Steven Gerrard, salah satu gelandang terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris, kembali menjadi sorotan dunia futbol jelang dan selama gelaran Piala Dunia FIFA 2026. Legenda Liverpool yang kini berusia 46 tahun itu tidak hanya menarik perhatian lewat aksinya di laga amal legends di Korea Selatan, tetapi juga lewat prediksinya yang mengejutkan soal peraih Sepatu Emas turnamen akbar kali ini.
Prediksi Mengejutkan: Bukan Messi, Haaland, atau Mbappe
Saat Piala Dunia 2026 resmi dimulai pada 11 Juni 2026 lewat laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan di Stadion Kota Meksiko, seluruh dunia futbol langsung tertuju pada bursa prediksi peraih Golden Boot. Mayoritas pengamat menjagokan nama-nama besar seperti Kylian Mbappe dari Prancis yang merupakan juara bertahan, Harry Kane dari Inggris yang musim ini luar biasa produktif bersama Bayern Munchen, serta Erling Haaland dari Norwegia yang dikenal sebagai mesin gol Manchester City.
Namun, Steven Gerrard memilih arah berbeda. Melalui pernyataannya kepada media internasional, Gerrard justru menjagokan penyerang Argentina berusia 26 tahun, Julian Alvarez, untuk meraih Sepatu Emas Piala Dunia 2026. Pilihan yang bisa dibilang kontroversial mengingat Alvarez bukan menjadi sorotan utama seperti trio megabintang tersebut.
Alvarez, yang musim ini membela Atletico Madrid dengan 49 penampilan dan 20 gol di seluruh kompetisi, memang memiliki rekam jejak yang cukup mumpuni. Ia merupakan salah satu kunci kesuksesan Argentina merebut trofi Piala Dunia 2022 di Qatar dengan empat gol yang dicetaknya. Performanya bersama klub Spanyol tersebut juga menunjukkan konsistensi yang mengesankan sebagai striker modern yang mampu bermain ganda sebagai penyerang bayangan maupun target man.
“Alvarez adalah pemain yang sering kali terlupakan dalam perbincangan besar karena ia bermain di bawah bayangan Lionel Messi di timnas Argentina. Namun, kemampuannya untuk mencetak gol di momen-momen krusial tidak perlu diragukan lagi,” terang Gerrard sebagaimana dilansir berbagai media olahraga dunia pada 12 Juni 2026.
Aksi di Seoul: Gerrard Cetak Gol di Laga Legends
Hanya lima hari sebelum prediksinya mencuat, Gerrard juga menjadi buah bibir di Asia Timur. Pada 7 Juni 2026, mantan kapten Liverpool itu tampil dalam laga amal bertajuk “2026 Champions Impact” yang mempertemukan Barcelona Legends melawan The Reds FC — sebuah tim berisi para legenda Liverpool — di Seoul World Cup Stadium, Korea Selatan.
Pertandingan yang dihadiri hampir 37.000 penonton itu berakhir dengan kemenangan telak Barcelona Legends 8-3. Meski timnya dihajar, Gerrard sendiri berhasil mencetak satu gol di laga tersebut, membuktikan bahwa insting mencetak golnya belum sepenuhnya padam bahkan di usia yang seharusnya sudah jauh dari lapangan hijau.
Momen paling mengharukan dalam laga tersebut adalah pertemuan kembali Gerrard dengan Javier Mascherano, rekan satu timnya di Liverpool selama bertahun-tahun. Keduanya, yang kini sama-sama sudah pensiun, kembali menunjukkan chemistry di atas lapangan — Gerrard sebagai pengatur serangan dan Mascherano sebagai bek tengah yang masih tangguh. Kehadiran Sergio Busquets dan Jordi Alba yang membuat debut di Barcelona Legends juga menambah warna nostalgik dalam pertandingan yang sayangnya luput dari radar banyak fans Liverpool di seluruh dunia.
“Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Bisa bermain kembali di hadapan puluhan ribu penggemar di Seoul, bertemu rekan-rekan lama seperti Mascherano, dan tetap bisa menikmati permainan — ini adalah hadiah yang tidak ternilai,” ujar Gerrard usai pertandingan.
Dari Lapangan Hijau ke Ruang Pelatih
Prediksi Gerrard soal Alvarez tentu tidak bisa dilepaskan dari pemahamannya yang mendalam tentang dinamika sepak bola modern. Setelah gantung sepatu pada 2016, Gerrard langsung menapaki karier kepelatihan yang cukup bergelombang. Ia memulai dari akademi Liverpool, kemudian menukangi Rangers FC di Skotlandia yang berhasil mempersembahkan gelar Liga Utama Skotlandia 2020-2021 — mengakhiri dominasi Celtic selama satu dekade.
Petualangan kepelatihannya kemudian membawanya ke Aston Villa di Liga Utama Inggris, sebelum akhirnya kembali ke Liverpool dalam peran yang berbeda. Pemahamannya terhadap taktik, membaca permainan, dan mengidentifikasi potensi pemain muda menjadikannya salah satu suara yang paling dihormati di dunia futbol saat ini.
Ketika Gerrard mengatakan Alvarez akan menjadi raja gol di Piala Dunia 2026, pernyataannya memiliki bobot yang berbeda dari sekadar tebak-tebakan media sosial. Ia melihat apa yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang: seorang penyerang yang haus pembuktian, bermain di turnamen besar ketiga berturut-turut, dan memiliki motivasi ekstra setelah musim yang solid di Atletico Madrid.
Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian
Piala Dunia 2026 sendiri merupakan edisi bersejarah karena menjadi yang pertama dengan format 48 tim, diperluas dari 32 tim sebelumnya. Turnamen yang digelar di tiga negara — Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada — menjanjikan lebih banyak pertandingan dan lebih banyak peluang bagi para pencetak gol untuk menumpuk angka.
Bagi Alvarez, ini adalah kesempatan emas. Argentina, sebagai juara bertahan, pasti menjadi salah satu favorit. Dengan Messi yang kemungkinan besar masih tampil meski usianya sudah tidak muda, beban penciptaan peluang akan tetap ada, namun Alvarez memiliki kebebasan untuk fokus pada finishing — peran yang memang paling ia kuasai.
Prediksi Gerrard tentu bisa saja meleset. Mbappe masih memiliki kecepatan dan ketajaman yang membuatnya selalu berbahaya. Kane adalah mesin gol paling konsisten di Eropa selama beberapa tahun terakhir. Haaland membawa Norwegia yang bisa menjadi kuda hitam. Namun, satu hal yang pasti: ketika Steven Gerrard berbicara tentang sepak bola, seluruh dunia mendengarkan. Dan kali ini, ia memilih Julian Alvarez sebagai raja gol di musim panas 2026.
Apakah prediksi sang legenda akan terbukti? Kita tunggu hingga final di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli 2026 nanti. Yang jelas, Piala Dunia kali ini tidak hanya soal siapa yang mengangkat trofi, tetapi juga tentang kisah-kisah personal yang membuatnya begitu magis — termasuk keberanian seorang mantan gelandang asal Whiston, Merseyside, untuk melawan arus dan mengatakan bahwa bintang yang paling bersinar bukanlah nama yang paling sering disebut.




