*PBB menetapkan 11 Februari sebagai Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains untuk mengatasi kesenjangan gender dalam STEM dan mengakui kontribusi perempuan di bidang ilmiah.*
—
Setiap tahun pada 11 Februari, dunia merayakan Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains, sebuah inisiatif yang diluncurkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2015 untuk mengatasi kesenjangan gender yang masih bertahan dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Di tengah era digital dan revolusi teknologi yang sedang berlangsung, representasi perempuan dalam sains bukan hanya masalah keadilan sosial, tetapi juga kebutuhan strategis untuk kemajuan peradaban.
Realitas yang Memprihatinkan
Meskipun perempuan telah membuat kontribusi signifikan dalam sains selama berabad-abad, statistik terkini menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam STEM masih mengejutkan. Menurut laporan UNESCO, hanya sekitar 35% mahasiswa STEM di seluruh dunia adalah perempuan. Di bidang teknologi informasi, persentasenya bahkan lebih rendah: hanya 3% mahasiswa perempuan yang memilih bidang ini. Dalam kecerdasan buatan dan komputasi, angkanya mencapai 20% perempuan.
Laporan UNESCO 2022 juga mengungkapkan bahwa perempuan menyumbang hanya 28% dari tenaga kerja dalam teknik dan 40% dalam komputer dan sistem informasi. Lebih mengkhawatirkan lagi, perempuan mewakili hanya 22% dari tenaga kerja di bidang kecerdasan buatan. Dalam ranah akademik, hanya 33% peneliti di seluruh dunia adalah perempuan, dan hanya 12% anggota akademi sains nasional di dunia yang berasal dari gender ini.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka mewakili potensi yang terbuang, ide-ide yang tidak pernah terwujud, dan solusi-solusi yang mungkin dapat mengubah dunia jika ada lebih banyak perempuan yang terlibat dalam proses ilmiah.
Kontribusi yang Tak Ternilai
Sejarah telah membuktikan bahwa perempuan mampu membuat terobosan ilmiah yang mengubah peradaban. Marie Curie, ilmuwan pertama yang memenangkan dua Nobel Prize (Fisika 1903 dan Kimia 1911), tidak hanya menemukan polonium dan radium, tetapi juga memelopori radioterapi dalam pengobatan kanker. Penemuannya telah menyelamatkan jutaan nyawa dan membuka jalan bagi perawatan medis modern.
Ada Lovelace, putri Lord Byron, yang diakui sebagai programmer komputer pertama dalam sejarah. Pada 1840-an, ia menulis algoritma pertama yang dirancang untuk diproses oleh mesin, sebuah visi yang jauh melampaui zamannya. Hari ini, setiap baris kode yang ditulis oleh jutaan programmer di seluruh dunia memiliki akar dalam gagasan revolusioner Lovelace.
Rosalind Franklin, ahli kimia dan fisikawan Inggris, memainkan peran krusial dalam pemahaman struktur molekul DNA melalui teknik difraksi sinar-X. Fotografi “Photo 51”-nya menjadi kunci bagi James Watson dan Francis Crick dalam membangun model ganda heliks DNA, meskipun kontribusinya tidak mendapat pengakuan Nobel sewaktu ia masih hidup.
Katherine Johnson, ahli matematika Afrika-Amerika di NASA, menghitung lintasan penerbangan untuk misi Apollo 11 yang membawa manusia pertama ke bulan pada 1969. Perhitungannya yang sangat presisi sangat vital bagi keberhasilan misi bersejarah tersebut. Kontribusinya baru mendapat pengakuan luas setelah film “Hidden Figures” dirilis pada 2016.
Akar Masalah: Stereotype dan Hambatan Sistemik
Kesenjangan gender dalam STEM tidak terjadi secara kebetulan. Ia adalah hasil dari akumulasi berbagai faktor sosial, kultural, dan sistemik yang telah membentuk persepsi masyarakat selama berabad-abad.
Stereotip gender yang tertanam sejak kecil merupakan salah satu penghalang utama. Anak perempuan sering tidak didorong untuk mengejar minat mereka dalam matematika dan sains, karena asumsi bahwa bidang-bidang ini lebih cocok untuk laki-laki. Mainan yang ditawarkan untuk anak perempuan cenderung berkisar pada peran domestik dan kecantikan, sementara anak laki-laki diperkenalkan dengan permainan yang merangsang kemampuan spasial dan logika.
