HomeGeneralF-35 ke Turki: Trump Ngamuk Gegara Netanyahu Halangi Deal Jet Tempur

F-35 ke Turki: Trump Ngamuk Gegara Netanyahu Halangi Deal Jet Tempur

Date:

Related stories

Starlink Resmi Dukung Artemis III, Kirim Citra Bulan Cepat

Integrasi Jaringan Komersial dalam Misi Pendaratan Bulan Berawak Administrasi Penerbangan...

Promo Pixel 10a di T-Mobile, Hemat Hingga $800

Penawaran Spesial T-Mobile untuk Google Pixel 10a Operator seluler terkemuka...

Trailer ‘Everybody Digs Bill Evans’ Resmi Dirilis: Anders Danielsen Lie sebagai Bill Evans

Trailer Pertama "Everybody Digs Bill Evans" Resmi Dirilis Modern Films...

Meteorit yang Jatuh di New Jersey Mengandung ‘Kimia Dunia Alien’

Meteorit CM1/2 carbonaceous chondrite yang jatuh di New Jersey Juli 2024 mengandung molekul prebiotik dan cairan asin yang disebut para ilmuwan sebagai 'ki

Seberapa Volatil Saham AS di Luar Jam Bursa?

Pergerakan harga saham di bursa Amerika Serikat pada sesi...

Perdagangan jet tempur F-35 antara Amerika Serikat dan Turki kembali memicu gelombang ketegangan diplomatik yang melibatkan Israel. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan kemarahannya terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berusaha menggagalkan rencana penjualan jet tempur siluman tersebut. Di saat yang sama, dunia juga dikejutkan dengan insiden darurat jet F-16 Yunani yang mendarat paksa di bandara wisata Zakynthos. Kedua peristiwa ini menyoroti dinamika geopolitik militer yang tengah memanas.

Trump membuka peluang pengiriman lima unit jet tempur F-35 kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Langkah ini menandai perubahan drastis dalam kebijakan pertahanan AS terhadap Ankara, setelah Turki sempat diusir dari program F-35 pada 2019 akibat pembelian sistem pertahanan S-400 dari Rusia. Trump memuji loyalitas Turki terhadap Amerika Serikat dan menganggap penjualan jet tempur sebagai hadiah atas komitmen Ankara terhadap Washington.

Akar Konflik: S-400 Turki dan Pengusiran dari Program F-35

Turki sebenarnya merupakan mitra lama dalam program pengembangan jet tempur F-35 Lightning II. Ankara telah berkontribusi dalam produksi komponen pesawat dan memiliki rencana pembelian lebih dari 100 unit. Namun, segalanya berubah ketika Turki menerima pengiriman sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia pada Juli 2019.

Pentagon menilai sistem S-400 berpotensi membahayakan rahasia teknologi F-35. Jet tempur siluman ini dirancang dengan teknologi stealth yang sangat canggih, dan keberadaan S-400 di dekat pangkalan F-35 dikhawatirkan dapat membocorkan data radar pesawat. Akibatnya, Amerika Serikat secara sepihak mengeluarkan Turki dari program F-35 dan membekukan pengiriman unit yang sudah dipesan sebelumnya.

Sejak saat itu, hubungan militer AS-Turki berada dalam kondisi tegang. Ankara berulang kali menyatakan kekecewaannya atas keputusan Washington, sementara Turki tetap mempertahankan sistem S-400 sebagai bagian dari kebutuhan pertahanan nasional yang tidak bisa diganggu gugat.

Netanyahu Tolak Keras Rencana Penjualan F-35

Rencana Trump untuk menjual F-35 kepada Turki langsung mendapat penolakan keras dari Israel. Perdana Menteri Netanyahu menyatakan bahwa penjualan jet tempur siluman tersebut berpotensi menghancurkan keseimbangan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah. Israel menganggap F-35 sebagai keunggulan strategis yang tidak boleh dimiliki oleh negara mana pun yang memiliki hubungan erat dengan Moskow.

Netanyahu khawatir bahwa teknologi F-35 yang berada di tangan Turki, yang juga mengoperasikan sistem pertahanan Rusia, dapat bocor ke pihak Moskow. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar mengingat kedekatan Erdogan dengan Presiden Vladimir Putin dalam beberapa tahun terakhir di berbagai forum internasional.

