Pasar kripto mengawali pekan ini dengan nada yang kurang optimis. Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, masih terlihat kesulitan untuk menembus level resistensi psikologis di $70.000. Pergerakan harga yang tertahan ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi makro global yang dipicu oleh kebijakan perdagangan terbaru dari Amerika Serikat.
Pada perdagangan sesi Asia hari Senin, Bitcoin terpantau bergerak fluktuatif di kisaran $68.000, sempat menyentuh level terendah $67.000 sebelum sedikit memantul. Para trader dan investor tampaknya mengambil sikap wait and see, menanti kejelasan lebih lanjut mengenai dampak kenaikan tarif global yang baru saja diumumkan oleh Presiden Donald Trump.
Dampak Tarif Global 15% Terhadap Aset Berisiko
Sentimen negatif yang menyelimuti pasar kripto tidak lepas dari kejutan kebijakan ekonomi di Washington. Presiden Trump, dalam langkah agresifnya, memutuskan untuk menaikkan tarif impor global menjadi 15 persen, naik dari sebelumnya 10 persen. Keputusan ini diambil meskipun ada putusan Mahkamah Agung yang menentang langkah-langkah darurat perdagangan sebelumnya.
Kebijakan proteksionis ini langsung memukul selera risiko (risk appetite) investor global. Aset-aset berisiko, termasuk saham teknologi dan mata uang kripto, mengalami tekanan jual karena kekhawatiran akan melambatnya perdagangan internasional dan potensi kenaikan inflasi. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung beralih ke aset safe haven tradisional seperti emas atau obligasi pemerintah, meninggalkan aset spekulatif seperti Bitcoin.
Shaurya Malwa dari CoinDesk melaporkan bahwa ketidakpastian tarif ini menjadi beban utama bagi aset risiko. Ethereum (ETH) dan Dogecoin (DOGE) juga ikut terseret turun, mencatatkan performa yang lebih lemah dibandingkan Bitcoin, yang menunjukkan bahwa aksi jual ini bersifat luas di seluruh sektor kripto.
Analisis Teknikal: Dinding Tebal di $70.000
Secara teknikal, level $70.000 telah berubah menjadi “dinding tebal” yang sulit ditembus oleh Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir. Setiap kali harga mendekati angka ini, tekanan jual (selling pressure) kembali muncul, memaksa harga untuk mundur kembali ke zona $60.000-an.
Analis pasar melihat pola ini sebagai tanda kelelahan (exhaustion) dari tren kenaikan sebelumnya. Indikator momentum seperti RSI (Relative Strength Index) menunjukkan divergensi bearish di grafik harian, yang mengindikasikan bahwa kekuatan pembeli mulai melemah. Jika Bitcoin gagal mempertahankan level support di $67.000, ada risiko koreksi lebih lanjut menuju area $64.000 atau bahkan $62.000.
Namun, tidak semua indikator bersifat negatif. Data on-chain menunjukkan bahwa para pemegang jangka panjang (long-term holders) masih enggan melepas koin mereka, yang memberikan dasar support yang cukup kuat. Pertarungan antara pembeli (bulls) dan penjual (bears) di zona ini akan sangat menentukan arah tren Bitcoin untuk bulan Maret mendatang.
Sentimen Pasar: “Bitcoin to Zero” Mencuat Kembali
Salah satu indikator sentimen yang menarik perhatian analis adalah lonjakan pencarian kata kunci “Bitcoin to zero” (Bitcoin menuju nol) di Google Trends, khususnya di wilayah Amerika Serikat. Secara historis, lonjakan pencarian frasa bernada putus asa ini sering kali menjadi sinyal contrarian—artinya, pasar mungkin sudah mendekati titik jenuh jual (bottom).
Ketika ketakutan ritel memuncak, sering kali itu adalah momen di mana “uang pintar” (smart money) mulai melakukan akumulasi. Laporan dari K33 Research bahkan menyebutkan bahwa struktur pasar saat ini mulai menggemakan kondisi akhir 2022, di mana pasar berada dalam fase kapitulasi sebelum akhirnya memulai reli pemulihan yang panjang.
Arus Keluar ETF dan Debut ETF Stablecoin
Di sisi institusional, arus dana melalui ETF Bitcoin Spot juga menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Setelah berbulan-bulan mencatatkan inflow yang masif, beberapa hari terakhir ini pasar ETF justru mencatatkan outflow bersih. Investor institusi tampaknya melakukan aksi ambil untung (profit taking) atau melakukan rebalancing portofolio mereka merespons volatilitas makroekonomi.
Di tengah kelesuan ini, ada berita menarik dari ProShares yang meluncurkan ETF berbasis stablecoin. Debut ETF ini mencatatkan volume $17 miliar yang mengejutkan, memicu spekulasi bahwa penerbit stablecoin besar seperti Circle mungkin memindahkan aset cadangan mereka. Meskipun data menunjukkan hal sebaliknya, besarnya minat terhadap produk ini menunjukkan bahwa likuiditas di pasar kripto sebenarnya masih sangat besar, hanya saja sedang “parkir” di aset yang lebih stabil menunggu momentum yang tepat.
Prospek ke Depan
Bagi para trader kripto di Indonesia, pekan ini akan menjadi ujian kesabaran. Volatilitas diprediksi akan tetap tinggi seiring pasar mencerna dampak penuh dari kebijakan tarif AS. Kunci utama yang perlu diperhatikan adalah level $67.000 sebagai benteng pertahanan terakhir bulls.
Meskipun sentimen jangka pendek terlihat mendung, fundamental Bitcoin sebagai aset yang tidak terkorasi langsung dengan kebijakan moneter bank sentral tetap menjadi daya tarik utamanya dalam jangka panjang. Koreksi saat ini bisa dilihat sebagai konsolidasi sehat sebelum pasar menentukan arah selanjutnya.
Referensi:

