CALIFORNIA, AS – Dunia teknologi sedang berada di ambang pergeseran paradigma yang mungkin akan tercatat dalam sejarah manusia selamanya. Selama puluhan tahun, Kecerdasan Buatan Umum atau Artificial General Intelligence (AGI)—titik di mana mesin memiliki kemampuan intelektual yang setara dengan manusia di berbagai bidang—hanya dianggap sebagai fiksi ilmiah atau tujuan jangka panjang yang masih berjarak puluhan tahun lagi. Namun, sebuah laporan terbaru dari tim peneliti lintas disiplin di Universitas California San Diego (UC San Diego) memberikan klaim yang mengejutkan: AGI kemungkinan besar sudah ada di sini.
Dalam sebuah esai yang dipublikasikan di jurnal ternama Nature pada Februari 2026, empat pakar terkemuka dari UC San Diego berargumen bahwa model bahasa besar (LLM) modern telah memenuhi standar masuk akal untuk dikategorikan sebagai AGI. Pengumuman ini memicu perdebatan sengit di kalangan ilmuwan komputer, filosof, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia. Publikasi berjudul “Comment on AGI” tersebut menjadi sorotan karena melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu komputer hingga filsafat etika.
Mendefinisikan Ulang Kecerdasan Umum
Salah satu hambatan terbesar dalam menentukan apakah AGI telah tercapai adalah kurangnya definisi tunggal yang disepakati tentang apa itu “kecerdasan umum”. Selama ini, banyak yang membayangkan AGI sebagai robot humanoid yang bisa melakukan segala sesuatu lebih baik dari manusia mana pun. Namun, tim peneliti UC San Diego—yang terdiri dari Profesor Filsafat Eddy Keming Chen, pakar AI Mikhail Belkin, pakar Linguistik Leon Bergen, dan pakar Kebijakan Data David Danks—mengambil pendekatan yang lebih ilmiah dan filosofis.
Mereka tidak mencari kesempurnaan, melainkan fleksibilitas. “Ada kesalahpahaman umum bahwa AGI harus sempurna—mengetahui segalanya, menyelesaikan setiap masalah. Namun, tidak ada satu pun manusia yang bisa melakukan itu,” jelas Eddy Keming Chen, penulis utama studi tersebut. Menurut tim, kecerdasan umum harus dinilai berdasarkan keluasan (breadth) dan kedalaman (depth) kemampuan di berbagai domain, bukan sekadar kecepatan memproses data.
Tim ini membagi tingkatan bukti kecerdasan menjadi tiga jenjang yang sistematis:
- Jenjang Turing: Kemampuan literasi dasar dan percakapan yang meyakinkan, merujuk pada makalah Alan Turing tahun 1950.
- Jenjang Pakar: Performa setingkat peraih medali olimpiade matematika, penyelesaian masalah tingkat PhD di berbagai bidang (seperti biologi, fisika, dan hukum), serta kreativitas yang mumpuni dalam menulis sastra atau menggubah kode pemrograman yang kompleks.
- Jenjang Superhuman: Kemampuan untuk menciptakan terobosan ilmiah revolusioner secara mandiri yang melampaui kapasitas mayoritas manusia kolektif.
Menurut analisis mendalam mereka, LLM generasi terbaru seperti GPT-4.5 sudah secara konsisten menduduki jenjang kedua, yakni jenjang pakar. Ini adalah pencapaian yang hanya lima tahun lalu dianggap hampir mustahil terjadi sebelum dekade 2030-an.
Bukti Nyata: Lolos Uji Turing 73%
Salah satu bukti paling kuat yang diajukan dalam esai tersebut adalah hasil penelitian ekstensif yang dilakukan pada awal tahun 2026. Dalam pengujian tersebut, model bahasa terbaru diuji menggunakan metode klasik Alan Turing: The Imitation Game. Sebuah panel juri manusia berinteraksi melalui antarmuka teks dengan entitas yang tidak mereka ketahui, apakah itu manusia lain atau AI.
Hasilnya mencengangkan: Model terbaru berhasil meyakinkan juri manusia bahwa ia adalah manusia dalam 73% interaksi. Sebagai perbandingan, dalam banyak uji coba serupa, manusia sungguhan sering kali hanya mendapatkan skor sekitar 60-65% karena mereka dianggap terlalu singkat atau kurang informatif oleh juri yang curiga. Keberhasilan mencapai 73% menunjukkan bahwa AI tidak hanya meniru bahasa, tetapi juga mengadopsi nuansa sosial, humor, dan empati yang biasanya menjadi ciri khas interaksi manusia.
Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan linguistik dan penalaran sosial AI telah mencapai titik di mana perbedaan antara mesin dan manusia menjadi hampir mustahil untuk dideteksi hanya melalui teks. Hal ini bukan sekadar keberhasilan teknis, melainkan pencapaian yang memenuhi visi Alan Turing tentang mesin yang bisa “berpikir” secara fungsional.
