologi “membakar uang” demi mengejar hype AI tanpa jalur profitabilitas yang jelas mulai menghantui sentimen pasar.
Pasar Tenaga Kerja AS Mulai Retak?
Selain faktor teknologi, data ekonomi makro juga memberikan sinyal yang kurang menggembirakan. Laporan terbaru menunjukkan jumlah pekerja AS yang mengajukan tunjangan pengangguran melonjak melebihi ekspektasi ekonom minggu lalu. Hal ini bisa menjadi sinyal awal bahwa laju pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai berakselerasi.
Laporan terpisah dari firma outplacement Challenger, Gray & Christmas menyebutkan bahwa pengumuman PHK oleh pengusaha yang berbasis di AS melonjak bulan lalu hingga mencapai 108.435 orang, angka tertinggi sejak Oktober. Pelemahan di pasar tenaga kerja ini memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin terpaksa memangkas suku bunga lebih cepat untuk menopang ekonomi, meskipun risiko inflasi masih mengintai.
Kripto dan Komoditas Ikut Tumbang
Dampak dari sentimen risk-off ini merambat luas ke aset-aset lain. Bitcoin, yang sering digadang-gadang sebagai “emas digital”, justru bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya. Harganya sempat jatuh lebih dari 12% hingga di bawah level $64.000, jauh dari rekor tertingginya di atas $124.000 pada Oktober lalu.
Kejatuhan harga kripto ini menyeret saham-saham terkait. Coinbase Global, platform perdagangan kripto terkemuka, anjlok 13,3%, sementara MicroStrategy, perusahaan yang agresif memborong Bitcoin, tumbang hingga 17,1%.
Di pasar komoditas, harga emas dan perak juga mengalami volatilitas ekstrem. Perak jatuh 9,1%, sementara emas turun 1,2% ke level $4.889,50 per ons, setelah sempat mendekati $5.600 minggu lalu.
Kinerja Perusahaan: Ada yang Bertahan, Ada yang Tumbang
- Qualcomm: Jatuh 8,5% meskipun melampaui ekspektasi laba. Prospek kuartal berjalan yang di bawah harapan akibat kekurangan memori di industri menjadi penyebabnya.
- Estee Lauder: Saham perusahaan kosmetik ini anjlok 19,2% karena investor kecewa dengan lambatnya upaya pemulihan bisnis di tengah tarif yang menekan.
- Pemenang: Di sisi lain, perusahaan yang diuntungkan dari belanja AI justru bertahan. Broadcom naik tipis 0,8%, dan perusahaan kesehatan McKesson melompat 16,5% berkat laporan laba yang kuat.
Penurunan ini tidak hanya terjadi di AS. Indeks saham di Eropa dan Asia juga memerah. Kospi Korea Selatan anjlok 3,9%, dengan Samsung Electronics turun 5,8%, menghapus kenaikan tajam yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Para pelaku pasar kini menanti data ekonomi selanjutnya untuk melihat apakah tren penurunan ini merupakan koreksi sehat atau awal dari penurunan yang lebih dalam di tahun 2026 ini.

