NASA telah menyelesaikan wet dress rehearsal untuk misi uji terbang Artemis II pada early Tuesday pagi (lokal di Florida). Tim teknik berhasil mengisi propellant cryogenic ke dalam tangki Space Launch System (SLS), melakukan closeout di Orion spacecraft, lalu dengan aman mendrain roket setelah simulasi selesai. Wet dress rehearsal ini mensimulasikan seluruh proses peluncuran tanpa benar-benar menyalakan mesin roket. Semua prosedur operasional, mulai dari countdown, fuel loading, hingga emergency abort scenarios, dijalankan persis seperti kondisi nyata. Uji ini adalah salah satu tahap penting sebelum Artemis II diluncurkan.
Artemis II: Misi Berawak Pertama yang Ditungi Umat Manusia Sejak 1972
Artemis II adalah misi berawak pertama yang akan mengembalikan manusia ke bulan — bukan landing, tapi flyby. Empat astronot akan terbang mengelilingi bulan (mengapit far side) tanpa landing, lalu kembali ke Bumi. Ini adalah uji kunci sebelum Artemis III yang dijadwalkan landing di bulan 2026 (di mana perempuan dan orang berwarna pertama dijadwalkan menapaki permukaan bulan). Artemis program secara keseluruhan adalah warisan dari Apollo, tapi dengan teknologi abad ke-21 yang jauh lebih canggih. Artemis I (uncrewed) sukses di November 2022, dan sekarang Artemis II adalah fase berawak pertama.
Wet Dress Rehearsal: Apa itu dan Kenapa Penting?
Wet dress rehearsal adalah simulasi end-to-end di mana roket “dibasahi” — yaitu, diisi bahan bakar sebenarnya. Dalam hal SLS, bahan bakar tersebut adalah liquid hydrogen (LH₂) dengan suhu -253°C dan liquid oxygen (LOX) dengan suhu -183°C. Mengisi bahan bakar cryogenic ke tangki roket adalah salah satu proses paling berisiko dalam peluncuran. Bahan bakar ini sangat mudah terbakar dan mudah menguap. Jika terjadi kebocoran, bisa menyebabkan ledakan yang parah. Oleh karena itu, wet dress rehearsal menguji prosedur fuel loading, timing dan komunikasi antara tim, sistem sensor dan kontrol, serta emergency procedures jika terjadi anomaly. NASA melakukan wet dress rehearsal pertama dan memutuskan untuk melakukan second wet dress rehearsal sebelum Artemis II diluncurkan untuk memastikan semua sistem benar-benar siap.
Hasil dari Rehearsal Pertama: NASA Puas tapi Tidak Terlalu Cepat
Tim NASA menyatakan wet dress rehearsal “successfully completed” dengan beberapa catatan kecil. Mereka berhasil mengisi LH₂ dan LOX sesuai prosedur, menutup (closeout) Orion spacecraft di puncak roket, serta mendrain bahan bakar dengan aman setelah simulasi. Namun, ada beberapa anomaly kecil yang perlu dianalisis lebih lanjut. Karena itu, NASA menargetkan Maret 2026 sebagai earliest possible launch opportunity. Artinya, jika kedua wet dress rehearsal berjalan mulus, Artemis II bisa meluncur Maret, tapi bisa juga tertunda jika ditemukan masalah signifikan.
Timeline Artemis II Setelah Rehearsal Ini
Setelah wet dress rehearsal kedua (yang dijadwalkan menjelang peluncuran):
- Data review — Semua data dari rehearsal dianalisis
- Roll readiness review — Tim menilai apakah sudah siap untuk launch
- Launch commit — Jika semua OK, countdown dimulai
Jika launch Maret 2026, Artemis II akan berjalan selama sekitar 10 hari: Day 1-2: Launch dan orbit Bumi; Day 3-4: Trans-lunar injection (burn roket untuk menuju bulan); Day 5-6: Flyby bulan (dekat ke far side); Day 7-8: Return to Earth; Day 9-10: Splashdown di Samudra Pasifik.
Orion Spacecraft: Kapal Angkasa untuk Masa Depan
Orion adalah kendaraan berawak yang dibangun oleh NASA dengan kontributor komersial. Kapal ini dilengkapi: life support system untuk 21 hari, heat shield yang bisa tahan suhu 5000°F (2760°C) saat reentry, dan abort system (Launch Abort System) untuk mengelabui astronaut jauh dari roket jika terjadi masalah saat launch. Orion akan menjadi workhorse untuk Artemis — bukan hanya untuk Artemis II/III, tapi untuk misi ke Mars di masa depan.
SLS: Rocket Terkuat di Dunia Secara Operational
Space Launch System (SLS) adalah rocket super heavy-lift yang dibangun khusus untuk Artemis. Dalam konfigurasi Artemis II (Block 1), SLS terdiri dari: 2 booster roket (SRBs) — mirip dengan yang dipakai di Space Shuttle; 4 mesin RS-25 (dari Shuttle era) di core stage; serta upper stage (ICPS) untuk memberikan thrust tambahan. Thrust total saat launch sekitar 8.8 juta pound, lebih dari Saturn V. SLS dirancang bisa ditingkatkan ke Block 1B dan Block 2 dengan thrust lebih besar.
Kenapa Artemis Penting Bagi Indonesia dan Dunia?