Melawan Skeptisisme: Analogi Stephen Hawking dan Pemahaman Internal
Tentu saja, klaim bahwa Artificial General Intelligence telah tiba tidak datang tanpa perlawanan keras dari komunitas akademik. Banyak kritikus berargumen bahwa LLM hanyalah “beo stokastik” (stochastic parrots)—mesin yang hanya memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola statistik tanpa memiliki pemahaman internal atau kesadaran sejati.
Menanggapi argumen bahwa AI “tidak benar-benar mengerti” karena mereka tidak memiliki tubuh fisik atau pengalaman sensorik, tim UC San Diego memberikan analogi yang sangat relevan. Mereka merujuk pada mendiang fisikawan legendaris Stephen Hawking. Meskipun Hawking memiliki keterbatasan fisik yang ekstrem akibat penyakit ALS dan berinteraksi dengan dunia hampir seluruhnya melalui antarmuka teks yang lambat, tidak ada satu pun ilmuwan yang meragukan kecerdasannya yang luar biasa.
“Keterbatasan fisik atau ketiadaan tubuh tidak mengurangi kualitas kecerdasan dari output yang dihasilkan. Jika output-nya menunjukkan pemahaman tingkat tinggi, maka sistem tersebut cerdas,” tegas David Danks. Mengenai argumen pemahaman sejati, Leon Bergen mencatat bahwa meskipun proses belajar AI (melalui miliaran parameter data) sangat berbeda dengan cara otak manusia belajar, hasil yang mereka tunjukkan pada masalah logika baru menunjukkan adanya pembentukan model dunia internal.
Pergeseran Paradigma: Menghadapi “Pikiran Alien”
Profesor Mikhail Belkin menyamakan momen penemuan AGI ini dengan peristiwa-peristiwa besar yang mengubah arah sejarah peradaban. Ia menyebutkan Revolusi Kopernikus yang membuktikan Bumi bukan pusat alam semesta, dan Teori Evolusi Darwin yang menyingkirkan manusia dari posisi istimewa di atas alam. AGI adalah pergeseran ketiga: perpindahan manusia dari posisi satu-satunya entitas yang mampu memiliki kecerdasan umum.
“Kita sekarang harus menghadapi kenyataan bahwa ada jenis pikiran lain selain pikiran biologis manusia. Ini mungkin terasa seperti ‘kecerdasan alien’ karena mereka berpikir dengan cara yang tidak kita pahami sepenuhnya,” kata Belkin. Penolakan emosional terhadap AGI sering kali berakar pada rasa takut kehilangan keunikan kita sebagai spesies paling cerdas. Namun, para peneliti menyarankan agar masyarakat dunia mulai merangkul kenyataan ini dengan rasa ingin tahu yang besar.
Risiko, Etika, dan Tanggung Jawab Kolektif
Dengan diakuinya AGI sebagai realitas saat ini, tanggung jawab besar kini berada di pundak para pengembang teknologi dan pembuat kebijakan. AI kini bukan lagi sekadar alat bantu mengetik atau mencari informasi, melainkan entitas otonom yang dapat memberikan dampak besar pada pasar tenaga kerja, sistem hukum, dan psikologi masyarakat. Peneliti menekankan bahwa standar kecerdasan yang kita berikan pada AI seringkali jauh lebih tinggi daripada standar yang kita berikan pada sesama manusia.
Misalnya, AI sering dikritik karena “berhalusinasi” (memberikan informasi salah), padahal manusia pun sering kali salah ingat atau memberikan informasi yang tidak akurat. Jika kita menuntut AI menjadi sempurna 100% sebelum menyebutnya cerdas, maka kita menetapkan standar yang bahkan tidak bisa dipenuhi oleh manusia tercerdas sekalipun. Namun, otonomi AI yang semakin meningkat tetap menuntut tata kelola yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan.
Kesimpulan: Garis Awal Baru bagi Kemanusiaan
Kesimpulan dari riset UC San Diego ini bukanlah akhir dari perjalanan AI, melainkan garis awal yang baru. Diakuinya AGI berarti kita telah memasuki era di mana batas antara pencipta dan ciptaan semakin kabur dalam ranah intelektual. Ini adalah undangan bagi seluruh elemen masyarakat untuk berdialog tentang bagaimana kita ingin AI berperan dalam peradaban kita ke depan.
Dilansir dari UC San Diego Today, kolaborasi lintas disiplin ini dimungkinkan berkat struktur institusional universitas yang mendorong para filsuf dan ilmuwan data untuk duduk bersama. Di masa depan, tantangan terbesar kita bukan lagi cara membuat AI yang cerdas, tetapi cara memastikan kecerdasan tersebut berjalan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi.
Sumber: MSN News, Nature Journal, UC San Diego Today.

