INDFIR.COM – Sebuah penemuan mengejutkan dari Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) baru saja mengguncang dunia astronomi. Pengamatan terbaru terhadap sistem bintang yang jauh mengungkap bahwa empat exoplanet raksasa gas super-masif di sana ternyata memiliki kandungan belerang (sulfur) yang signifikan di atmosfernya.
Mengapa ini mengejutkan? Karena keberadaan sulfur adalah “sidik jari kimia” yang menunjukkan bahwa planet-planet raksasa ini terbentuk melalui proses akresi inti (core accretion)—metode “lambat dan bertahap” yang sama dengan pembentukan Jupiter di Tata Surya kita. Padahal, teori sebelumnya memprediksi bahwa planet sebesar dan sejauh ini seharusnya terbentuk lewat proses ketidakstabilan gravitasi yang jauh lebih cepat.
Dua Teori, Satu Pemenang
Dalam astrofisika, ada dua skenario utama bagaimana planet raksasa lahir:
- Core Accretion (Akresi Inti): Debu dan batuan berkumpul membentuk inti padat terlebih dahulu. Setelah inti cukup besar, gravitasinya mulai menarik gas di sekitarnya secara perlahan. Ini butuh jutaan tahun.
- Gravitational Instability (Ketidakstabilan Gravitasi): Piringan gas di sekitar bintang muda tiba-tiba runtuh karena gravitasinya sendiri, membentuk planet raksasa dalam waktu singkat. Ini biasanya terjadi pada planet yang sangat masif dan jauh dari bintang induknya.
Para astronom selama ini menduga bahwa raksasa gas super-masif di orbit luar (seperti yang diamati JWST ini) pasti terbentuk lewat cara kedua. Namun, data JWST berkata lain. “Deteksi sulfur menunjukkan bahwa planet-planet ini melahap banyak planetesimal (batuan antariksa) saat tumbuh, yang hanya mungkin terjadi jika mereka memiliki inti padat yang membangun dirinya secara perlahan,” ujar tim peneliti dilansir dari ScienceDaily.
Implikasi Besar bagi Sains
Temuan ini merombak pemahaman kita tentang batas kemampuan pembentukan planet. Ternyata, mekanisme “akresi inti” bisa bekerja pada skala yang jauh lebih ekstrem daripada yang diperkirakan sebelumnya.
“Ini seperti menemukan bahwa sebuah gedung pencakar langit dibangun dengan menyusun bata satu per satu, bukan dengan menuang beton sekaligus,” ungkap salah satu astronom. Penemuan ini dimungkinkan berkat sensitivitas luar biasa instrumen inframerah JWST yang mampu mengendus molekul kimiawi spesifik di atmosfer planet yang berjarak ratusan tahun cahaya.
Studi lebih lanjut akan dilakukan untuk melihat apakah pola “sulfur-rich” ini umum terjadi pada raksasa gas lain di alam semesta. Jika ya, maka sejarah pembentukan tata surya kita mungkin lebih universal daripada yang kita duga.
Sumber: ScienceDaily, NASA, JWST Findings.

