HomeEkonomiIHSG Anjlok ke 6.905: Saham Prajogo Pangestu Tercorek, Transportasi Pimpin Pelemahan

IHSG Anjlok ke 6.905: Saham Prajogo Pangestu Tercorek, Transportasi Pimpin Pelemahan

Date:

Related stories

Laba Kuartal I Dorong Pasar Saham ke Rekor Baru

Lonjakan laba perusahaan pada kuartal pertama tahun ini telah...

Danny Boyle Bidik Syuting Film Ketiga 28 Days Later 2027

Danny Boyle Bidik Syuting Film Ketiga 28 Days Later...

Status Nemesis Season 2 di Netflix: Tayang atau Batal?

Para penggemar serial Nemesis di Indonesia maupun penonton global...

Teleskop Webb Ungkap Detail Galaksi Spiral Terdekat

Teleskop Webb Ungkap Detail Galaksi Spiral Terdekat Badan Antariksa Amerika...
spot_imgspot_img

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,92 persen atau turun 63,73 poin ke level 6.905 pada perdagangan Senin (11/5/2026). Tekanan jual meluas di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan 10 dari 11 sektor berwarna merah. Nilai transaksi harian mencapai Rp 20,53 triliun dari 41,47 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,82 juta frekuensi transaksi.

Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi tekanan internal — terutama ambruknya saham-saham milik Prajogo Pangestu dan aksi jual masif di Bank Mandiri — serta sentimen negatif global dari perang Iran yang mendorong proyeksi kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB). Kapitalisasi pasar BEI tercatat di level Rp 12.308 triliun, dengan 521 saham menguat, 442 saham terkoreksi, dan 125 saham stagnan.

Saham Prajogo Pangestu Tercorek Bersama

Tiga emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu mengalami pelemahan signifikan dalam satu hari perdagangan. Barito Renewables Energy (BREN) anjlok 7,56 persen ke Rp 3.790, Chandra Asri Pacific (TPIA) merosot 8,18 persen ke Rp 5.050, dan Chandra Asri Asia (CUAN) turun 8,04 persen ke Rp 1.030.

Pola pelemahan simultan pada tiga emiten yang terkoneksi kepemilikan ini menarik perhatian pelaku pasar. BREN sendiri merupakan salah satu saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, sehingga penurunannya memberikan dampak tidak kecil terhadap pergerakan IHSG secara keseluruhan. Ketiga saham ini secara bersamaan mencatat nilai kerugian miliaran rupiah bagi investor yang memegang posisi.

Di luar grup Prajogo, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) tercatat sebagai top loser harian dengan pelemahan 13,36 persen ke Rp 1.135, melampaui penurunan saham-saham konglomerat batu bara tersebut. Pelemahan DSSA yang lebih dalam mengindikasikan tekanan jual yang juga menyasar emiten di luar kelompok Prajogo.

Bank Mandiri Drag Indeks

Bank Mandiri (BMRI) mencatat pelemahan tajam 8,21 persen ke Rp 4.250 dan menjadi saham paling laris dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,81 triliun. Sebagai salah satu saham berbobot besar di IHSG, penurunan BMRI memberikan tekanan langsung dan signifikan terhadap pergerakan indeks.

Volume transaksi yang tinggi pada BMRI mengindikasikan adanya aksi jual institusional yang masif. Posisi BMRI sebagai saham blue chip dengan bobot indeks yang besar berarti setiap pergerakan signifikan dampaknya terasa ke seluruh IHSG. Bumi Resources (BUMI) dan Timah (TINS) juga tercatat aktif dengan nilai transaksi masing-masing Rp 849 miliar dan Rp 820 miliar, namun tidak mampu menahan laju pelemahan indeks.

Pelaku pasar mencermati apakah pelemahan BMRI ini bersifat teknikal jangka pendek atau mencerminkan kekhawatiran fundamental yang lebih dalam terhadap prospek sektor perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sektor Transportasi Paling Tertekan

Sektor transportasi mencatat pelemahan terdalam di antara semua sektor BEI, turun 2,88 persen secara sektoral. Beberapa emiten logistik dan pelayaran menjadi korban tekanan jual yang meluas.

Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari (ELPI) anjlok 9,69 persen ke Rp 1.305, Samudera Indonesia (SMDR) turun 2,41 persen ke Rp 324, dan Pelayaran Jaya Hidup Abadi (PJHB) merosot 2,65 persen ke Rp 220.

Pelemahan di sektor transportasi sering dianggap sebagai canary in the coal mine — sinyal awal perlambatan aktivitas ekonomi riil. Pergerakan barang dan logistik menjadi cermin langsung dari kesehatan perdagangan domestik. Ketika emiten pelayaran dan logistik tertekan, ini bisa mengindikasikan berkurangnya volume perdagangan atau kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Tekanan Global: Perang Iran dan ECB

Di balik pelemahan domestik, sentimen global turut memberikan tekanan tidak kecil. Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali sepanjang tahun 2026 — pada Juni dan September — masing-masing sebesar seperempat poin. Proyeksi ini merupakan revisi dari perkiraan sebelumnya yang hanya menyebut satu kali kenaikan.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang Iran, telah mendorong kenaikan harga energi global. Konflik ini secara otomatis meningkatkan tekanan inflasi di Eropa, dengan proyeksi inflasi tahun 2026 naik dari 2,8 persen menjadi 2,9 persen. Wakil Presiden ECB Luis de Guindos menilai Selat Hormuz akan menjadi faktor kunci dalam keputusan kebijakan moneter bulan Juni, menyebut tingkat ketidakstandaran saat ini sangat brutal.

Kebijakan suku bunga yang lebih ketat dari ECB berpotensi memicu aliran keluar modal dari emerging market, termasuk Indonesia. Investor asing cenderung melakukan repatriasi dana ke instrumen yang lebih aman ketika suku bunga negara maju meningkat, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik.

Para analis juga menurunkan ekspektasi pertumbuhan zona euro untuk 2026 menjadi 0,8 persen dari 0,9 persen sebelumnya, mencerminkan prospek ekonomi global yang semakin tidak pasti.

Sisi Positif: Ada yang Hijau

Tidak semua saham berwarna merah. Beberapa emiten justru mencatat penguatan signifikan di tengah pelemahan bursa, memberikan secercah harapan bagi investor.

Ekamas Mora Republik (MORA) memimpin kenaikan dengan lonjakan 20 persen ke Rp 9.000, Kimia Farma (KAEF) menguat 12,6 persen ke Rp 715, dan Vale Indonesia (INCO) naik 11,06 persen ke Rp 6.025. Kenaikan INCO patut dicatat mengingat harga nikel global yang fluktuatif — penguatan ini bisa mencerminkan sentimen positif spesifik terhadap prospek operasional perusahaan.

Secara keseluruhan, breadth pasar menunjukkan 521 saham naik berbanding 442 saham turun dan 125 flat. Angka ini mengindikasikan bahwa meski IHSG tertekan, masih ada cukup banyak saham yang mampu bertahan atau bahkan menguat, menandakan bahwa tekanan jual belum bersifat panik meluas.

Bagi investor ritel Indonesia, dinamika hari ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi portofolio dan pencermatan perkembangan geopolitik serta kebijakan moneter global sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang.

Sumber:

  • katadata.co.id — Saham Prajogo (TPIA, CUAN, BREN) Ambruk Saat IHSG Melorot
  • katadata.co.id — Bank Sentral Eropa Diramal Kerek Suku Bunga Dua Kali Tahun Ini

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here