Teleskop Radio Generasi Baru Siap Revolusi Pencarian Alien, AI Jadi Kunci Utama
Bayangkan Carl Sagan menulis novel Contact pada tahun 1985. Di dalamnya, ia membayangkan manusia menangkap sinyal radio dari peradaban alien — lengkap dengan pesan yang dikodekan dalam bahasa universal: bilangan prima. Fiksi ilmiah murni. Tapi 40 tahun kemudian, prediksi Sagan hampir menjadi kenyataan berkat teknologi yang bahkan ia sendiri tidak bisa bayangkan.
Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) — upaya ilmiah untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan cerdas di luar Bumi — sedang bersiap mengalami lompatan kemampuan terbesar sepanjang sejarahnya. Teleskop radio generasi baru seperti ngVLA (Next-Generation Very Large Array) dan SKA (Square Kilometre Array), dikombinasikan dengan kecerdasan buatan yang mampu memproses data secara real-time, akan mengubah cara kita mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar: apakah kita sendirian di alam semesta?
Dari Project Ozma Hingga ngVLA — Evolusi Pencarian Sinyal Alien
Cerita pencarian alien melalui gelombang radio dimulai jauh sebelum istilah “SETI” populer. Pada tahun 1924, saat Mars dan Bumi berada dalam jarak terdekatnya, astronom David Peck Todd meminta stasiun radio militer AS untuk menghentikan siaran sementara dan “mendengarkan” kemungkinan transmisi dari Planet Merah. Upaya itu gagal — sebagian besar penyiar swasta menolak bekerja sama, dan “keheningan radio” militer pun tidak benar-benar total. Tapi usaha itu menjadi fondasi awal.
Lompatan sesungguhnya terjadi pada tahun 1960. Astronom Frank Drake, saat itu berusia 29 tahun, menggunakan piringan radio berukuran 85 kaki di Green Bank, West Virginia, untuk mendengarkan dua bintang: Tau Ceti dan Epsilon Eridani, masing-masing berjarak 11 tahun cahaya dari Bumi. Ia menamakan proyek itu Project Ozma, diambil dari tokoh di negeri Oz — tempat yang digambarkan “sangat jauh, sulit dijangkau, dan dihuni makhluk asing.”
Drake dan timnya menghabiskan enam jam setiap hari selama beberapa bulan, mendengarkan melalui speaker dan memantau chart recorder yang disetel pada frekuensi 1420,4 megahertz — frekuensi yang berkaitan dengan hidrogen, unsur paling melimpah di alam semesta. Logikanya sederhana: jika peradaban lain di galaksi juga mempelajari awan hidrogen netral, mereka mungkin akan menggunakan frekuensi yang sama sebagai “frekuensi panggil” universal.
Hasilnya? Keheningan. Tidak ada sinyal yang jelas muncul dari statis.
Tapi jangan salah — itu bukan kegagalan. Itu adalah awal.
Dari 1 Channel ke 1 Miliar Channel
Sejak Project Ozma, teknologi telah berkembang secara dramatis. “Alih-alih receiver satu channel di teleskop 85 kaki, sekarang kami bisa mendengarkan satu miliar channel sekaligus di teleskop 330 kaki di Green Bank yang sama,” kata Steve Croft, astronom di SETI Institute dan University of California, Berkeley. Croft juga merupakan ilmuwan proyek untuk Breakthrough Listen, inisiatif pencarian komunikasi ekstraterestrial yang didanai miliarder Yuri Milner.
“Kami telah mengamati ribuan target dengan jangkauan frekuensi yang luar biasa di Green Bank saja. Gabungkan dengan pencarian lain, dan kami sudah melihat lebih dari satu juta bintang — dengan daya komputasi dan algoritma yang jauh lebih baik,” ujarnya.
Meski begitu, hitungannya masih mengecilkan. Jika dijumlahkan semua pencarian yang pernah dilakukan, kita baru menyisir sekitar 0,00001 persen dari Bima Sakti.
