Tuesday, February 24, 2026
HomeData/AIRiset Epitome 2026: Tenaga Kerja Asia 'Reset' Strategi di Era AI, Skill...

Riset Epitome 2026: Tenaga Kerja Asia ‘Reset’ Strategi di Era AI, Skill Pengambilan Keputusan Jadi Sorotan

JAKARTA, INDFIR.COM* – Tiga tahun setelah ledakan generatif AI yang dipicu oleh peluncuran ChatGPT, lanskap ketenagakerjaan di Asia Pasifik mengalami pergeseran seismik. Laporan terbaru dari **Epitome Global bertajuk *”How Asia’s Workforce Is Resetting for the AI Era in 2026″ mengungkap fakta mengejutkan: di tengah masifnya adopsi teknologi, kemampuan manusia untuk mengambil keputusan justru menjadi hambatan utama.

Menurut laporan yang dirilis oleh HRTech Series*, sekitar 56% pekerja di Asia menilai kemampuan pengambilan keputusan (*decision-making) mereka masih berada di tingkat dasar. Padahal, di era di mana AI menyediakan data dan wawasan secara instan, kemampuan manusia untuk menavigasi ambiguitas dan mengambil keputusan strategis menjadi mata uang paling berharga.

Fenomena “The Great Reset”

Laporan Epitome Global menyebut tahun 2026 sebagai momen “reset” bagi tenaga kerja Asia. Jika tahun 2023-2025 adalah fase euforia dan eksperimen alat-alat AI, tahun ini menandai fase kedewasaan dan integrasi strategis.

“Kami melihat pergeseran fokus dari sekadar akses* ke teknologi menjadi *kapabilitas manusia,” ungkap analis dalam laporan tersebut. Tantangan terbesar bukan lagi menyediakan lisensi software AI premium kepada karyawan, melainkan memastikan mereka memiliki keberanian dan ketajaman kognitif untuk menggunakan output AI tersebut.

Kompleksitas tempat kerja yang didorong oleh AI telah menciptakan paradoks baru: semakin banyak data yang tersedia, semakin sulit keputusan diambil. Karyawan seringkali merasa kewalahan (overwhelmed*) oleh opsi yang disajikan algoritma, menyebabkan fenomena *analysis paralysis di berbagai level organisasi.

Kapabilitas vs. Jumlah Kepala

Temuan menarik lainnya adalah bahwa kapabilitas (capability*) kini muncul sebagai kendala utama pertumbuhan bisnis, melampaui masalah klasik seperti kurangnya jumlah karyawan (*headcount) atau akses teknologi.

Perusahaan-perusahaan di pusat ekonomi Asia seperti Singapura, Tokyo, dan Jakarta mulai menyadari bahwa menambah jumlah staf IT tidak lagi menjamin peningkatan produktivitas jika staf yang ada tidak mampu berkolaborasi efektif dengan agen AI.

Skill yang paling dicari di tahun 2026 bukan lagi sekadar coding* atau *data entry, melainkan:
1. Critical Decision Making: Kemampuan memilah rekomendasi AI.
2. AI Orchestration: Mengelola alur kerja antara manusia dan mesin.
3. Ethical Judgment: Memutuskan batas etis dari eksekusi otomatis.

Asia: Episentrum Perubahan

Asia Pasifik berada di posisi unik. Sebagai wilayah dengan adopsi teknologi seluler dan digital tercepat, tenaga kerja Asia sebenarnya lebih adaptif terhadap alat baru dibanding rekan mereka di Barat. Namun, budaya hirarkis di beberapa negara Asia seringkali menghambat pengambilan keputusan otonom di level staf—sesuatu yang justru sangat dituntut oleh cara kerja berbasis AI yang desentralis.

Epitome Global menyarankan perusahaan untuk melakukan “reset” pada struktur manajemen mereka. Pemberdayaan karyawan untuk mengambil keputusan berbasis data tanpa harus selalu menunggu persetujuan berjenjang menjadi kunci kecepatan di tahun 2026.

Apa Langkah Selanjutnya?

Bagi para profesional, pesan dari laporan ini jelas: asah kemampuan berpikir strategis Anda. AI bisa mengolah angka dan memprediksi tren, tapi AI (belum) bisa menanggung risiko keputusan bisnis. Nilai tambah manusia kini terletak pada accountability dan kebijaksanaan.

Seperti yang dilansir dari HRTech Series, kesenjangan antara potensi teknologi dan kesiapan manusia ini harus segera dijembatani melalui reskilling* yang fokus pada *soft skills tingkat tinggi, bukan hanya pelatihan teknis semata.

Era AI 2026 bukan tentang siapa yang memiliki robot tercanggih, tapi tentang siapa yang paling bijak memerintahnya.


Tags: Epitome Global Report, Tenaga Kerja Asia, AI Workforce 2026, Human Capital, Decision Making Skill, Future of Work, HR Tech Trends

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments