**Jakarta, IndFir.com** – Pada tahun 2011, Marc Andreessen, seorang legenda modal ventura Silicon Valley, menulis sebuah esai yang menjadi mantra bagi industri teknologi selama satu dekade terakhir: *”Software is eating the world”* (Perangkat lunak sedang memakan dunia). Prediksi itu terbukti benar. Perusahaan taksi digantikan oleh aplikasi, ritel fisik digantikan oleh e-commerce, dan hampir setiap aspek kehidupan kita kini dikelola oleh kode komputer.
Namun, di awal tahun 2026 ini, narasi tersebut mengalami pergeseran tektonik yang mengejutkan. Software tidak lagi menjadi predator puncak dalam rantai makanan teknologi. Kini, **Kecerdasan Buatan (AI) mulai memakan software itu sendiri.**
Kecemasan ini mengkristal dengan serangkaian perkembangan besar dalam beberapa minggu terakhir, terutama peluncuran agen AI otonom dari **Anthropic** yang diberi nama **Cowork**, serta kebangkitan fenomena open-source yang viral, **OpenClaw**. Kedua teknologi ini tidak hanya menawarkan cara baru untuk bekerja, tetapi juga mengancam fondasi bisnis perusahaan software tradisional (SaaS) yang selama ini tampak tak tergoyahkan.
### Anthropic Cowork: Bukan Sekadar Chatbot
Langkah terbaru Anthropic benar-benar mengguncang pasar. Jika sebelumnya kita terbiasa dengan AI generatif yang hanya bisa menjawab pertanyaan atau membuat teks, **Cowork** adalah binatang yang berbeda. Ia adalah agen otonom yang dirancang untuk *melakukan* pekerjaan, bukan sekadar membicarakannya.
Cowork memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mengeksekusi tugas multi-langkah (multi-step tasks) langsung di komputer pengguna. Bayangkan memiliki karyawan digital yang dapat Anda beri akses ke folder, file, dan aplikasi tertentu. Anda bisa memintanya untuk:
* “Rapikan dokumen-dokumen di folder Download dan kategorikan berdasarkan tanggal.”
* “Buat spreadsheet laporan keuangan dari tumpukan PDF faktur ini.”
* “Analisis data penjualan bulan lalu dan buatkan slide presentasi untuk rapat besok.”
Cowork tidak hanya memberikan instruksi; ia *melakukan* klik, mengetik, dan menavigasi antarmuka software layaknya manusia. Analis dari Barclays menyebut kemampuan ini lebih mendekati visi awal Microsoft tentang “Copilot”—sebuah rekan kerja digital sejati—namun dengan tingkat otonomi yang jauh lebih tinggi.
Lebih jauh lagi, Anthropic juga meluncurkan **plugin industri khusus** untuk Cowork. Plugin ini mengubah AI generalis ini menjadi spesialis di berbagai bidang seperti hukum, penjualan, keuangan, dan pemasaran. Dengan plugin ini, Cowork dapat terhubung langsung ke basis data internal perusahaan dan alat-alat spesifik, membuatnya siap kerja sejak hari pertama.
### Ancaman Eksistensial bagi Bisnis SaaS
Mengapa ini membuat perusahaan software ketakutan? Jawabannya terletak pada model bisnis mereka.
Selama bertahun-tahun, perusahaan Software-as-a-Service (SaaS) seperti Salesforce, Workday, atau ZoomInfo hidup dari menjual “kursi” (seats)—biaya berlangganan per pengguna. Semakin banyak karyawan yang Anda miliki, semakin banyak lisensi yang harus Anda beli.
Kehadiran agen AI seperti Cowork menghadirkan dua ancaman mematikan:
1. **Efisiensi Mengurangi Kursi:** Jika satu karyawan yang dibantu AI bisa melakukan pekerjaan tiga orang, perusahaan tidak perlu merekrut banyak staf. Artinya, pertumbuhan penjualan lisensi software akan melambat atau bahkan terhenti.
