Studi Besar: Pengawet Makanan Berpotensi Tingkatkan Risiko Darah Tinggi dan Penyakit Jantung
Sebuah studi berskala besar yang melibatkan lebih dari 112.000 peserta menemukan hubungan antara konsumsi pengawet makanan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Penelitian yang dipublikasikan dalam European Heart Journal ini merupakan studi pertama yang mengevaluasi dampak berbagai jenis pengawet terhadap kesehatan jantung manusia secara komprehensif.
Studi NutriNet-Santé: Data dari 112.395 Peserta
Tim peneliti dari Sorbonne Paris Nord University dan Université Paris Cité menganalisis data dari studi kohort NutriNet-Santé yang memantau 112.395 peserta selama median 7,9 tahun. Analisis ini bertujuan menyelidiki hubungan antara asupan pengawet makanan dengan risiko berkembangnya hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
“Studi eksperimental menunjukkan bahwa beberapa aditif pengawet mungkin berbahaya bagi kesehatan kardiovaskular, tetapi kami belum memiliki cukup bukti mengenai dampak bahan-bahan ini pada manusia,” ungkap Anaïs Hasenböhler, peneliti doktoral yang memimpin studi tersebut dalam rilis pers. “Sejauh yang kami ketahui, ini adalah studi pertama yang menyelidiki hubungan antara berbagai jenis pengawet dan kesehatan kardiovaskular.”
Dua Kategori Pengawet yang Dianalisis
Para peneliti membagi pengawet menjadi dua kategori utama. Kategori pertama terdiri dari pengawet non-antioksidan seperti sorbat, nitrit, dan sulfit yang menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri. Kategori kedua adalah pengawet antioksidan termasuk asam askorbat, asam sitrat, dan eritorbat yang mencegah oksidasi dan perubahan warna pada makanan.
Menurut para peneliti, hampir setiap peserta (99,5 persen) mengonsumsi setidaknya satu jenis pengawet selama dua tahun pertama studi. Data ini menunjukkan betapa luasnya penggunaan pengawet dalam makanan olahan modern. Menurut Open Food Facts, database makanan terbuka terbesar di dunia, lebih dari 20 persen makanan dan minuman olahan mengandung setidaknya satu pengawet.
Hasil Utama: Peningkatan Risiko Signifikan
Analisis menunjukkan bahwa peserta dengan asupan tertinggi pengawet non-antioksidan memiliki risiko 29 persen lebih tinggi untuk mengembangkan hipertensi dibandingkan mereka dengan asupan terendah. Mereka juga memiliki risiko 16 persen lebih tinggi untuk penyakit kardiovaskular secara keseluruhan, termasuk serangan jantung, stroke, dan angina.
Peserta dengan asupan tertinggi pengawet antioksidan pun menunjukkan risiko hipertensi 22 persen lebih tinggi. Temuan ini menantang asumsi lama bahwa pengawet yang telah lama dianggap aman tidak memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan.
Delapan Pengawet Terkait Risiko Hipertensi
Para peneliti juga memeriksa 17 pengawet yang paling umum dikonsumsi secara individual. Dari jumlah tersebut, delapan di antaranya terkait dengan peningkatan risiko hipertensi:
- Potasium sorbat (E202)
- Potasium metabisulfit (E224)
- Natrium nitrit (E250)
- Asam askorbat (E300)
- Natrium askorbat (E301)
- Natrium eritorbat (E316)
- Asam sitrat (E330)
- Ekstrak rosemary (E392)
Dari kedelapan pengawet tersebut, asam askorbat juga terkait dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Temuan ini penting karena asam askorbat merupakan bentuk vitamin C yang umum digunakan sebagai antioksidan dalam makanan olahan.
Data Kasus Selama Follow-up
Selama periode follow-up, peneliti mencatat 5.544 kasus hipertensi dan 2.450 kasus penyakit kardiovaskular, termasuk 1.142 kejadian serebrovaskular dan 1.308 kasus penyakit arteri koroner. Angka-angka ini memberikan gambaran nyata tentang beban kesehatan yang terkait dengan konsumsi pengawet dalam skala populasi.
Studi ini juga menemukan bahwa sekitar 16 persen hubungan antara pengawet non-antioksidan dan penyakit kardiovaskular dimediasi secara tidak langsung melalui hipertensi. Dengan kata lain, temuan menunjukkan bahwa pengawet mungkin berkontribusi terhadap hipertensi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
Limitasi Studi
Para peneliti menekankan bahwa temuan ini berasal dari studi observasional dan tidak membangun hubungan kausal antara pengawet makanan dengan hipertensi atau penyakit kardiovaskular. Studi ini memiliki limitasi penting. Perempuan merupakan 78,7 persen dari peserta, dan kohort ini mencakup proporsi yang relatif tinggi dari individu dengan pendidikan tinggi, sehingga tidak sepenuhnya mewakili populasi umum.
Meskipun demikian, model statistik telah memperhitungkan berbagai faktor pengganggu potensial, dan hasilnya tetap konsisten di berbagai analisis sensitivitas. Ini menunjukkan bahwa temuan utama cukup kuat meskipun ada keterbatasan metodologis.
Seruan untuk Reevaluasi Regulasi
“Hasil ini menunjukkan bahwa kita perlu mengevaluasi ulang risiko dan manfaat aditif makanan ini oleh otoritas yang berwenang, seperti EFSA di Eropa dan FDA di Amerika Serikat, untuk perlindungan konsumen yang lebih baik,” kata Mathilde Touvier, direktur riset di French National Institute of Health and Medical Research dalam rilis pers. “Sementara itu, temuan ini mendukung rekomendasi yang ada untuk mengutamakan makanan non-olahan dan minimal olahan, serta menghindari aditif yang tidak perlu.”
Kemungkinan bahwa pengawet yang lama dianggap aman dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular menimbulkan pertanyaan penting tentang pendekatan regulasi saat ini. Untuk aditif yang dikonsumsi secara terus-menerus melalui berbagai makanan tanpa batas numerik pada penggunaannya, temuan ini menunjukkan bahwa mungkin sudah saatnya membuka kembali perdebatan apakah regulasi yang ada sudah memadai.
Bagi konsumen, pesan praktisnya jelas: kurangi ketergantungan pada makanan ultra-olahan dan periksa label kandungan dengan lebih cermat. Pilihan makanan segar dan minimal olahan tetap menjadi strategi terbaik untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