Artemis memiliki dampak global:
- Science & Technology Spillover — Teknologi yang dikembangkan untuk Artemis (life support, radiation shielding, habitation systems) akan eventually digunakan di Bumi, seperti pengembangan material baru, solar panels lebih efisien, dan water recycling systems.
- International Cooperation — Artemis Accord yang dikembangkan oleh NASA menarik banyak negara, termasuk negara berkembang. Indonesia masih belum menandatangani, tapi kita bisa belajar dari kerjasama internasional ini.
- Inspirasi Masa Depan — Mengembalikan manusia ke bulan bisa memicu generasi muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk tertarik STEM, antariksa, dan inovasi.
- Resource Utilization — Sumber daya bulan (seperti water ice di South Pole) bisa menjadi bahan bakar untuk mission lebih jauh ke Mars. Logistik dari bulan bisa mem752日 space travel someday.
Ancaman dan Tantangan: Bukan Cuma Akuisisi Teknis
Artemis menghadapi beberapa tantangan:
- Biaya — SLS mahal (per launch diperkirakan >$2 miliar). NASA sedang bekerja pada pengurangan biaya, tapi masih kontroversial.
- Schedule delays — Artemis I sudah tertunda berkali-kali. Artemis II schedule juga fluktuatif.
- Commercial competition — SpaceX Starship dijadwalkan untuk HLS (Human Landing System) Artemis III. Ada ketegangan antara government-owned SLS vs commercial rockets.
- Sustainability — Apakah Artemis benar-benar sustainable long-term, atau hanya single mission? NASA perluunjukkan rencana untuk presence bulan permanen.
Namun, Artemis tetap menjadi program paling ambisius dalam dekade ini untuk human spaceflight.
Indonesia dan Artemis: Apa Kaitannya?
Indonesia belum menjadi partner utama Artemis, tapi kita bisa berkontribusi dalam berbagai bidang:
- Research collaborations — Universitas dapat melakukan penelitian tentang radiation kosmik, space medicine, remote sensing.
- Commercial opportunities — Industri satelit, ground station services, komponen elektronik.
- STEM outreach — Menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menjadi ilmuwan dan teknisi antariksa.
- Policy dialogue — Berenggagement dengan AS dan mitra melalui ASEAN atau forum PBB.
Kenapa Artemis II Harus Dilakukan Ulang (Second Wet Dress Rehearsal)?
Wet dress rehearsal pertama purportedly “successful,” tapi NASA membutuhkan rehearsals kedua untuk:
- Confidence building — Ulangi prosedur untuk memastikan reproducibility.
- Team training — Banyak personnel baru sejak Artemis I.
- System integration — Test ulang konektivitas semua sistem.
- Weather contingency — Uji kondisi cuaca berbeda.
Maret 2026 Target: Realistis atau Optimis?
Beberapa ahli mengatakan Maret 2026 adalah “earliest possible,” tapi ada risiko penundaan karena:
- Unforeseen technical issues (telah terjadi di Artemis I)
- Budget congressional approvals (AS Congress selalu mendebetkan anggaran NASA)
- Commercial partner readiness (Starship HLS development)
Namun, Artemis II harus diluncurkan sebelum Artemis III landing yang dijadwalkan 2026.
Bagaimana Wet Dress Rehearsal Dilakukan? (Step-by-Step)
Berikut tahapan wet dress rehearsal dalam bahasa santai:
- Pre-rehearsal briefing — Ribuan personel brief untuk review timeline dan contingency plans.
- T-minus countdown simulation — Mulai dari T-48 jam, countdown seolah-olah akan launch.
- Fueling operations — Isi LH₂ dan LOX ke core stage. Proses ini takes several hours karena fuel harus dipompa dalam suhu ekstrem.
- Closeout — Tim di launch pad menginstal final access panels, kabel, dll. di Orion.
- Hold at T-0 — Simulasi berhenti tepat sebelum ignition.
- Drain and safing — Bahan bakar di-drain kembali ke tank aman, roket disafelkan.
- Post-rehearsal debrief — Review semua data, compare dengan expectations.
Artemis II Crew: Siapa yang Akan Terbang?
Crew Artemis II:
- Reid Wiseman (Commander) — NASA astronaut, mantan US Navy
- Victor Glover (Pilot) — African American pertama di Artemis, SpaceX Crew-1 veteran
- Christina Koch (Mission Specialist) — Pemegang rekor longest single spaceflight oleh wanita (328 hari)
- Jeremy Hansen (Mission Specialist) — Astronot dari Canadian Space Agency
Mereka akan menjadi manusia pertama mengorbit bulan sejak Apollo 17 (1972).
Kesimpulan: Artemis II Masih di Depan Kita
Wet dress rehearsal sukses adalah milestone besar, tapi masih banyak pekerjaan sebelum launch. Target Maret 2026 menantang, tapi realistic jika tidak ada masalah besar. Artemis II adalah langkah penting menuju kembali manusia ke bulan dan eventually ke Mars.
Artikel ini membahas secara lengkap tentang uji bahan bakar Artemis II, wet dress rehearsal, target peluncuran Maret 2026, crew Artemis II, dan dampak program Artemis bagi Indonesia dan dunia. Informasi tentang NASA, SLS, Orion, dan program bulan kembali ke bulan.

