HomeAstronomiSains Nyata di Balik Film Project Hail Mary: Seberapa Masuk Akal?

Sains Nyata di Balik Film Project Hail Mary: Seberapa Masuk Akal?

Date:

Related stories

Kontraktor DOJ AS Dihukum Judi Uang Penipuan Telepon

Seorang kontraktor yang bekerja untuk Departemen Kehakiman Amerika Serikat...

Google I/O 2026: Era Baru Gemini AI Otonom

Google I/O 2026: Era Baru Gemini AI Otonom Pada 19...

Florida Resmi Gugat OpenAI — ChatGPT Dinamai Pemicu Self-Harm, Kecanduan, dan Penurunan Kognitif

Negara bagian Florida resmi menggugat OpenAI — tuduhan ChatGPT memicu self-harm, kecanduan, dan penurunan kognitif pada pengguna. Kasus bisa jadi preseden regulasi AI global.

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info Streaming

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info...
spot_imgspot_img

Seberapa Masuk Akal Sains di Balik Film Project Hail Mary?

Film Project Hail Mary telah meledak di box office global dengan pendapatan tembus $400 juta dan memicu gelombang Oscar buzz. Di tengah ramainya industri film — dari festival Cannes 2026 hingga layar lebar Hollywood — Project Hail Mary berhasil menonjol bukan hanya karena hiburan, tapi karena sainsnya. Disutradarai dari novel laris Andy Weir, film ini membawa Ryan Gosling sebagai Ryland Grace — seorang guru sekolah menengah yang ternyata juga ahli biologi sel, terbangun dari koma induced setelah empat tahun untuk menyelamatkan Bumi dari mikroba kosmik yang sedang melahap energi Matahari.

Namun di balik hiburan yang menghibur, film ini juga menyajikan sains yang menarik: perjalanan antar bintang ke Tau Ceti, teknologi koma medis, radiasi luar angkasa, hingga komunikasi dengan spesies alien. Pertanyaannya — seberapa masuk akal semua ini dalam konteks sains nyata?

NPR bersama NASA dan sejumlah pakar telah membedah setiap elemen sains dalam film ini. Berikut hasilnya.

Tau Ceti: Bintang Nyata yang Jadi Tujuan Misi

Dalam film, Ryland Grace dikirim ke Tau Ceti — dan ini bukan bintang fiksi. Tau Ceti adalah bintang sungguhan yang terletak sekitar 11,9 tahun cahaya dari Bumi, di rasi bintang Cetus. Bintang ini memiliki kemiripan dengan Matahari kita dan sejauh ini astronom telah mengidentifikasi setidaknya tiga kandidat planet yang mengorbitnya.

Tapi bisakah manusia benar-benar melakukan perjalanan sejauh itu? Dr. Lisa Carnell, direktur divisi Biological and Physical Sciences di NASA, menjawab dengan jujur: “Saya rasa kita belum siap mengirim manusia ke Mars, apalagi sejauh tahun cahaya.”

Meski demikian, Carnell tidak menutup kemungkinan itu terjadi di masa depan. “Dari apa yang saya tahu tentang evolusi penerbangan dan eksplorasi luar angkasa, ya, saya percaya itu mungkin suatu hari nanti,” katanya.

Untuk konteks, Voyager 1 — wahana terjauh yang pernah diluncurkan manusia — butuh lebih dari 47 tahun hanya untuk mencapai jarak 160 AU dari Bumi. Tau Ceti berada 750.000 AU jauhnya. Dengan teknologi propulsi saat ini, perjalanan ini akan memakan waktu puluhan ribu tahun.

Torpor: Tidur Empat Tahun dalam Koma Medis

Salah satu elemen paling menarik dalam film adalah penggunaan torpor — koma yang diinduksi secara medis — untuk membuat Grace tidur selama empat tahun dalam perjalanan ke Tau Ceti. Robot yang bertugas menjaga tubuhnya selama ia tidak sadar.

NAS sendiri memang mempelajari konsep torpor untuk misi luar angkasa jangka panjang. Carnell mengatakan bahwa untuk misi enam bulan ke Mars, NASA lebih fokus pada menjaga astronaut tetap aktif secara psikologis. Tapi untuk misi yang memakan waktu bertahun-tahun ke sistem bintang lain, torpor mungkin akan menjadi keharusan.

