Jakarta, INDFIR.COM – Para astronom kembali dikejutkan oleh penemuan yang menantang pemahaman kita tentang alam semesta awal. Menggunakan teleskop radio canggih Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), tim peneliti internasional berhasil mendeteksi gas super-panas di sebuah gugus galaksi purba bernama SPT2349-56. Yang membuat penemuan ini istimewa adalah usia gugus galaksi tersebut: gas panas ini sudah terbentuk hanya 1,4 miliar tahun setelah Big Bang.
Menurut model kosmologi standar, pembentukan struktur raksasa seperti gugus galaksi seharusnya memakan waktu miliaran tahun untuk mencapai tahap “matang” di mana gas di antara galaksi (intracluster medium) menjadi sangat panas. Namun, SPT2349-56 menunjukkan bahwa proses ini bisa terjadi jauh lebih cepat dan lebih eksplosif daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Anomali Kosmik di Alam Semesta Dini
Gugus galaksi adalah struktur terbesar di alam semesta yang terikat oleh gravitasi, berisi ratusan hingga ribuan galaksi. Di alam semesta modern, ruang di antara galaksi-galaksi ini diisi oleh gas plasma yang sangat panas (mencapai jutaan derajat Celsius). Para ilmuwan sebelumnya meyakini bahwa panas ekstrem ini dihasilkan secara perlahan seiring dengan jatuhnya materi ke dalam gugus galaksi selama miliaran tahun.
Namun, penemuan di SPT2349-56 mematahkan asumsi tersebut. “Kami tidak menyangka akan melihat atmosfer gugus yang begitu panas sepagi ini dalam sejarah kosmik,” ujar Dazhi Zhou, peneliti utama dari studi ini, dilansir dari NRAO.
Peran Lubang Hitam Supermasif
Lantas, dari mana datangnya panas ekstrem ini? Para peneliti menduga bahwa aktivitas lubang hitam supermasif (supermassive black holes) dan pembentukan bintang yang sangat intens (starbursts) di dalam galaksi-galaksi anggota gugus tersebut menjadi pemicunya. Galaksi-galaksi di SPT2349-56 diketahui membentuk bintang ribuan kali lebih cepat daripada Bima Sakti kita.
Energi yang dilepaskan oleh jet dari lubang hitam dan angin dari bintang-bintang baru ini diperkirakan “memompa” panas ke gas di sekitarnya dengan sangat efisien. Hal ini menunjukkan bahwa masa muda gugus galaksi adalah periode yang jauh lebih “ganas” dan aktif daripada yang diprediksi model komputer sebelumnya.
Dampak Bagi Pemahaman Evolusi Galaksi
Penemuan ini, yang juga didukung oleh data dari Max Planck Institute, memaksa para astronom untuk merevisi jadwal evolusi alam semesta. Jika gugus galaksi bisa menjadi “matang” secepat ini, maka benih-benih pembentukannya mungkin sudah ada jauh lebih awal, tak lama setelah fajar kosmik menyingsing.
“SPT2349-56 mengubah semua yang kita pikir kita pahami,” tambah Scott Chapman, rekan penulis studi tersebut. Penemuan ini membuka pintu baru untuk memahami bagaimana struktur-struktur raksasa di alam semesta kita terbentuk dari sup primordial pasca-Big Bang menjadi jaring kosmik yang kompleks seperti yang kita lihat hari ini.
Studi lebih lanjut dengan teleskop masa depan, termasuk James Webb Space Telescope (JWST), diharapkan dapat mengungkap lebih banyak rahasia dari era misterius ini.

