INDFIR.COM – Tahun 2026 menjadi titik balik sejarah dalam industri teknologi global. Empat raksasa teknologi terbesar di Amerika Serikat—Amazon, Microsoft, Alphabet (induk Google), dan Meta—diproyeksikan akan menghabiskan total belanja modal (Capex) yang mencengangkan: $650 miliar (sekitar Rp10.000 triliun) hanya dalam satu tahun. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah pertaruhan terbesar dalam sejarah korporasi modern demi memenangkan perlombaan kecerdasan buatan (AI).
“Perang Dingin” Infrastruktur AI
Laporan terbaru dari berbagai analis keuangan, termasuk data yang dikutip oleh Bloomberg dan CNBC hari ini (7/2/2026), menunjukkan bahwa “Big Tech” tidak berniat mengerem investasi mereka, meskipun investor di Wall Street mulai gelisah.
Fokus utama pengeluaran ini adalah pembangunan pusat data (data centers) raksasa, pembelian jutaan chip AI generasi terbaru, dan pengembangan infrastruktur energi untuk menyokong kebutuhan listrik yang masif.
Rincian Belanja Raksasa (Proyeksi 2026)
- Amazon: Memimpin dengan proyeksi belanja modal sekitar $200 miliar. CEO Andy Jassy menegaskan bahwa ini adalah investasi jangka panjang untuk mempertahankan dominasi AWS di era generatif AI.
- Alphabet (Google): Diperkirakan menghabiskan antara $175 miliar hingga $185 miliar. Konsekuensinya? Arus kas bebas (free cash flow) perusahaan diprediksi anjlok hingga 90% tahun ini, sebuah langkah berani yang membuat analis Pivotal Research menurunkan rating sahamnya.
- Meta: Mark Zuckerberg tidak mau kalah. Meta diproyeksikan menaikkan belanja modalnya hingga $135 miliar, naik 87% dibandingkan tahun sebelumnya. Fokusnya jelas: melatih model Llama generasi berikutnya dan infrastruktur Metaverse yang kini bertenaga AI.
- Microsoft: Satya Nadella melaporkan kenaikan belanja modal 66% di kuartal terakhir, dengan fokus total pada ekspansi Azure AI untuk mengakomodasi permintaan yang meledak.
Investor Mulai Cemas?
Meskipun ambisi ini terlihat visioner, pasar saham bereaksi dengan skeptis. Saham Microsoft tercatat turun 17% sepanjang tahun ini, sementara Amazon sempat anjlok 6% pada penutupan perdagangan Jumat lalu.
“Ini adalah permainan ‘siapa yang berkedip duluan’,” ujar Jim Reid, strategis dari Deutsche Bank. “Investor khawatir bahwa ratusan miliar dolar ini ‘dibakar’ tanpa jaminan profitabilitas yang jelas dalam jangka pendek.”
Dampak ke Dunia Nyata
Apa artinya bagi kita? Di tahun 2026, kita akan melihat percepatan luar biasa dalam kemampuan AI. Model bahasa akan menjadi jauh lebih cerdas, multimodal (bisa melihat, mendengar, dan bicara dengan lancar), dan terintegrasi ke dalam setiap perangkat lunak yang kita gunakan.
Namun, ada harga yang harus dibayar. Konsumsi energi pusat data ini setara dengan konsumsi listrik negara-negara kecil, memicu debat baru tentang dampak lingkungan dari revolusi AI.
Kesimpulan
Apakah $650 miliar ini akan menjadi fondasi masa depan digital atau gelembung yang siap pecah? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, Big Tech telah memilih jalan mereka: Go Big or Go Home.