Dalam lingkungan pendidikan, guru dan penasihat akademik yang tidak sadar akan bias gender mungkin tidak mendorong siswi perempuan untuk mengambil kelas sains tingkat lanjut atau mengejar karir di bidang STEM. Penelitian menunjukkan bahwa bahkan ketika perempuan memiliki kemampuan dan minat yang sama, mereka kurang mungkin untuk menerima dorongan yang sama dibandingkan dengan teman laki-laki mereka.
Dunia kerja sains tidak bebas dari diskriminasi. Perempuan ilmuwan sering menghadapi prasangka bahwa mereka kurang kompeten atau kurang berdedikasi dibandingkan rekan laki-laki mereka. Mereka juga menghadapi dilema antara karir dan keluarga, karena budaya sains yang menuntut fleksibilitas waktu yang tinggi sering kali tidak kompatibel dengan peran perawatan yang masih sebagian besar dibebankan kepada perempuan.
Dampak dari Kurangnya Diversitas
Ketika perempuan dikecualikan dari sains, kita semua rugi. Penelitian telah menunjukkan bahwa tim yang lebih beragam menghasilkan inovasi yang lebih baik dan solusi yang lebih komprehensif. Beragam perspektif mengarah pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih beragam, yang pada gilirannya mengarah pada penemuan yang lebih beragam.
Contoh yang jelas dapat dilihat dalam pengembangan teknologi medis. Selama beberapa dekade, obat-obatan dan alat medis terutama diuji pada subjek laki-laki, dengan asumsi bahwa perempuan hanyalah versi kecil dari laki-laki. Pendekatan ini mengabaikan perbedaan biologis yang signifikan, menghasilkan perawatan yang kurang efektif atau bahkan berbahaya bagi perempuan. Baru dalam dua dekade terakhir komunitas medis mulai serius memasukkan perempuan dalam uji klinis dan mempertimbangkan bagaimana gender mempengaruhi kesehatan.
Dalam pengembangan kecerdasan buatan, kurangnya representasi perempuan dalam tim pengembangan mengarah pada bias algoritmik yang serius. Sistem rekrutmen AI telah terbukti mendiskriminasi pelamar perempuan, chatbot kesehatan telah memberikan nasihat yang kurang akurat untuk gejala penyakit jantung pada perempuan, dan asisten virtual secara default menggunakan suara perempuan yang mengkonfirmasi stereotip peran layanan perempuan.
Langkah Menuju Perubahan
Berbagai inisiatif telah diluncurkan untuk mengatasi kesenjangan ini. Di tingkat global, UNESCO dan UN Women bekerja sama untuk mempromosikan akses dan partisipasi perempuan dalam STEM. Program seperti “STEM and Gender Advancement” (SAGA) bertujuan untuk mengurangi kesenjangan gender di semua tingkat pendidikan dan penelitian sains.
Di negara-negara tertentu, pemerintah telah menerapkan kebijakan afirmatif untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam STEM. Beberapa universitas menawarkan beasiswa khusus untuk siswi perempuan yang mengejar gelar dalam bidang sains dan teknik. Perusahaan teknologi seperti Google, Microsoft, dan Apple telah meluncurkan program untuk merekrut dan mempertahankan lebih banyak talenta perempuan.
Di tingkat akar rumput, organisasi seperti Girls Who Code, Black Girls Code, dan Women in Science memberikan mentoring, pelatihan, dan dukungan komunitas untuk perempuan yang tertarik dalam STEM. Program-program ini tidak hanya menyediakan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan jejaring yang vital untuk kesuksesan karir.
Peran model peran juga sangat penting. Ketika perempuan muda melihat ilmuwan perempuan yang sukses, mereka lebih mungkin untuk percaya bahwa mereka juga bisa mencapai hal yang sama. Film “Hidden Figures”, serial dokumenter tentang perempuan ilmuwan, dan media sosial yang menonjolkan peneliti perempuan semuanya berkontribusi dalam mengubah persepsi tentang siapa yang bisa menjadi ilmuwan.
Tantangan Masa Depan
Meskipun kemajuan telah dicapai, banyak tantangan yang masih harus diatasi. Pandemi COVID-19 telah menunjukkan kerentanan perempuan dalam akademia. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan ilmuwan menerbitkan lebih sedikit makalah selama pandemi, karena beban tambahan perawatan keluarga dan pekerjaan rumah tangga yang jatuh pada bahu mereka.
