Para astronom baru saja mengumumkan penemuan yang menantang pemahaman kita tentang bagaimana tata surya terbentuk. Sebuah sistem planet yang baru ditemukan menunjukkan konfigurasi yang sangat tidak biasa, seolah-olah susunannya “terbalik” dari apa yang selama ini dianggap sebagai aturan baku dalam pembentukan sistem keplanetan.
Temuan ini, yang dipublikasikan pada pertengahan Februari 2026, menjadi sorotan utama komunitas astronomi global karena memutarbalikkan teori klasik yang telah dipegang selama beberapa dekade. Sistem ini menampilkan planet-planet gas raksasa yang berada di orbit sangat dekat dengan bintang induknya, sementara planet-planet batuan yang lebih kecil justru berada di bagian luar—sebuah anomali yang jarang sekali teramati dengan struktur seekstrem ini.
Anomali yang Mengguncang Teori Pembentukan Planet
Dalam model standar pembentukan tata surya, seperti sistem kita sendiri, planet-planet batuan (seperti Bumi dan Mars) terbentuk di bagian dalam yang lebih panas, dekat dengan bintang. Sementara itu, planet-planet gas raksasa (seperti Jupiter dan Saturnus) terbentuk di bagian luar yang lebih dingin, di mana es dan gas bisa berkondensasi dalam jumlah besar.
Namun, menurut laporan dari Space.com, sistem baru ini menunjukkan karakteristik “inside-out” atau terbalik. Para peneliti mengidentifikasi bahwa planet masif di sistem ini terbentuk atau bermigrasi ke posisi yang sangat dekat dengan bintang, mengacaukan materi pembentuk planet lainnya dan memaksa benda-benda langit yang lebih kecil untuk terbentuk di orbit yang jauh lebih luas.
Samantha Mathewson, penulis sains yang melaporkan temuan ini, mencatat bahwa konfigurasi ini “membalikkan salah satu aturan astronomi yang paling dapat diandalkan.” Keberadaan sistem semacam ini menunjukkan bahwa migrasi planet—pergerakan planet dari tempat kelahirannya ke posisi orbitnya saat ini—memainkan peran yang jauh lebih dramatis dan kaotis daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Peran Teleskop James Webb dalam Penemuan Ini
Penemuan ini tidak lepas dari kemampuan luar biasa Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST). Dengan kemampuannya menembus debu kosmik dan melihat dalam spektrum inframerah, JWST memungkinkan para astronom untuk mengintip ke dalam “pembibitan” planet yang sebelumnya tersembunyi.
Selain sistem “terbalik” ini, JWST juga baru-baru ini menemukan bahwa planet-planet raksasa yang mengembara sendirian (rogue planets) ternyata mampu membentuk sistem mini mereka sendiri tanpa kehadiran bintang induk. Temuan ini, yang dilaporkan pada pertengahan 2025, semakin memperkaya pemahaman kita bahwa alam semesta jauh lebih fleksibel dan kreatif dalam membentuk sistem keplanetan daripada yang dimodelkan oleh simulasi komputer kita.
Dalam kasus sistem “inside-out” ini, data spektroskopi dari JWST membantu mengonfirmasi komposisi atmosfer planet-planet tersebut, memberikan petunjuk krusial bahwa planet gas raksasa di bagian dalam memiliki jejak kimiawi yang menunjukkan mereka sebenarnya terbentuk di tempat yang jauh lebih dingin sebelum akhirnya bermigrasi ke dalam.
Dampak pada Pencarian Kehidupan di Luar Angkasa
Penemuan sistem dengan konfigurasi ekstrem seperti ini memiliki implikasi signifikan bagi pencarian kehidupan di luar angkasa (eksobiologi). Jika planet gas raksasa sering bermigrasi secara agresif ke bagian dalam sistem bintang, mereka dapat melontarkan planet-planet batuan yang berpotensi laik huni keluar dari zona layak huni (habitable zone), atau bahkan menendangnya keluar dari sistem sepenuhnya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan baru: seberapa umumkah tata surya yang “tenang” dan teratur seperti milik kita? Apakah ketenangan yang memungkinkan kehidupan berkembang di Bumi adalah aturan umum, atau justru sebuah pengecualian langka di tengah galaksi yang penuh dengan sistem planet yang dinamis dan keras?
Studi lanjutan sedang direncanakan untuk memetakan lebih banyak sistem serupa. Para astronom ingin mengetahui apakah sistem “terbalik” ini hanyalah kasus unik yang terisolasi atau mewakili populasi signifikan dari sistem bintang di Bima Sakti yang selama ini luput dari deteksi karena keterbatasan instrumen pengamatan sebelumnya.
Perspektif Baru tentang Planet Kesepian
Konteks penemuan ini juga dikaitkan dengan fenomena lain yang membingungkan para ilmuwan: planet-planet “hot Neptune” yang hilang. Sebuah studi terpisah yang juga diulas oleh Robert Lea di Space.com menunjukkan bahwa kekacauan orbital (orbital chaos) mungkin bertanggung jawab atas jarangnya ditemukan planet seukuran Neptunus di orbit dekat bintang.
Dalam sistem “inside-out” yang baru ditemukan ini, kekacauan gravitasi akibat migrasi planet gas raksasa mungkin telah membersihkan area tertentu dari sistem, menyisakan struktur yang tampak aneh bagi pengamat dari Bumi. Ini adalah pengingat bahwa pembentukan planet adalah proses yang penuh kekerasan dan kompetisi gravitasi, bukan sekadar perakitan materi yang damai.
Temuan sistem planet “terbalik” ini menambah daftar panjang kejutan yang diberikan alam semesta kepada kita di dekade 2020-an. Dari planet pengembara yang membentuk sistem sendiri hingga tata surya dengan susunan yang menyalahi aturan, kita sedang memasuki era keemasan baru dalam ilmu eksoplanet.
Bagi para astronom, ini berarti kembali ke papan tulis untuk merevisi model-model pembentukan planet. Bagi kita masyarakat awam, ini adalah pengingat yang menakjubkan akan keragaman dan keanehan kosmos tempat kita tinggal. Semakin jauh kita melihat, semakin banyak misteri yang menunggu untuk dipecahkan.
Referensi:

