Komunitas ilmiah global saat ini sedang menghadapi salah satu periode paling menantang dalam sejarah modern, sebuah fenomena yang oleh para ahli disebut sebagai “Rupture” atau perpecahan besar. Sebagai respons terhadap krisis ini, para pemimpin sains terkemuka dari berbagai disiplin ilmu kini menyerukan advokasi yang jauh lebih kuat dan terpadu untuk memastikan keberlanjutan riset fundamental dan perlindungan integritas akademik di seluruh dunia.
Laporan terbaru yang dirilis pada Februari 2026 merinci bagaimana ketegangan geopolitik, pemotongan anggaran nasional, dan skeptisisme publik telah menciptakan hambatan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi kemajuan ilmiah. Seruan untuk advokasi ini bukan sekadar permintaan dana tambahan, melainkan tuntutan untuk perubahan sistemik dalam cara sains dikomunikasikan dan didukung oleh para pengambil kebijakan.
Memahami Dampak ‘Rupture’ pada Penelitian Global
Istilah “Rupture” menggambarkan kondisi di mana jalur kolaborasi internasional tradisional mulai retak akibat perbedaan kebijakan antar-negara dan persaingan teknologi yang ketat. Menurut data dari Nature, investasi dalam proyek sains kolaboratif lintas batas menurun sebesar 20 persen dalam dua tahun terakhir, sebuah tren yang mengkhawatirkan bagi penelitian yang membutuhkan sumber daya global seperti perubahan iklim dan kesiapsiagaan pandemi.
Para pemimpin sains menekankan bahwa tanpa intervensi segera, kita berisiko memasuki era “siloisasi” sains, di mana setiap negara hanya fokus pada kepentingan sempit mereka sendiri. Hal ini tidak hanya akan memperlambat penemuan terobosan baru, tetapi juga meningkatkan biaya penelitian karena redundansi dan kurangnya pertukaran ide yang bebas di tingkat internasional.
Urgensi Advokasi di Tingkat Kebijakan
Advokasi sains di tahun 2026 telah bertransformasi menjadi tugas yang lebih politis namun tetap berbasis data. Ilmuwan kini tidak bisa lagi hanya berdiam diri di laboratorium; mereka harus aktif terlibat dalam dialog publik dan meyakinkan pemerintah bahwa setiap dolar yang diinvestasikan dalam sains dasar akan memberikan imbal balik berlipat ganda bagi ekonomi dan kesejahteraan sosial di masa depan.
Laporan dari Science menyoroti keberhasilan beberapa inisiatif advokasi di Eropa yang berhasil mengamankan dana hibah jangka panjang dengan membangun jembatan antara akademisi dan industri kreatif. Model ini membuktikan bahwa ketika manfaat sains dipresentasikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami, dukungan publik dan politik cenderung meningkat secara signifikan.
Membangun Kepercayaan Publik di Era Disinformasi
Salah satu pilar utama dari seruan advokasi baru ini adalah perang melawan disinformasi. Di tengah membanjirnya informasi palsu di platform digital, komunitas ilmiah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi sumber kebenaran yang dapat dipercaya. Hal ini memerlukan peningkatan literasi sains di masyarakat luas dan transparansi yang lebih besar dalam proses penelitian itu sendiri.
Banyak universitas top kini mulai memasukkan kursus komunikasi sains ke dalam kurikulum doktoral mereka. Tujuannya adalah melahirkan generasi peneliti baru yang tidak hanya mahir dalam metodologi teknis, tetapi juga cakap dalam menjelaskan relevansi pekerjaan mereka kepada khalayak awam melalui media sosial dan platform digital lainnya.
Dampak Terhadap Sektor Pendidikan dan Karier
Tantangan advokasi ini juga memengaruhi bagaimana karier ilmiah dibentuk di tahun 2026. Ada dorongan kuat untuk memberikan pengakuan lebih besar bagi para peneliti yang mendedikasikan waktu mereka untuk advokasi dan pengabdian masyarakat. Selama ini, kriteria kenaikan pangkat akademik seringkali hanya fokus pada jumlah publikasi jurnal, yang seringkali dianggap terlalu kaku dan tidak mencerminkan kontribusi sosial yang lebih luas.
Selain itu, diversitas dan inklusivitas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda advokasi. Komunitas ilmiah menyadari bahwa sains yang hebat membutuhkan perspektif dari berbagai latar belakang budaya dan gender. Memastikan bahwa pintu laboratorium terbuka lebar bagi semua talenta adalah langkah pertama yang paling penting untuk mengatasi krisis talenta yang menghantui banyak negara maju saat ini.
Pelajaran bagi Ekosistem Sains di Indonesia
Bagi Indonesia, seruan advokasi global ini memberikan momentum untuk memperkuat fondasi riset nasional. Di tengah upaya transformasi BRIN dan revitalisasi perguruan tinggi, Indonesia perlu membangun narasi yang kuat tentang bagaimana sains dapat menjadi solusi bagi masalah-masalah lokal seperti ketahanan pangan, energi terbarukan, dan mitigasi bencana alam.
Kolaborasi antara pemerintah dan ilmuwan harus didasarkan pada kepercayaan dan visi jangka panjang. Dengan belajar dari pengalaman “Rupture” global, Indonesia dapat menghindari jebakan birokrasi yang menghambat inovasi dan mulai membangun ekosistem sains yang lebih adaptif, kompetitif, dan berorientasi pada hasil nyata bagi masyarakat luas.
Secara keseluruhan, tantangan yang dihadapi dunia sains saat ini adalah panggilan untuk bangkit. Advokasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan hidup di abad ke-21. Dengan kepemimpinan yang berani dan komunikasi yang jujur, sains akan tetap menjadi mercusuar harapan yang memandu umat manusia menuju masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan.
Referensi:
- Nature – Science Leaders Call for Stronger Advocacy After Global Rupture
- Science – The Need for Enhanced Scientific Advocacy in 2026
- UNESCO – Strengthening Global Science Cooperation and Policy Advocacy
- Scientific American – Scientists as Advocates for Digital Truth

