Meta memangkas sekitar 8.000 posisi, melacak aktivitas komputer karyawan untuk melatih AI, dan mendorong obsesi AI agent yang bikin karyawan kehilangan arah. Ini kisah chaos dari dalam salah satu perusahaan tech terbesar dunia.
Karyawan Meta Sebut Kondisi Kantor “Miserable”
Meta sedang berada di tengah badai internal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut laporan New York Times pada Mei 2026, suasana di kantor Meta digambarkan sebagai “miserable” — sebuah kata yang jarang keluar dari mulut karyawan perusahaan sekelas itu.
Bukan tanpa alasan. Dalam memo internal yang diterbitkan Bloomberg, Chief People Officer Meta, Janelle Gale, mengonfirmasi bahwa perusahaan akan memangkas sekitar 10 persen dari total karyawan — yang berarti sekitar 8.000 orang akan kehilangan pekerjaan mereka. Meta juga menutup sekitar 6.000 posisi yang masih低開 (open roles).
“Kami melakukan ini sebagai bagian dari upaya terus-menerus untuk menjalankan perusahaan secara lebih efisien dan memungkinkan kami mengimbangi investasi lain yang kami lakukan,” tulis Gale dalam memo tersebut. “Ini bukan tradeoff yang mudah dan berarti kami harus melepas orang-orang yang telah memberikan kontribusi berarti bagi Meta.”
Karyawan yang terdampak akan dinotifikasi pada 20 Mei 2026 — meninggalkan hampir sebulan penuh dalam ketidakpastian. “Saya tahu ini membuat semua orang mengalami ambiguitas yang sangat meresahkan selama hampir satu bulan,” Gale mengakui dalam memo yang sama.
Ini bukan gelombang PHK pertama Meta. Pada 2023, perusahaan sudah melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran yang memengaruhi ribuan karyawan. Dan menurut Reuters, Meta bahkan sempat mempertimbangkan untuk memangkas 20 persen atau lebih dari total karyawan sebelum akhirnya “hanya” 10 persen yang dieksekusi.
Tracking Aktivitas Komputer untuk Training AI
Jika PHK massal saja belum cukup membuat suasana mencekam, Meta juga mengambil langkah yang memicu backlash internal hebat: melacak setiap aktivitas komputer karyawan untuk melatih model AI.
Menurut laporan Reuters yang dikonfirmasi The Verge, Meta memasang alat bernama Model Capability Initiative (MCI) di komputer seluruh karyawan berbasis di AS. Alat ini berjalan di aplikasi dan situs web terkait pekerjaan, merekam:
- Pergerakan mouse
- Klik
- Pengetikan (keystrokes)
- Screenshot berkala
Data dari MCI akan digunakan untuk melatih model AI Meta agar lebih baik dalam berinteraksi dengan komputer — termasuk mengotomasi tugas-tugas yang selama ini dikerjakan karyawan Meta sendiri.
“Jika kami membangun agent untuk membantu orang menyelesaikan tugas sehari-hari menggunakan komputer, model kami membutuhkan contoh nyata tentang bagaimana orang benar-benar menggunakannya — seperti pergerakan mouse, mengklik tombol, dan menavigasi dropdown menu,” ujar juru bicara Meta, Tracy Clayton, dalam pernyataannya kepada The Verge.
Clayton menambahkan bahwa ada “safeguard untuk melindungi konten sensitif” dan data tersebut “tidak digunakan untuk tujuan lain” — termasuk penilaian kinerja karyawan.
Tapi karyawan tidak percaya. Dalam memo internal dari CTO Meta, Andrew “Boz” Bosworth, yang dibagikan pada Senin, ia mengumumkan rencana peningkatan pengumpulan data internal untuk Agent Transformation Accelerator (ATA) — program akselerasi AI agent Meta.
“Visi yang kami bangun adalah satu di mana agent kami yang terutama melakukan pekerjaan dan peran kami adalah mengarahkan, meninjau, dan membantu mereka meningkat,” tulis Bosworth.
Reaksi internal? Brutal. Menurut newsletter Sources dari Alex Heath, terjadi “intense internal backlash” terhadap MCI. Salah satu karyawan membalas memo pengumuman dengan pertanyaan: “Ini membuat saya sangat tidak nyaman. Bagaimana cara opt-out?”
Jawaban Bosworth? “Tidak ada opsi untuk opt-out dari ini di laptop yang diberikan perusahaan.”
