“`html
Sebastian Mallaby, jurnalis finansial dua kali finalis Pulitzer, merilis buku terbarunya “The Infinity Machine” yang mengisahkan perjalanan Demis Hassabis dan tim DeepMind dalam mengejar kecerdasan buatan super (superintelligence). Berdasarkan wawancara mendalam dengan lebih dari 100 orang insider industri AI, buku ini memetakan bagaimana sebuah laboratorium riset kecil di London berubah menjadi salah satu entitas paling berpengaruh dalam revolusi teknologi abad ke-21.
Dari AlphaGo ke AlphaFold: Mesin yang Memahami Ketakterbatasan
Gagasan inti buku Mallaby bermula dari dua pencapaian DeepMind yang mengubah paradigma. Pertama, AlphaGo — model AI yang pada 2016 mengalahkan juara dunia permainan Go, sebuah permainan dengan variasi langkah yang mencapai lebih dari 130 digit nol di belakang angka.
Kedua, AlphaFold — sistem yang mampu memecahkan masalah protein folding dengan ruang pencarian bahkan lebih besar dari Go. Kedua pencapaian ini, menurut Mallaby, memiliki kualitas yang sama: sistem AI yang secara harfiah mampu “memahami ketakterbatasan” atau infinity.
Konsep inilah yang kemudian menjadi judul buku — “The Infinity Machine.” Bagi Mallaby, kemampuan AI untuk menavigasi ruang pencarian yang nyaris tak terbatas merupakan lompatan fundamental dalam sejarah komputasi, jauh melampaui sekadar kemenangan dalam permainan papan atau prediksi struktur protein.
Genesis Buku: Keberuntungan di Atas Perencanaan
Mallaby mengungkapkan bahwa ide buku ini muncul saat ia menyelesaikan “The Power Law,” bukunya tentang venture capital yang terbit Februari 2022. Dalam berbagai konferensi teknologi di Eropa, ia secara konsisten bertemu Demis Hassabis — sosok yang tampak sangat ramah dan tidak mengintimidasi, namun saat naik panggung mampu berbicara dengan fasih tentang ilmu komputer, neurosains, kimia, biologi, fisika, filsafat, hingga sejarah sinema.
Kombinasi antara kemampuan intelektual luar biasa dan kepribadian yang approachable membuat Mallaby tertarik. Ia mempitch ide buku ke Hassabis pada awal November 2022 dan berhasil mendapatkan akses eksklusif. Ironisnya, di akhir November 2022 — hanya beberapa minggu kemudian — ChatGPT diluncurkan dan topik yang awalnya niche langsung menjadi perhatian global.
“Lebih baik beruntung daripada pintar,” ujar Mallaby bercanda. Proses penulisan sendiri memakan waktu sekitar empat tahun, durasi yang konsisten dengan buku-buku sebelumnya. Mallaby menekankan bahwa tantangan terbesar bukan pada riset mendalam, melainkan memastikan topik dan tokoh yang dipilih tepat — analogi yang ia samakan dengan cara investor venture capital memilih startup: tim A-plus di pasar C-plus tidak akan berhasil.
Aspek Religius dalam Dunia AI
Salah satu temuan paling menarik dalam buku ini adalah bagaimana terminologi keagamaan muncul secara natural di kalangan perintis AI. Mallaby mencatat bahwa karena superintelligence begitu sulit dipahami — sekaligus menakjubkan dan mengerikan — orang secara instingtif meraih kosakata religius untuk menjelaskannya.
Contoh paling mencolok datang dari Shane Legg, co-founder DeepMind. Dalam pidato 2009 yang kemudian menjadi fondasi pendirian DeepMind, Legg memprediksi superintelligence akan tiba pada 2030 — prediksi yang menurut Mallaby “luar biasa akurat.” Namun yang lebih menarik, saat seorang audiens bertanya bagaimana menghentikan ancaman AI, Legg justru tertawa kecil.
Mallaby menafsirkan reaksi ini sebagai refleksi bahwa bagi manusia, contemplated anihilasi sendiri terasa absurd — dan absurditas adalah sepupu dekat humor. Inilah pintu masuk mengapa bahasa religius menjadi tak terelakkan dalam diskusi AI.
Ilya Sutskever, mantan chief scientist OpenAI, memberikan ilustrasi lain. Dalam sebuah retreat bersama ilmuwan, Sutskever membuat boneka yang merepresentasikan AI berbahaya lalu membakarnya di api unggun — persis seperti pendeta abad pertengahan yang membakar penyihir. Demis Hassabis sendiri, saat berbincang dengan Mallaby di taman London Utara, menjelaskan bahwa membaca paper ilmiah pukul 22:00 hingga 04:00 dini hari baginya merupakan “misi spiritual” untuk memahami realitas dan, melalui pemahaman itu, mendekatkan diri pada apa yang ia sebut Tuhan.
Optimis vs Doomer: Posisi Mallaby
Soal perdebatan apakah AI akan membawa kelimpahan super atau kehancuran peradaban, Mallaby mengambil posisi tengah yang realistis. Ia percaya skenario kelimpahan super mungkin terwujud dalam 20 hingga 40 tahun ke depan, namun perjalanan menuju sana akan penuh disrupsi yang secara politik sangat sulit dinavigasi.
Sebagai lensa analitis, Mallaby menunjuk pada “China Shock” dalam perdagangan global. Antara 1999 dan 2011, sekitar dua juta pekerjaan di Amerika Serikat hilang akibat serbuan ekspor China. Meski jumlahnya relatif kecil dibanding total pasar kerja AS, reaksi politik yang dihasilkan — berupa gelombang proteksionisme di kedua partai politik — terbukti masif dan bertahan lama.
“Jika guncangan kecil hingga menengah saja bisa menghasilkan konsekuensi politik sebesar itu, maka dengan AI — yang guncangannya jauh lebih besar — reaksi politik yang akan muncul juga akan jauh lebih besar,” tegas Mallaby. Ia menambahkan bahwa polling beberapa bulan terakhir sudah menunjukkan tren tersebut.
Soal sisi “doomer,” Mallaby mengaku awalnya skeptis. Logikanya sederhana: mesin tidak memiliki DNA dan tidak memiliki dorongan evolusioner untuk bertahan hidup, jadi mengapa mereka akan menyerang manusia? Namun setelah mengunjungi Geoff Hinton — yang disebutnya sebagai “bapak akademik deep learning” — di Toronto, keyakinannya mulai bergeser.
Hinton mengajukan thought experiment yang membuat Mallaby berpikir ulang: jika ada AI yang sangat powerful namun Anda khawatir AI dari negara rival akan menyerang AI Anda, bagaimana Anda merespons? Logika pertahanan diri ala perang dingin ini, menurut Hinton, bisa memicu dinamika yang sangat berbahaya bahkan tanpa niat agresif dari mesin itu sendiri.
Implikasi Lebih Luas
“The Infinity Machine” bukan sekadar biografi teknologi. Buku ini menawarkan kerangka berpikir tentang bagaimana masyarakat manusia beradaptasi — atau gagal beradaptasi — dengan kekuatan yang secara fundamental melampaui kapasitas kognitif kita sendiri. Dari pidato Shane Legg yang hampir provokatif hingga ritual Sutskever di api unggun, dari ambisi spiritual Hassabis hingga kekhawatiran Hinton, Mallaby menunjukkan bahwa revolusi AI bukan hanya soal algoritma dan chip, melainkan juga soal bagaimana manusia memaknai eksistensi di hadapan sesuatu yang mungkin lebih cerdas dari dirinya.
Referensi
“`