Namun realitas medisnya jauh lebih brutal daripada yang digambarkan film. Dr. Shyoko Honiden dari Yale School of Medicine menjelaskan bahwa pasien dalam koma induced di ICU kehilangan sekitar 2% massa otot per hari selama minggu pertama. “Beberapa pasien kami membutuhkan berminggu-minggu untuk belajar bernapas lagi,” ujarnya.

Dr. Rummana Aslam, juga dari Yale, menambahkan bahwa setelah empat tahun, Grace membutuhkan rehabilitasi yang sangat lama hanya untuk bisa berbicara, menelan, dan bergerak kembali. “Melompat dari tempat tidur dan langsung menjelajahi pesawat seperti yang dilakukan Grace di film — itu tidak realistis,” tegasnya.

Masalah lain yang tidak digambarkan film: kerusakan kulit atau pressure injuries bisa berkembang dalam 24 jam hingga beberapa hari pada pasien yang terbaring. Dan yang paling penting — belum ada yang tahu bagaimana otak manusia akan bertahan dari koma selama empat tahun. “Disfungsi neurokognitif bisa permanen,” kata Honiden. “Jika Anda benar-benar mematikan semuanya, bisikan Anda perlahan menyalakannya kembali? Itulah pertanyaan satu juta dolar.”

Radiasi Luar Angkasa: Ancaman Tak Terlihat

Dalam film, makhluk alien yang ditemui Grace — yang ia panggil “Rocky” — kehilangan seluruh krunya karena radiasi. Mereka tidak menyadari risiko radiasi di luar angkasa.

Menurut Carnell, sulit dipercaya bahwa peradaban manapun bisa mencapai teknologi luar angkasa tanpa menemukan radiasi terlebih dahulu. “Radiasi kosmik galaktik ada di mana-mana — seperti Anda berenang di lautan radiasi dari supernova di seluruh alam semesta,” katanya.

NASA sangat serius soal ini. Badan antariksa tersebut menggunakan satelit untuk melacak cuaca luar angkasa. Jika badai matahari besar terdeteksi, astronaut berlindung di area pesawat yang memiliki perlindungan ekstra — seperti bagian yang dipenuhi air, karena air sangat efektif menyerap radiasi.

Risiko ini menjadi jauh lebih berbahaya ketika astronaut meninggalkan magnetosfer Bumi — medan magnet raksasa yang melindungi kita dari radiasi. Itulah mengapa misi Artemis II menjadi ujian penting: astronaut di dalamnya akan benar-benar terpapar kekuatan penuh badai matahari. NASA telah membuat “storm shelter” di dalam pesawat Orion untuk mengantisipasi hal ini — langkah perlindungan yang juga relevan dalam konteks misi ambisius seperti prediksi pendorong SpaceX yang akan menghantam Bulan.

Evolusi Mikroba: Breeding Taumoeba di Luar Angkasa

Plot utama film ini melibatkan Grace dan Rocky yang harus mengembangbiakkan mikroba alien bernama “taumoeba” agar tahan terhadap konsentrasi nitrogen tinggi di atmosfer Venus. Pertanyaan ilmiahnya: bisakah bakteri direkayasa secara selektif dalam waktu singkat?

Prof. Nathan Crook dari North Carolina State University, yang pernah meneliti breeding mikroba untuk memakan plastik di lautan, mengatakan bahwa ini tidak sepenuhnya tidak masuk akal. “Setiap mikroba berbeda, tapi beberapa prinsip berlaku untuk hampir semua mikroba,” jelasnya.

Eksperimen evolusi mikroba biasanya berlangsung satu hingga dua minggu, menghasilkan sedikit peningkatan, lalu mencapai plateau. “Setelah beberapa waktu di tahap plateau, sesuatu akan terjadi dan mikroba menjadi sedikit lebih baik secara kebetulan — tapi itu sesuatu yang tidak bisa Anda prediksi,” kata Crook.

Kecepatan evolusi taumoeba bergantung pada gen yang sudah dimilikinya. “Anda tidak bisa meng-evolusi sesuatu dari ketiadaan,” tegas Crook. Jika mikroba hanya perlu satu gen untuk memecah nitrogen menjadi zat tidak beracun, prosesnya bisa cepat — tapi gen tersebut harus sudah ada dalam genomnya.

