San Francisco – Dunia teknologi dan pasar saham global dikejutkan oleh pergerakan tajam di sektor perangkat lunak enterprise minggu ini. Penyebabnya? Peluncuran fitur baru dari Anthropic, salah satu pesaing utama dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI).
Saham perusahaan-perusahaan software ternama anjlok setelah Anthropic merilis serangkaian plugin baru untuk “Claude Cowork”, asisten tempat kerja berbasis AI mereka. Langkah ini dinilai oleh para investor sebagai sinyal awal bahwa AI generatif mulai siap menggantikan produk-produk enterprise yang selama ini mendominasi pasar.
Plugin Baru, Dampak Besar
Pada hari Jumat lalu, Anthropic memperkenalkan plugin yang memungkinkan Claude Cowork beradaptasi dengan sektor-sektor spesifik seperti hukum, keuangan, dan pemasaran data. Kemampuan ini memungkinkan AI untuk tidak hanya menjawab pertanyaan umum, tetapi juga menyusun dokumen hukum, menganalisis laporan keuangan, dan mengelola kampanye data dengan presisi tinggi.
Respon pasar sangat cepat dan brutal. Saham Thomson Reuters dan Legalzoom.com, dua pemain besar di industri layanan data dan teknologi hukum, jatuh lebih dari 15% pada hari Selasa. Penurunan digit ganda juga dialami oleh RELX (induk perusahaan LexisNexis) dan perusahaan data keuangan FactSet.
Bahkan raksasa software enterprise seperti Salesforce dan Workday tidak luput dari sentimen negatif ini, mencatatkan penurunan harga saham di awal pekan. Meskipun sebagian besar saham ini mulai pulih pada hari Rabu, nilainya masih berada di bawah posisi pembukaan minggu ini.
Ancaman Nyata atau Reaksi Berlebihan?
Jim Reid, ahli strategi riset di Deutsche Bank, menyebutkan bahwa gejolak pasar ini mencerminkan tren “pemenang dan pecundang” yang semakin nyata di mata investor AI. “Pasar telah bergeser dari pola pikir ‘semua saham teknologi adalah pemenang’ menjadi lanskap yang jauh lebih brutal,” catat Reid dalam memo kepada kliennya.
Kekhawatiran utamanya adalah bahwa alat AI seperti Claude Cowork dapat melakukan tugas-tugas “white collar” entry-level dengan biaya yang jauh lebih rendah dan kecepatan lebih tinggi daripada manusia atau software konvensional yang mahal.
Vasant Dhar, profesor data science di NYU, menjelaskan bahwa layanan hukum dasar adalah “low-hanging fruit” untuk disrupsi AI. “Anda pergi ke pengacara dan mereka menagih ribuan dolar untuk hal-hal standar (boilerplate). Mereview kontrak standar bukanlah hal yang sulit bagi AI,” ujarnya.
Namun, tidak semua analis setuju bahwa “kiamat software lama” sudah di depan mata. Dan Ives dari Wedbush Securities mengakui bahwa model Anthropic sangat mengesankan, tetapi ia skeptis perusahaan besar akan langsung meninggalkan vendor tradisional mereka. “Anda tidak bisa hanya menjentikkan jari dan beralih ke model AI dalam skala enterprise,” kata Ives, merujuk pada kompleksitas integrasi sistem di perusahaan besar.
Peringatan dari CEO Anthropic
Fenomena ini sejalan dengan peringatan yang pernah disampaikan oleh CEO Anthropic, Dario Amodei. Ia sebelumnya memprediksi bahwa AI dapat memangkas pekerjaan entry-level di AS hingga setengahnya dalam lima tahun ke depan. Dalam blog post bulan Oktober, Amodei menyoroti kemampuan AI untuk “diberi tugas yang memakan waktu berjam-jam atau berhari-hari, lalu menyelesaikannya secara otonom layaknya karyawan cerdas.”
Kesimpulan
Apakah Claude Cowork akan benar-benar menggantikan LexisNexis atau Salesforce? Masih terlalu dini untuk memastikan. Namun, reaksi pasar minggu ini mengirimkan pesan yang jelas: investor tidak lagi melihat AI hanya sebagai “hype”, melainkan sebagai kekuatan disrupsi yang nyata yang bisa membalikkan nasib perusahaan-perusahaan mapan dalam sekejap.