Selain itu, Israel juga mempertimbangkan aspek keamanan nasionalnya sendiri. Jet tempur F-35 merupakan tulang punggung keunggulan udara Israel di kawasan tersebut. Jika Turki memperoleh pesawat yang sama, keseimbangan kekuatan udara di Mediterania Timur dan Timur Tengah akan berubah secara signifikan dan merugikan posisi Israel.

Trump Murka: Hubungan AS-Israel Memburuk

Respon Trump terhadap Netanyahu terbilang sangat keras. Presiden AS tersebut menolak permintaan Israel untuk membatalkan penjualan jet F-35 ke Turki. Penolakan ini menandai kemerosotan hubungan diplomatik antara kedua negara sekutu yang selama ini dikenal sebagai mitra strategis terdekat di panggung global.

Sumber di Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump memandang penjualan F-35 sebagai instrumen diplomasi untuk menjaga loyalitas Turki. Dalam kalkulasi politik Trump, Turki yang tetap berada dalam orbit Barat lebih menguntungkan bagi kepentingan AS dibandingkan Ankara yang semakin dekat dengan Moskow karena isolasi dari program pertahanan NATO.

Langkah Trump ini juga mencerminkan pendekatan transaksionalnya dalam kebijakan luar negeri. Berbeda dengan pemerintahan sebelumnya yang lebih mengedepankan pertimbangan aliansi tradisional, Trump lebih melihat setiap kesepakatan sebagai transaksi bilateral yang menguntungkan AS secara langsung tanpa memandang sejarah hubungan antar-sekutunya.

Insiden F-16 di Zakynthos: Sisi Lain Dunia Jet Tempur

Di saat diplomasi F-35 menjadi headline utama, insiden dramatis juga menimpa jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Yunani. Pesawat tersebut melakukan pendaratan darurat di bandara internasional Zakynthos, sebuah destinasi wisata populer di Kepulauan Ionian, Yunani.

Jet F-16 tersebut mendarat dalam kondisi darurat dan langsung terbakar hebat setelah menyentuh landasan. Pilot berhasil menyelamatkan diri dalam kondisi yang digambarkan sebagai keajaiban oleh sejumlah media internasional. Bandara Zakynthos yang merupakan hub wisata penting ditutup sementara untuk menangani insiden darurat tersebut.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa di tengah perdebatan geopolitik tentang jet tempur generasi kelima seperti F-35, jet tempur generasi keempat seperti F-16 masih menjadi tulang punggung operasi militer di banyak negara NATO. Yunani, yang juga merupakan anggota NATO, mengandalkan armada F-16 untuk pertahanan udara dan operasinya di wilayah Mediterania.

Implikasi bagi Aliansi NATO

Situasi saat ini menempatkan NATO dalam posisi yang rumit. Turki merupakan anggota NATO terbesar kedua dalam hal jumlah personel militer. Namun keputusan Ankara untuk mempertahankan S-400 dan rencana perolehan F-35 menciptakan paradoks dalam aliansi pertahanan Atlantik Utara tersebut.

Di sisi lain, Yunani juga merupakan anggota NATO dan memiliki hubungan yang secara historis tegang dengan Turki. Insiden F-16 di Zakynthos dan potensi Turki mendapatkan F-35 menjadi dua sisi mata uang yang menunjukkan kompleksitas dinamika militer di kawasan Mediterania.

Kementerian Pertahanan AS diperkirakan akan melanjutkan proses evaluasi penjualan F-35 ke Turki dalam beberapa bulan mendatang. Keputusan final akan mempertimbangkan tidak hanya faktor teknis, tetapi juga kalkulasi geopolitik yang melibatkan Rusia, Israel, dan dinamika internal NATO itu sendiri.

Perkembangan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh apakah Turki bersedia membuat kompromi terkait sistem S-400, serta seberapa jauh Trump bersedia menekan Netanyahu demi menyelesaikan kesepakatan ini. Yang jelas, pertarungan kepentingan di balik jet tempur generasi terbaru ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Referensi: Anadolu Ajansı, The Daily Beast, The Independent, video.kompas.com

Latest stories

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here