Lead: Krisis resistensi antibiotik global mendapatkan harapan baru. Ilmuwan di Universitas California San Diego berhasil mengembangkan teknologi berbasis CRISPR yang mampu menonaktifkan gen kebal obat pada bakteri dan menyebarkan kerentanan tersebut ke seluruh populasi bakteri.
Senjata Genetik Melawan “Superbug”
Resistensi antibiotik adalah salah satu ancaman kesehatan terbesar di abad ke-21. Bakteri berevolusi menjadi “superbug” yang kebal terhadap obat-obatan standar, diperkirakan akan menyebabkan kematian lebih dari 10 juta orang per tahun pada 2050 jika tidak ditangani. Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Communications (Npj Antimicrobials and Resistance) menawarkan solusi revolusioner: menggunakan genetika bakteri untuk melawan dirinya sendiri.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Ethan Bier dan Justin Meyer dari UC San Diego telah menciptakan alat genetika baru yang disebut Pro-Active Genetics (Pro-AG) atau pPro-MobV. Teknologi ini bekerja mirip dengan “gene drive” pada nyamuk, namun diterapkan pada bakteri. Alih-alih membunuh bakteri secara langsung, sistem ini menyisipkan kode genetik yang menghapus kemampuan bakteri untuk melawan antibiotik.
“Dengan teknologi berbasis CRISPR baru ini, kita bisa mengambil beberapa sel, melepaskannya, dan membiarkan mereka menetralkan resistensi antibiotik dalam populasi target yang besar,” ujar Ethan Bier.
Cara Kerja: Menyebar Seperti Virus
Keunikan sistem pPro-MobV terletak pada metode penyebarannya. Sistem ini memanfaatkan mekanisme alami bakteri yang disebut konjugasi—proses di mana bakteri mentransfer materi genetik melalui kontak langsung (sering disebut sebagai “perkawinan bakteri”).
Ketika bakteri yang membawa pPro-MobV bertemu dengan bakteri resisten, sistem ini menyalin dirinya ke dalam DNA bakteri target (plasmid) dan memotong gen resistensi obat. Hasilnya, bakteri yang tadinya kebal kembali menjadi rentan terhadap antibiotik standar.
Para peneliti juga mendemonstrasikan bahwa sistem ini efektif menembus biofilm—lapisan lendir bakteri yang sering ditemukan pada peralatan medis, implan, dan saluran pipa rumah sakit yang sangat sulit dibersihkan dengan disinfektan biasa. Kemampuan menembus pertahanan fisik ini menjadikan pPro-MobV kandidat kuat untuk sterilisasi lingkungan medis dan pengolahan limbah.
Harapan dan Keamanan
Meskipun menjanjikan, pelepasan agen genetik yang bisa menyebar sendiri ke lingkungan memicu pertanyaan etis dan keamanan. Tim UC San Diego telah mengantisipasi hal ini dengan merancang “sakelar pengaman” berbasis delesi homologi, yang memungkinkan kaset genetik tersebut dihapus dari populasi setelah tugasnya selesai.
Teknologi ini tidak hanya relevan untuk rumah sakit, tetapi juga untuk peternakan dan akuakultur, di mana penggunaan antibiotik berlebihan sering menjadi tempat berkembang biaknya bakteri resisten. Dengan mengembalikan sensitivitas bakteri terhadap obat-obatan lama, kita mungkin tidak perlu terus-menerus menciptakan antibiotik baru yang mahal dan langka.
“Teknologi ini adalah salah satu dari sedikit cara yang saya tahu yang secara aktif dapat membalikkan penyebaran gen resisten antibiotik, bukan sekadar memperlambatnya,” tambah Justin Meyer.
Source: Dilansir dari News-Medical, Npj Antimicrobials and Resistance, dan UC San Diego.
—
Artikel ini menyajikan perkembangan terbaru dalam bioteknologi medis. Resistensi antibiotik adalah masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan multifaset, mulai dari kebijakan penggunaan obat hingga inovasi genetika seperti CRISPR.