Tidak ada jalan keluar. Karyawan harus memilih antara privasi mereka atau pekerjaan mereka.
Obsesi AI Agent yang “Tak Terkendali”
Di tengah PHK massal dan surveillance, Meta juga mendorong obsesi AI agent yang menurut laporan internal sudah “tak terkendali.”
Perusahaan secara agresif mendorong karyawan untuk membangun AI agent sebanyak-banyaknya. Tapi situasi yang tercipta justru absurd: karyawan harus membuat “agent untuk menemukan agent, dan agent untuk menilai agent.”
Bayangkan: Anda sedang ketakutan kehilangan pekerjaan karena PHK 10 persen, komputer Anda dilacak untuk melatih AI yang mungkin menggantikan Anda, dan kemudian atasan Anda bilang “buat AI agent lebih banyak” — sambil tidak bisa opt-out dari surveillance.
Visi Bosworth tentang masa depan — di mana agent yang “terutama melakukan pekerjaan” dan manusia hanya “mengarahkan dan meninjau” — terdengar seperti skenario dystopia bagi karyawan yang merasa posisinya sudah terancam.
Investasi Meta di AI memang gila-gilaan. Perusahaan memproyeksikan belanja modal (capex) sebesar $115 miliar hingga $135 miliar di 2026 — naik drastis dari $72,22 miliar di 2025. Uang ini dialokasikan untuk “mendukung upaya Meta Superintelligence Labs dan bisnis inti,” termasuk membangun data center senilai lebih dari $1 miliar di Oklahoma.
Pertanyaannya: siapa yang membayar harga dari ambisi AI Zuckerberg ini? Jawabannya jelas — karyawan yang PHK, yang dilacak, dan yang kehilangan sense of purpose.
Banyak Karyawan Cari Jalan Keluar
Tidak mengherankan, banyak karyawan Meta yang mulai mencari jalan keluar.
Menurut laporan internal, sebagian karyawan sudah aktif mencari pekerjaan baru. Ada pula yang secara sengaja memberikan sinyal bahwa mereka ingin di-PHK — agar dapat pesangon (severance pay) dari perusahaan.
Meta, yang dulinya dianggap sebagai salah satu tempat kerja paling diinginkan di dunia (ingat slogan “Move Fast and Break Things”?), kini bukan lagi tempat yang dilihat sebagai “long-term career” oleh banyak karyawannya sendiri.
Perlu dicatat, ini terjadi setelah Meta sudah melakukan beberapa gelombang PHK sebelumnya — termasuk pemecatan ratusan karyawan di tim rekrutmen, media sosial, dan sales, serta pemangkasan sekitar 10 persen dari divisi Reality Labs.
Pelajaran untuk Industri Tech Global — dan Indonesia
Kasus Meta bukan sekadar drama internal perusahaan AS. Ini adalah peringatan keras untuk seluruh industri tech — termasuk di Indonesia.
Pertama, risiko memaksakan AI tanpa kultur organisasi yang siap. Meta menunjukkan bahwa mendorong transformasi AI secara agresif tanpa mempertimbangkan dampaknya pada manusia di balik layar akan menghasilkan backlash yang merusak moral, produktivitas, dan reputasi perusahaan.
Kedua, pentingnya transparansi saat adopsi AI di tempat kerja. Memasang alat surveillance di komputer karyawan tanpa opsi opt-out dan mengklaim itu “bukan untuk penilaian kinerja” — sementara karyawan tahu data itu digunakan untuk melatih AI yang bisa menggantikan mereka — adalah resep untuk kehancuran kepercayaan.
Ketiga, obsesi AI tanpa arah yang jelas itu berbahaya. Membuat “agent untuk menemukan agent” bukan inovasi — itu kekacauan. Perusahaan tech Indonesia yang mulai gencar adopsi AI perlu belajar dari kesalahan Meta: AI harus menjadi alat untuk meningkatkan kerja manusia, bukan pengganti yang dipaksakan tanpa strategi.
Zuckerberg mungkin punya visi tentang “superintelligence,” tapi tanpa karyawan yang termotivasi dan percaya pada perusahaan, visi itu hanya akan menjadi mimpi di siang bolong — dan Meta sedang membayarnya dengan harga yang sangat mahal.
Sumber: The Verge (Stevie Bonifield, Jay Peters), Reuters, Bloomberg, New York Times, Sources (Alex Heath). Meta spokesperson Tracy Clayton dan CTO Andrew Bosworth dikonfirmasi melalui pernyataan resmi.