Dan skenario film di mana taumoeba secara tidak sengaja mengembangkan adaptasi tambahan yang justru mempersulit misi? Itu juga sangat realistis. Evolusi memang penuh dengan konsekuensi yang tidak terduga.

Gravitasi Buatan: Centrifuge di Pesawat Luar Angkasa

Pesawat Grace bisa berputar seperti centrifuge untuk menciptakan gravitasi buatan — agar instrumen ilmiah bisa berfungsi normal. Tapi apakah NASA benar-benar mempertimbangkan teknologi ini?

Jawabannya menarik: gravitasi buatan sebenarnya tidak diperlukan untuk melakukan eksperimen di luar angkasa. Astronaut telah melakukan pekerjaan laboratorium di Stasiun Luar Angkasa Internasional dalam kondisi mikrogravitasi selama 20 tahun. “Luar biasa betapa banyak yang telah kami capai. Kami telah berhasil melakukan sequencing gen, mikroskopi, eksperimen pembakaran, dan biomanufaktur,” kata Carnell.

Alasan utama mempertimbangkan centrifuge justru untuk kesehatan manusia — terutama untuk menjaga tulang dan otot pada misi jangka panjang. Gravitasi buatan juga bisa bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskular. NASA memang telah mengeksplorasi beberapa desain untuk menambahkan komponen seperti centrifuge pada pesawat luar angkasa.

Xenolinguistics: Berbicara dengan Alien

Salah satu momen paling memorable dalam film adalah ketika Grace dan Rocky berhasil membangun komunikasi dari nol — menggunakan objek simbolis, angka, dan akhirnya mencapai kefasihan yang memungkinkan mereka menyelesaikan masalah bersama.

Ternyata, studi hipotetis tentang bagaimana manusia dan alien bisa berkomunikasi adalah bidang ilmiah nyata yang disebut xenolinguistics — gabungan dari linguistik, komunikasi hewan, dan antropologi.

Prof. Martin Hilpert dari University of Neuchâtel mengatakan film ini “mendapatkan banyak hal yang benar” tentang bagaimana pertemuan seperti itu bisa terjadi. “Rocky bisa memahami iconicity — di mana sebuah figurin kecil mewakili seseorang — dan itu bukan hal yang sepele. Primata tidak benar-benar bisa melakukan iconicity dengan baik,” jelasnya.

Prof. Irene Pepperberg dari Boston University — ilmuwan yang terkenal bekerja dengan burung nuri Afrika Alex — menunjuk bahwa ada asumsi besar di sini: “Bahwa dua peradaban yang sama sekali berbeda akan memiliki kata benda yang sama.” Ia juga mencatat bahwa hewan melihat panjang gelombang dan mendengar frekuensi yang berbeda dari manusia, dan hal yang sama mungkin berlaku untuk spesies alien.

“Sangat cerdik membuat Rocky buta karena banyak hal dalam komunikasi hewan bukan hanya komunikasi vokal tapi juga visual,” kata Pepperberg.

Tapi para ahli linguistik sepakat bahwa timeline komunikasi dalam film terlalu cepat. “Timeline untuk komunikasi yang berhasil itu terlalu singkat,” kata Prof. Jeff Punske dari Southern Illinois University. “Meskipun begitu, saya mengapresiasi bahwa ada upaya untuk menunjukkan perkembangan komunikasi.”

Kesimpulan: Fiksi yang Menghormati Sains

Project Hail Mary bukan film sains yang sempurna — banyak elemen yang disederhanakan atau dipercepat demi alur cerita. Tapi yang membuatnya istimewa adalah film ini berusaha menghormati sains, bukan mengabaikannya. Dari Tau Ceti yang nyata, konsep torpor yang memang sedang dipelajari NASA, hingga xenolinguistics yang merupakan bidang studi sungguhan — film ini berhasil membuat penonton bertanya “bisakah ini terjadi?” alih-alih “itu mustahil.”

Di tengah box office $400 juta dan Oscar buzz, film ini mungkin melakukan sesuatu yang lebih penting dari sekadar hiburan: membuat jutaan orang terpesona oleh sains. Dan di era di mana penemuan-penemuan baru terus bermunculan — seperti yang baru-baru ini terungkap dari teleskop Webb yang menemukan rantai titik merah misterius di antariksa — rasa ingin tahu ilmiah mungkin adalah kontribusi terbesar yang bisa diberikan sebuah film fiksi ilmiah.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here