Transformasi digital dan kemajuan AI juga membawa tantangan baru. Otomatisasi berpotensi menghilangkan pekerjaan di sektor-sektor yang secara tradisional mempekerjakan banyak perempuan, sementara menciptakan pekerjaan baru di sektor teknologi yang saat ini didominasi laki-laki. Tanpa intervensi yang disengaja, kesenjangan gender dalam digital economy bisa memburuk.
Climate change dan krisis lingkungan juga membutuhkan pendekatan ilmiah yang beragam. Perempuan di seluruh dunia, terutama di negara berkembang, sering menjadi pihak yang paling terdampak oleh perubahan iklim, namun memiliki representasi minimal dalam pembuatan kebijakan dan penelitian terkait climate science. Memasukkan perspektif gender dalam solusi krisis iklim bukan hanya masalah keadilan, tetapi efektivitas.
Membangun Masa Depan Inklusif
Jalan menuju kesetaraan gender dalam sains membutuhkan upaya multi-faset yang melibatkan semua pihak. Sekolah harus menantang stereotip gender sejak dini dan mendorong siswi perempuan untuk mengejar minat mereka dalam sains. Universitas harus menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan ilmuwan dengan mentoring yang efektif dan kebijakan yang mengakui tantangan unik yang mereka hadapi.
Perusahaan dan institusi penelitian harus mengimplementasikan praktik rekrutmen dan promosi yang bebas bias, serta menciptakan budaya kerja yang fleksibel dan inklusif. Pemerintah harus berinvestasi dalam pendidikan STEM yang dapat diakses oleh semua, terutama di daerah yang kurang terlayani dan di kalangan komunitas yang secara historis terpinggirkan.
Media memiliki peran krusial dalam mengubah persepsi publik dengan menampilkan ilmuwan perempuan secara lebih sering dan akurat. Cerita tentang pencapaian perempuan dalam sains harus diceritakan dengan cara yang menginspirasi generasi muda, bukan sebagai pengecualian dari norma, tetapi sebagai bagian integral dari kemajuan ilmiah.
Harapan untuk Generasi Mendatang
Masa depan sains adalah masa depan yang inklusif. Generasi muda perempuan hari ini tumbuh dalam dunia di mana mereka dapat melihat contoh perempuan yang memimpin misi ke Mars, mengembangkan vaksin yang menyelamatkan jutaan nyawa, dan menciptakan teknologi yang mengubah cara kita hidup.
Organisasi-organisasi seperti She Can STEM, Million Women Mentors, dan Girls in STEM bekerja tanpa lelah untuk memastikan bahwa setiap perempuan muda memiliki akses ke peluang dalam STEM. Program mentoring, kamp sains, dan kompetisi robotik membantu membangun kepercayaan diri dan keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses di bidang-bidang ini.
Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains bukan hanya hari perayaan, tetapi juga panggilan untuk aksi. Ini adalah pengingat bahwa keadilan gender dalam sains bukan hanya pilihan moral, tetapi kebutuhan praktis untuk menghadapi tantangan global abad ke-21.
Krisis kesehatan, perubahan iklim, kemiskinan, dan ketidaksetaraan semuanya membutuhkan solusi ilmiah yang inovatif dan komprehensif. Hanya dengan menghadirkan semua talenta, perspektif, dan kecerdasan ke dalam meja penelitian, kita dapat menemukan jawaban yang kita butuhkan untuk masa depan yang lebih baik.
Kesetaraan gender dalam sains bukan tentang mengorbankan kualitas demi kuantitas. Ia tentang menghapus hambatan yang mencegah setengah dari populasi dunia untuk berkontribusi penuh terhadap kemajuan ilmiah. Ia tentang menciptakan dunia di mana seorang perempuan muda dengan minat dalam fisika kuantum atau biologi molekuler tidak perlu bertanya apakah dia “tempat yang tepat” di dunia sains—karena jawabannya, tanpa keraguan, adalah ya.
Peradaban kita tidak mampu membuang potensi dari separuh populasi dunia. Sains membutuhkan semua kreator yang bisa didapatnya. Dan pada akhirnya, perjuangan untuk kesetaraan gender dalam sains bukan hanya tentang perempuan—tetapi tentang masa depan ilmu pengetahuan itu sendiri.
—
Referensi:
- PBB – International Day of Women and Girls in Science
- UNESCO – Women in Science
- Nature – Women in Science Collection