2. **AI Menggantikan Aplikasi:** Ini adalah ancaman yang lebih fundamental. Jika agen AI bisa melakukan tugas (misalnya, mengelola data pelanggan atau membuat laporan) secara mandiri, perusahaan mungkin tidak lagi membutuhkan aplikasi CRM atau software akuntansi yang mahal dan rumit. Mengapa harus membayar ribuan dolar untuk software yang kompleks jika Anda bisa menyuruh AI untuk “buatkan sistem CRM sederhana” yang sesuai dengan kebutuhan Anda?
CEO StackBlitz, Eric Simons, bahkan mengakui bahwa perusahaannya telah membuat agen AI internal untuk menangani tugas-tugas seperti intelijen bisnis dan coding, yang membuat banyak vendor SaaS eksternal menjadi “tidak lagi relevan”. Pasar saham bereaksi keras terhadap realitas baru ini, dengan saham-saham perusahaan software besar mengalami tekanan jual yang signifikan.
### Fenomena OpenClaw: Disrupsi dari Bawah
Jika Anthropic mewakili serangan dari laboratorium riset elit bernilai miliaran dolar, maka **OpenClaw** (sebelumnya dikenal sebagai Moltbot) adalah pemberontakan dari akar rumput.
OpenClaw adalah asisten AI open-source yang unik karena pendekatannya yang “messaging-first”. Alih-alih memaksa pengguna untuk login ke dashboard web baru, OpenClaw hidup di tempat pengguna menghabiskan sebagian besar waktunya: aplikasi pesan seperti WhatsApp, Slack, dan iMessage.
Menggunakan model bahasa canggih (termasuk Claude dari Anthropic), OpenClaw dapat mengingat konteks percakapan jangka panjang, secara proaktif mengingatkan pengguna, dan mengotomatisasi tugas melalui skrip dan browser. Yang membuatnya viral bukan hanya kecerdasannya, tetapi sifatnya yang gratis, transparan, dan dapat dikontrol penuh oleh pengguna.
Investor melihat OpenClaw sebagai sinyal berbahaya bagi pemain lama. OpenClaw membuktikan bahwa antarmuka masa depan bukanlah menu dan tombol di layar, melainkan **percakapan**. Pengguna tidak lagi ingin belajar cara menggunakan software; mereka hanya ingin mengatakan apa yang mereka butuhkan pada agen mereka.
OpenClaw juga memiliki “gateway” yang dapat merutekan tugas ke berbagai alat dan agen lain, sebuah fungsi orkestrasi yang kini sedang mati-matian dibangun oleh raksasa teknologi. Fakta bahwa solusi sekuat ini tersedia secara gratis dan open-source adalah mimpi buruk bagi model bisnis berbayar tertutup.
### Apa Artinya Bagi Kita?
Revolusi ini menandai transisi dari era “Information Age” ke “Agentic Age”. Di masa lalu, nilai tambah software adalah membantu kita mengelola informasi. Di masa depan, nilai tambah teknologi adalah **agensi**—kemampuan untuk bertindak dan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Bagi para profesional dan pebisnis, ini adalah panggilan untuk beradaptasi. Kemampuan teknis untuk mengoperasikan software mungkin akan menjadi kurang relevan dibandingkan kemampuan untuk melatih, mengarahkan, dan berkolaborasi dengan agen AI.
Sementara bagi perusahaan software, pilihannya brutal: beradaptasi dengan mengintegrasikan kapabilitas agen ke dalam produk mereka, atau bersiaplah untuk “dimakan” oleh gelombang inovasi AI yang tak terbendung ini. Seperti kata pepatah lama di dunia teknologi: berinovasi atau mati. Dan kali ini, “kematian” itu mungkin datang dalam bentuk asisten ramah yang menawarkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan Anda.
—
*Sumber: Business Insider, Analisis Pasar Tech 2026*

