Tuesday, February 24, 2026
HomeSainsJaringan Sensor Gempa Deteksi Puing Luar Angkasa Jatuh ke Bumi

Jaringan Sensor Gempa Deteksi Puing Luar Angkasa Jatuh ke Bumi

CALIFORNIA – Sebuah terobosan ilmiah baru memungkinkan para peneliti untuk melacak puing-puing luar angkasa (space debris) yang jatuh kembali ke Bumi menggunakan jaringan sensor gempa bumi. Metode inovatif ini, yang dikembangkan oleh tim geofisikawan internasional, berhasil mendeteksi dan memetakan jalur masuk kembali (re-entry) modul orbital Shenzhou-15 milik China dengan akurasi yang mengejutkan.

Dilansir dari Physics World, teknik ini memanfaatkan gelombang kejut sonik (sonic booms) yang dihasilkan saat objek antariksa menembus atmosfer Bumi dengan kecepatan supersonik. Gelombang ini menciptakan getaran yang cukup kuat untuk ditangkap oleh seismometer di permukaan tanah, alat yang biasanya digunakan untuk mendeteksi gempa bumi.

Memanfaatkan Data Seismik untuk Melacak Sampah Antariksa

Tim peneliti yang dipimpin oleh Benjamin Fernando dari Johns Hopkins University dan Constantinos Charalambous dari Imperial College London menggunakan data terbuka dari 125 stasiun seismik di Nevada dan California Selatan. Mereka menganalisis data saat modul Shenzhou-15, yang memiliki berat sekitar 1,5 ton, jatuh tak terkendali di atas wilayah Amerika Serikat pada April 2024.

“Masalahnya adalah kita tidak selalu tahu apa yang terjadi pada fragmen yang dihasilkan oleh puing-puing luar angkasa ini – apakah semuanya terbakar habis di atmosfer atau ada yang mencapai tanah,” ujar Fernando.

Dengan mengukur waktu kedatangan sinyal sonic boom* terbesar di berbagai stasiun, tim berhasil membuat peta kontur jalur puing-puing tersebut. Temuan mereka menunjukkan bahwa modul tersebut melintas sekitar 20-30 kilometer di selatan lintasan yang diprediksi oleh US Space Command, sebuah perbedaan signifikan yang menunjukkan keterbatasan metode pelacakan berbasis radar konvensional untuk objek yang sedang *re-entry.

Mengapa Ini Penting?

Pelacakan real-time yang akurat sangat krusial, terutama untuk puing-puing yang berpotensi berbahaya. Fernando mencontohkan insiden tahun 1996 ketika puing dari wahana Mars 96 milik Rusia jatuh. Awalnya diduga terbakar habis, namun belakangan ditemukan jejak plutonium buatan di gletser Chile, yang mengindikasikan sumber tenaga radioaktif wahana tersebut mungkin pecah dan mengkontaminasi area tersebut.

Metode seismik ini menawarkan solusi berbiaya rendah dan presisi tinggi karena memanfaatkan jaringan sensor yang sudah ada. Tidak perlu membangun infrastruktur baru; cukup dengan mengolah data dari ribuan sensor gempa yang tersebar di seluruh dunia.

Menuju Sistem Peringatan Otomatis

Saat ini, analisis data masih dilakukan secara manual setelah kejadian. Namun, para peneliti berharap dapat mengembangkan algoritma machine learning* yang mampu mendeteksi *sonic booms* secara otomatis begitu *re-entry diprediksi terjadi. Hal ini akan memungkinkan rekonstruksi lintasan objek dalam hitungan detik atau menit, memberikan peringatan dini bagi wilayah yang mungkin terdampak jatuhan puing.

“Ini adalah contoh sempurna bagaimana teknik yang kami sempurnakan untuk sains murni di planet lain (seperti Mars) dapat diterapkan untuk memecahkan masalah nyata yang menantang di Bumi,” tambah Fernando, merujuk pada pengalamannya menggunakan data dari misi InSight NASA di Mars.

Peningkatan populasi satelit dan peluncuran roket berarti frekuensi re-entry akan terus meningkat. Inovasi seperti ini menjadi kunci untuk manajemen lalu lintas luar angkasa (Space Traffic Management) yang lebih aman dan berkelanjutan di masa depan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments