Peter Jackson Terima Palme d’Or Kehormatan dari Elijah Wood di Pembukaan Cannes 2026: “Saya Bukan Tipe Palme”
Upacara pembukaan Festival Film Cannes ke-79 berlangsung meriah — Peter Jackson dan Elijah Wood reunion, Jane Fonda dan Gong Li buka festival bersama, dan Hollywood nyaris absen dari Palais.
Palais des Festivals, Cannes — Festival Film Cannes ke-79 resmi dibuka Selasa malam (13/5/2026) dengan upacara yang emosional dan penuh kejutan. Momen paling mengharukan datang ketika sutradara legendaris Selandia Baru, Peter Jackson, menerima Palme d’Or Kehormatan dari tangan Elijah Wood — aktor yang membawanya ke puncak dunia melalui peran Frodo Baggins dalam trilogi The Lord of the Rings.
“Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang biasanya dapat Palme,” canda Jackson di hadapan Grand Lumiére Theatre yang penuh sesak. Tapi Cannes membuatnya menjadi salah satu malam itu.
Reunion Frodo dan Sutradaranya: “Hidup Saya Terbagi Sebelum dan Sesudah”
Elijah Wood tampil sebagai pembawa trofi kehormatan tersebut, dan pidatonya membuat suasana semakin emosional. Ia mengenang telepon yang mengubah hidupnya saat mendapat peran Frodo.
“Saya duduk di lantai kamar tidur saya dan tahu bahwa hidup saya telah terbagi menjadi sebelum dan sesudah,” ujar Wood sambil tersenyum kepada hadirin.
Ia melanjutkan, “Peter tumbuh besar di negara yang saat itu hampir tidak memiliki industri film sama sekali. Tapi dalam gaya khas Pete, itu tidak akan menahannya. Ketika saya baru berusia 18 tahun, The Lord of the Rings bukan hanya awal dari perjalanan Frodo, tapi awal dari perjalanan saya sendiri.”
Jackson, yang memulai kariernya dengan film horor komedi Bad Taste pada 1987, menceritakan bagaimana ia membuat film tersebut selama empat tahun di akhir pekan sambil bekerja sebagai photo engraver di Selandia Baru.
“Jika film itu tidak laku di pasar Cannes waktu itu, saya akan kembali ke pekerjaan saya sebagai photo engraver. Untungnya, film itu laku dengan sangat baik. Itulah yang memulai karier saya,” kenang Jackson.
Gambler Cannes 2001 yang Mengubah Segalanya
Jackson juga menceritakan momen krusial pada 2001, ketika ia membawa 20 menit cuplikan The Lord of the Rings ke Cannes — saat Warner Bros sedang dalam proses penjualan dan trilogi tersebut mendapat sorotan negatif dari pers.
“Apa yang pergi, kembali lagi,” lelucon Jackson yang merujuk pada penjualan Warner Bros ke Paramount Skydance milik David Ellison, disambut tawa hadirin.
“Kami membawa 20 menit ke sini pada 2001 dan melakukan wawancara di sebuah kastil di atas bukit. Taruhan itu mengubah persepsi film. Ketika Fellowship of the Ring rilis pada Desember, ada antisipasi yang tidak akan terjadi kalau bukan karena Cannes.”
Trilogi The Lord of the Rings pada akhirnya meraih 17 Piala Oscar — sebuah pencapaian yang belum ada duanya untuk sebuah trilogi film fantasi.
Stand-by dengan Standing Ovation Dua Kali
Setelah pidato Jackson, seluruh hadirin memberikan standing ovation yang panjang. Tapi malam itu belum selesai.
Pembawa acara gala, Eye Haïdara, meminta Jackson tetap di tengah panggung untuk kejutan khusus. Setelah klip dokumenter Beatles karya Jackson diputar di layar besar, penyanyi Prancis-Kongo Theodora dan penyanyi-penulis lagu Prancis Oklou tampil membawakan lagu “Get Back” — versi yang begitu mengguncang hingga Jackson ikut bergoyang, bertepuk tangan, dan bernyanyi mengikuti lirik, begitu pula anggota juri Demi Moore.
Jane Fonda dan Gong Li: “Dari Barat dan Timur, Bersama di Cannes”
Untuk pertama kalinya, pembukaan Cannes tahun ini dideklarasikan bukan oleh satu presenter, melainkan duet: Jane Fonda dan Gong Li.
“Jane datang dari Barat. Dan saya datang dari Timur. Malam ini kami berdiri bersama di sini. Inilah keajaiban Festival Film Cannes,” ujar Gong Li.
Ia menambahkan, “Sinema melampaui bahasa, budaya, dan generasi. Sinema berbicara tentang apa yang kita semua bagi — emosi manusia. Sinema memungkinkan kita bertemu dan terhubung. Inilah kekuatan film.”
Fonda kemudian mengambil alih panggung dengan pesan yang menyentuh lanskap politik dan sosial yang sedang retak. “Saya percaya pada kekuatan suara. Suara di layar, suara di balik layar, dan pastinya suara di jalanan — terutama sekarang. Sinema selalu menjadi tindakan perlawanan karena kami menceritakan kisah-kisah, dan kisah-kisah itulah yang membuat peradaban.”
“Mari kita rayakan keberanian, kebebasan, dan tindakan penciptaan yang garang,” pungkas Fonda.
Red Carpet Penuh Bintang — Tapi Hollywood “Hantu”
Di luar gedung, penggemar memadati karpet merah untuk melihat Jackson, sutradara La Vénus électrique Pierre Salvadori, dan para pemain film pembuka. Juri kompetisi tahun ini juga penuh nama besar: Park Chan-wook (ketua juri), Demi Moore, Chloé Zhao, Stellan Skarsgård, Laura Wandel, Diego Céspedes, Isaach De Bankolé, dan Paul Laverty.
Nama-nama Hollywood yang hadir termasuk Adam Driver, Scarlett Johansson, dan Miles Teller (film Paper Tiger garapan James Gray), Rami Malek (film The Man I Love karya Ira Sachs), serta Sebastian Stan dan Renate Reinsve (film Fjord).
Di antara tamu lain: pemenang Palme Bong Joon Ho, Diego Luna, Louis Garrel, Joan Collins, Heidi Klum, dan bintang reality TV Maura Higgins.
Namun ironisnya, kehadiran nama-nama Hollywood ini justru menonjol karena ketidakhadiran yang lebih besar. Mayoritas studio besar Amerika memilih untuk tidak membawa film mereka ke Cannes tahun ini — fenomena yang disebut sebagai “Hollywood ghosting Cannes.” Biaya sosial media yang menakutkan, biaya produksi yang membengkak, dan rangkaian kegagalan film besar membuat studio-studio berpikir dua kali untuk datang ke Palais.
Film Pembuka: La Vénus électrique
Setelah upacara, festival berlanjut dengan pemutaran perdana dunia La Vénus électrique karya Pierre Salvadori. Berlatar Paris tahun 1920-an, film ini mengikuti pelukis muda Antoine Balestro (Pio Marmaï) yang tidak bisa melukis sejak istrinya meninggal. Suatu malam, ia mencoba menghubungi arwahnya melalui paranormal — tanpa sepengetahuannya, ia sebenarnya berbicara dengan Suzanne, seorang pekerja karnaval sederhana. Dengan bantuan pemilik galeri Armand, Suzanne pun menggelar satu demi satu seans palsu.
Jepang Mendominasi: Tiga Sutradara di Kompetisi Utama
Festival tahun ini juga menjadi momentum penting bagi sinema Jepang. Tiga sutradara Jepang yang sebelumnya pernah bersinar di Cannes tampil di kompetisi utama: Hirokazu Kore-eda (pemenang Palme d’Or 2018 untuk Shoplifters) dengan Sheep in the Box, Ryûsuke Hamaguchi (pemenang skenario terbaik 2021 untuk Drive My Car) dengan All of a Sudden, dan Koji Fukada (pemenang Un Certain Regard 2016 untuk Harmonium) dengan Nagi Notes.
Sementara itu, industri film Jepang mencatat rekor baru di 2025 — pendapatan box office melonjak 32 persen menjadi $1,79 miliar, melampaui rekor pra-pandemi $1,70 miliar pada 2019. Film anime Demon Slayer: Infinity Castle – Part 1 memimpin dengan $255 juta, disusul epik kabuki Kokuho ($127 juta) — film live-action domestik terlaris sepanjang masa.
Cannes 2026: 13 Hari Sinema Dunia
Festival Film Cannes ke-79 akan berlangsung 13-26 Mei 2026, dengan lebih dari 40.000 profesional film dari 140 negara yang berkumpul di Côte d’Azur untuk menyaksikan talenta sinema internasional terbaik.
Ketua juri Park Chan-wook dalam pidatonya mengingatkan, “Hanya ada 22 film [di kompetisi], tapi jumlah orang yang mengerjakannya mencapai ribuan. Jika kita menghitung keluarga mereka, mungkin bisa mencapai puluhan ribu.” Ia menambahkan, “Para juri kami akan berdebat — tapi jangan berkelahi.”
Tiga belas hari ke depan akan menentukan film-film mana yang akan membawa pulang Palme d’Or, dan apakah Cannes 2026 akan menjadi titik balik sinema dunia yang kembali berani setelah masa penuh tantangan.
Festival Film Cannes ke-79 berlangsung 13-26 Mei 2026. Baca juga liputan Cannes lainnya di indfir.com. Ikuti liputan lengkapnya di indfir.com.




