Kometa Antarkelompok 3I/ATLAS: Deteksi Methane Aneh oleh JWST
Jakarta — Kometa antarkelompok 3I/ATLAS, yang ditemukan pada 1 Juli 2025 oleh survey ATLAS di Hawaii, kembali menarik perhatian dunia setelah Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) mendeteksi pola outgassing methane yang tidak biasa. Deteksi ini menimbulkan pertanyaan tentang struktur internal komet dan asal usulnya yang mungkin berasal dari sistem bintang lain.
3I/ATLAS adalah objek antarkelompok ketiga yang pernah diamati melewati Tata Surya, setelah ‘Oumuamua (2017) dan 2I/Borisov (2019). Dengan inti diperkirakan berukuran 2,6 km, komet ini sekitar 40 kali lebih masif daripada Borisov. Gambar dari Hubble pada Desember 2025 mengungkap nucleus yang solid dan mengesankan.
Melihat komet yang berasal dari luar Tata Surya adalah peluang langka untuk mempelajari materi yang terbentuk di sekitar bintang lain, yang mungkin berusia miliaran tahun lebih tua dari Tata Surya kita.
Observasi JWST dengan Mid-Infrared Instrument (MIRI) pada 15–16 dan 27 Desember 2025, ketika komet berada pada jarak 2,20 dan 2,54 astronomical unit dari matahari, mendeteksi berbagai gas komet: uap air, karbon dioksida, emisi nikel, dan methane.
Produksi methane diukur sekitar 13,7% dari laju produksi air pada pengamatan pertama, lalu meningkat ke 27% pada pengamatan kedua — peningkatan signifikan dalam waktu kurang dari dua minggu. Ini mengindikasikan aktivitas yang berubah-ubah.
Hal aneh lainnya: sebelum perihelion, observasi (termasuk JWST dan SPHEREx pada Agustus 2025) hanya mendeteksi karbon monoksida tanpa methane. Methane sangat volatile; seharusnya menguap lebih awal dari CO. Temuan ini menunjukkan bahwa lapisan luar 3I/ATLAS mungkin telah kehilangan methane, dan es yang kaya methane terekspos ketika matahari mengikis permukaan lebih dalam selama pendekatan terdekat.
Total produksi gas juga menurun cepat, dengan aktivitas air melemah lebih cepat daripada volatil lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa komet bersifat kompleks dan berlapis, bukan bola salju sederhana.
Astrofisiwan Harvard, Avi Loeb, yang dikenal sebagai tokoh kontroversial, mencatat bahwa kombinasi inti masif, aktivitas asimetris, dan outgassing methane tertunda layak dipelajari lebih lanjut, meskipun tidak mengklaim bahwa 3I/ATLAS adalah kapal alien. Loeb menekankan bahwa asal teknologi (technological origins) harus dipertimbangkan selain model alamiah.
Sisi lain perdebatan diwakili oleh fisikus Brian Cox, yang menyebut komet ini sebagai objek alamiah sepenuhnya, terdiri dari COâ‚‚, es air, dan debu. NASA juga merilis pernyataan bahwa semua bukti serius menunjukkan 3I/ATLAS adalah komet antarkelompok, bukan kapal luar angkasa. Proyek Breakthrough Listen memindai komet untuk tanda teknis (seperti emisi radio) dan tidak menemukan apa-apa.
Media sosial memperparah spekulasi. Beberapa akun di X (Twitter) berargumen bahwa methane bisa jadi exhaust dari mesin methane-fueled, bahkan menempatkan peluang artificiality di angka 50%. Lainnya menekankan pada rasio CO₂/H₂O yang tinggi dan ekornya yang redup, mengklaim komet tidak terlihat seperti komet biasa — meski gambar Hubble menunjukkan coma dan ekor yang jelas.
Kisah asli justru lebih menarik dari fantasi alien probe. Anomali methane, interiors berlapis, nucleus oversize, dan campuran volatil yang aneh semua mengindikasikan bahwa 3I/ATLAS adalah sisa dari protoplanetary disc yang sangat berbeda, ‘frozen and flung’ ke luar angkasa jauh sebelum manusiaAda eksistensi.
Saat komet mulai menjauhi matahari, astronomer masih melacak aktivitasnya yang meredup. Komet mungkin tidak akan pernah menjawab pertanyaan yang paling diinginkan orang — ‘apakah mereka?’ — tetapi ia melakukan sesuatu yang lebih tenak dan lebih dalam: ia mengingatkan kita betapa sedikit kami telah sample keanehan galaksi.

