California menghadapi tantangan fiskal yang signifikan setelah enam miliarder terkemuka memutuskan untuk meninggalkan negara bagian tersebut. Keputusan drastis ini diambil sebagai respons langsung terhadap rencana penerapan pajak kekayaan sebesar 5 persen yang sempat mengemuka. Eksodus para pemilik modal besar ini berpotensi menyebabkan kerugian pendapatan pajak yang sangat besar bagi pemerintah negara bagian, dengan estimasi kehilangan hingga 27 miliar dolar AS. Jika dikonversikan, angka tersebut setara dengan sekitar 400 triliun rupiah, sebuah jumlah yang cukup untuk mengguncang anggaran daerah.
Jumlah kerugian potensial tersebut mewakili hampir seperempat dari total target penerimaan pajak sebesar 100 miliar dolar AS yang awalnya diharapkan dari kebijakan tersebut. Rencana pajak ini memicu kepanikan di kalangan elit ekonomi sejak pertama kali diumumkan pada November tahun sebelumnya. Kebijakan yang diusulkan tersebut mencakup pungutan satu kali sebesar 5 persen terhadap kekayaan bersih warga California yang memiliki aset minimal 1 miliar dolar AS. Tenggat waktu penerapan kebijakan ini ditetapkan pada 1 Januari 2026, yang memicu perpindahan status kependudukan secara massal sebelum tanggal tersebut.
Deretan Tokoh Teknologi dan Bisnis yang Pindah
Keputusan untuk meninggalkan California tidak diambil secara ringan oleh para miliarder ini, mengingat negara bagian tersebut merupakan pusat industri teknologi global. Namun, beban pajak yang diusulkan dianggap terlalu memberatkan bagi kelangsungan investasi mereka. Pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, bersama dengan investor ventura ternama Peter Thiel, memilih untuk pindah ke Miami. Perubahan domisili ini menandakan pergeseran pusat gravitasi teknologi dari Pantai Barat ke Pantai Timur atau negara bagian dengan kebijakan pajak lebih ramah.
Selain tokoh di bidang teknologi, sektor bisnis lainnya juga terdampak. Pengusaha pembiayaan mobil Don Hankey tercatat pindah ke Las Vegas, sementara mantan CEO Uber, Travis Kalanick, dilaporkan telah pindah ke Texas pada Desember lalu. Bahkan di industri hiburan, sutradara legendaris Steven Spielberg tercatat menjadi penduduk New York sejak awal tahun, meskipun disebut telah lama berencana pindah untuk alasan kedekatan dengan keluarga. CEO Meta, Mark Zuckerberg, juga dilaporkan meninggalkan California, meskipun perpindahannya tidak tepat sebelum batas waktu yang ditentukan. Investor David Sacks turut memindahkan dirinya dan perusahaannya ke Austin.
Dampak Finansial bagi Anggaran Negara Bagian
Jika dihitung secara rinci, potensi pajak yang hilang dari kepergian para miliarder ini sangat besar dan sulit untuk ditutup dalam waktu singkat. Dari kekayaan Larry Page saja, California sebenarnya bisa memperoleh sekitar 13 miliar dolar AS. Sementara itu, kontribusi potensial dari Sergey Brin mencapai sekitar 12 miliar dolar AS. Gabungan miliarder lain seperti Thiel, Kalanick, dan Hankey menyumbang potensi sekitar 1,7 miliar dolar AS. Kehilangan sumber pendapatan ini memaksa pemerintah daerah untuk mengevaluasi kembali alokasi anggaran yang sebelumnya direncanakan.
Dana tersebut sebelumnya direncanakan untuk mendukung sektor vital seperti kesehatan, pendidikan, dan bantuan pangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Hilangnya seperempat potensi penerimaan pajak menjadi pukulan besar bagi rencana kebijakan ini. Pemerintah negara bagian kini dihadapkan pada dilema antara mempertahankan kebijakan pajak progresif atau menjaga iklim investasi agar para pemilik modal tetap tinggal. Keseimbangan ini menjadi kunci stabilitas ekonomi California di masa mendatang.
Perlawanan Politik dan Lobbying Intensif
Menanggapi rencana tersebut, Gubernur California, Gavin Newsom, justru menjadi salah satu penentang utama kebijakan ini. Ia berjanji akan menghentikan penerapan pajak tersebut demi melindungi industri teknologi dan perekonomian negara bagian secara keseluruhan. Sikap gubernur ini sejalan dengan keinginan para miliarder yang merasa kebijakan tersebut kontraproduktif. Sejumlah miliarder kini aktif melawan kebijakan tersebut, baik dari dalam maupun luar California, melalui berbagai saluran politik dan hukum.
Upaya perlawanan ini bahkan menjadi sinyal awal kemungkinan munculnya pajak kekayaan di negara bagian lain yang mungkin akan menghadapi nasib serupa. Sergey Brin dilaporkan menyumbang 20 juta dolar AS untuk kelompok Building a Better California, yang menawarkan insentif kepada warga agar mendukung proposal tandingan. Selain itu, dua komite aksi politik, Stop the Squeeze dan Golden State Promise, juga dibentuk khusus untuk menggagalkan kebijakan pajak tersebut. Mobilisasi dana dan pengaruh politik ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dirasakan oleh kalangan korporasi.
Fenomena Domino dan Isu Ketimpangan
Fenomena migrasi miliarder ini juga memicu efek domino di negara bagian lain. Rhode Island mengusulkan kenaikan pajak bagi jutawan, sementara Washington telah menyetujui pajak 9,9 persen untuk pendapatan di atas 1 juta dolar AS per tahun. Hal ini menunjukkan tren nasional di mana pemerintah daerah berusaha meningkatkan pendapatan dari kelompok berpenghasilan sangat tinggi, namun sering kali menghadapi resistensi keras berupa migrasi modal.
Di sisi lain, isu ketimpangan pajak menjadi sorotan utama bagi para legislator yang mendukung kebijakan tersebut. Anggota legislatif dari Seattle, Brianna Thomas, menyoroti ketimpangan pajak yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, masyarakat memiliki lebih banyak jutawan dan miliarder daripada sebelumnya, tetapi mereka secara efektif hanya membayar pajak 4 persen. Sementara pekerja biasa membayar sekitar 11 persen dari pendapatan mereka, dan kelompok berpenghasilan rendah bahkan hingga 14 persen.
Pertanyaan mendasar mengenai keadilan sistem pajak pun muncul ke permukaan. Tidak adil jika yang memiliki paling banyak justru membayar paling sedikit dalam persentase pendapatan mereka. Namun, realitas ekonomi menunjukkan bahwa mobilitas modal sangat tinggi. Jika tekanan pajak terlalu tinggi, aset dapat dengan mudah dipindahkan ke yurisdiksi yang lebih menguntungkan. Hal ini menciptakan dinamika kompleks antara kebutuhan pendapatan negara dan daya saing wilayah dalam menarik investasi.




