Jakarta, IndFir News – Selama ini, peran hutan dalam melawan perubahan iklim lebih sering dikaitkan dengan kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer. Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Science mengungkapkan bahwa hutan memiliki fungsi pendingin lain yang tak kalah krusial, bahkan mampu menurunkan suhu permukaan bumi secara signifikan.
Mekanisme Pendinginan Biofisik
Penelitian ini menyoroti apa yang disebut sebagai efek biofisik hutan. Selain sekadar menjadi “paru-paru dunia”, hutan bekerja seperti pendingin ruangan raksasa melalui beberapa mekanisme:
- Evapotranspirasi: Proses di mana pohon melepaskan uap air melalui daunnya. Saat air menguap, ia mengambil panas dari lingkungan sekitarnya, mirip dengan bagaimana keringat mendinginkan tubuh manusia.
- Aerosol Biogenik: Pohon melepaskan senyawa organik yang dapat membentuk aerosol. Partikel-partikel ini membantu pembentukan awan yang memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa, mencegahnya memanaskan permukaan bumi.
- Kekasaran Permukaan: Kanopi hutan yang tidak rata menciptakan turbulensi udara yang membantu membuang panas dari permukaan tanah ke atmosfer atas.
Dampak Nyata: Turun Hingga 4°C?
Tim peneliti menganalisis data satelit global dan menemukan bahwa di wilayah tropis seperti Indonesia, Brasil, dan Kongo, keberadaan hutan dapat menurunkan suhu permukaan lokal hingga 4 derajat Celcius dibandingkan dengan lahan terbuka atau pertanian di sekitarnya. Efek ini sangat vital untuk menjaga stabilitas iklim mikro yang mendukung pertanian dan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
“Kita sering meremehkan betapa panasnya dunia tanpa hutan,” ujar Prof. Deborah Lawrence, salah satu penulis studi tersebut. “Jika kita hanya menghitung karbon, kita kehilangan setengah dari gambaran utuh tentang bagaimana hutan melindungi iklim kita.”
Implikasi untuk Kebijakan Iklim
Temuan ini mendesak para pembuat kebijakan untuk tidak hanya fokus pada metrik emisi karbon semata. Pelestarian hutan tropis harus dilihat sebagai strategi adaptasi iklim yang mendesak, terutama dalam menghadapi gelombang panas (heatwave) yang semakin sering terjadi.
Deforestasi tidak hanya melepaskan karbon yang tersimpan, tetapi juga secara instan menghilangkan mesin pendingin alami ini, yang dapat menyebabkan lonjakan suhu lokal yang drastis dan memperparah kekeringan. Melindungi hutan yang tersisa bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan hidup di bumi yang semakin memanas.

