Jakarta, IndFir – Gelombang kejutan baru saja menghantam sektor teknologi global pekan ini. Bukan karena kegagalan sistem, melainkan karena lompatan inovasi yang terlalu cepat dan mahal. Dua pemicu utama—peluncuran alat Claude Cowork oleh Anthropic dan rencana belanja infrastruktur AI senilai $600 miliar oleh Big Tech—telah membuat investor panik dan memicu aksi jual masif pada saham-saham perangkat lunak (software) enterprise.
Ancaman Baru: Claude Cowork
Pusat perhatian tertuju pada Anthropic, startup AI yang didukung Amazon dan Google. Mereka baru saja merilis Claude Cowork, sebuah asisten tempat kerja berbasis AI yang dirancang untuk mengambil alih tugas-tugas white-collar secara otonom.
Tidak seperti chatbot biasa, Claude Cowork terintegrasi langsung ke desktop, mampu mengelola file, menulis dokumen panjang, dan bahkan memiliki plugin khusus untuk sektor hukum, keuangan, dan pemasaran data.
Reaksi pasar brutal. Saham-saham perusahaan yang layanannya berpotensi digantikan oleh alat ini langsung anjlok:
- Thomson Reuters dan Legalzoom jatuh lebih dari 15%.
- Salesforce dan Workday, raksasa software enterprise, juga mengalami penurunan tajam.
- RELX (induk LexisNexis) ikut terseret.
Para analis menyebut ini sebagai momen “pemenang dan pecundang” yang nyata. Jim Reid, pakar strategi dari Deutsche Bank, mencatat dalam memo kliennya: “Pasar telah bergeser dari pola pikir ‘semua saham teknologi adalah pemenang’ menjadi lanskap yang jauh lebih brutal.”
Pertaruhan $600 Miliar
Di sisi lain, laporan dari Reuters menyoroti ketakutan investor terhadap skala pengeluaran infrastruktur. Perusahaan teknologi besar (Big Tech) diproyeksikan akan menghabiskan total $600 miliar pada tahun 2026 hanya untuk belanja modal AI (chip, data center, energi).
Angka fantastis ini memicu kekhawatiran tentang “AI Bubble”. Apakah investasi sebesar itu akan menghasilkan profit yang sepadan?
- Amazon memimpin penurunan dengan jatuhnya saham lebih dari 5% setelah mengumumkan perkiraan belanja yang mengejutkan investor.
- Kekhawatiran utama adalah bahwa margin keuntungan akan tergerus oleh biaya depresiasi infrastruktur sebelum pendapatan AI yang nyata masuk.
Apa Kata Para Ahli?
Vasant Dhar, profesor data science di NYU, menyebut layanan hukum dasar sebagai “buah yang rendah” untuk disrupsi AI. “Anda pergi ke pengacara dan mereka menagih ribuan dolar untuk dokumen standar. Review kontrak standar bukan hal besar bagi AI,” ujarnya kepada ABC News.
Namun, tidak semua pesimistis. Dan Ives dari Wedbush sekuritas menilai reaksi pasar berlebihan. “Anda tidak bisa begitu saja menjentikkan jari dan beralih ke model AI dalam skala perusahaan besar,” katanya, menekankan bahwa adopsi enterprise butuh waktu dan kepercayaan.
Kesimpulan
Februari 2026 menjadi titik balik. AI tidak lagi sekadar “hype” masa depan, tapi sudah menjadi ancaman nyata bagi model bisnis software tradisional (SaaS). Bagi investor dan pekerja profesional, pesan dari pasar jelas: beradaptasi atau tertinggal.
(Sumber: Reuters, ABC News)