“Kita belum mencari dengan cukup baik untuk bisa berkata banyak soal ini.”
— Steve Croft, SETI Institute & UC Berkeley
ngVLA: Teleskop yang Akan Mengubah Segalanya
Di New Mexico, Amerika Serikat, sedang dipersiapkan teleskop radio yang dijadwalkan selesai pada tahun 2035: ngVLA (Next-Generation Very Large Array). Instrumen ini akan menjadi teleskop radio paling sensitif yang pernah dibangun untuk pencarian SETI dalam rentang frekuensinya.
Dan ngVLA tidak akan sekadar “mendengarkan” — ia akan menelan data dalam jumlah yang hampir tidak bisa dibayangkan.
Teleskop ini diproyeksikan menghasilkan 40 petabyte data setiap bulan. Sebagai perbandingan, seluruh konten video di YouTube diperkirakan “hanya” menyimpan beberapa ratus petabyte. ngVLA akan menghasilkan data setara itu setiap bulan, secara konsisten.
Bukan hanya ngVLA. Di belahan bumi lain, Square Kilometre Array Observatory (SKAO) sedang dibangun dengan dua lokasi: Afrika Selatan dan Australia. Fasilitas ini akan terdiri dari ratusan piringan radio dan ribuan antena yang collectively memiliki area pengumpul sebesar satu kilometer persegi — sesuai namanya.
Sebuah studi tahun 2025 yang dipimpin Sofia Sheikh dari SETI Institute menemukan bahwa SKAO akan mampu mendeteksi sinyal sejenis yang disiarkan oleh Deep Space Network NASA ke wahana antariksa robotik dari jarak 65 tahun cahaya. Dan jika ada pesan yang sengaja dikirim — sebanding dengan yang pernah dikirim Observatorium Arecibo — SKAO bisa mendeteksinya dari jarak 12.000 tahun cahaya.
Michael Garrett, Direktur Jodrell Bank Centre for Astrophysics yang menaungi markas SKAO, menjelaskan: “Fase pertama SKAO pada dasarnya lima kali lebih sensitif dibandingkan beberapa piringan besar yang selama ini mendominasi pencarian SETI. Dan dengan bidang pandang yang jauh lebih luas, ia akan melihat sesuatu yang sepuluh kali lebih banyak bintang sekaligus.”
40 Petabyte Data Per Bulan — Tantangan yang Justru jadi Peluang
Di sinilah letak paradoks yang menarik: semakin sensitif teleskop kita, semakin banyak data yang kita terima — dan semakin mustahil bagi manusia untuk memprosesnya secara manual.
“Kita hidup di era astronomi Big Data,” kata Croft. “Kami sudah sangat jauh dari Project Ozma, di mana mereka punya pencatat pena dan melakukan semuanya secara manual. Kami просто tidak bisa melakukan itu lagi dengan satu miliar channel dan jutaan bintang.”
Mengapa SETI Butuh AI dan Machine Learning
Masalah utamanya bukan pada pengumpulan data. Masalahnya adalah memisahkan sinyal alien dari sinyal manusia.
“Ketika Anda melakukan survei SETI, Anda mendapatkan banyak sekali deteksi. Tapi sekitar 99,99 persen di antaranya adalah interferensi frekuensi radio yang dihasilkan oleh sistem radio kita sendiri,” jelas Garrett.
Untuk memisahkan keduanya, astronom memanfaatkan efek Doppler. Sinyal dari luar angkasa mengalami pergeseran frekuensi akibat rotasi Bumi, orbit Bumi, dan gerakan sumbernya sendiri — apa yang disebut peneliti sebagai Doppler drift. Sumber terestrial tidak menunjukkan pola ini. Tapi dengan miliaran channel yang harus diperiksa, analisis manual sudah bukan opsi.
Di sinilah artificial intelligence dan machine learning masuk. Algoritma AI kini mampu:
- Menyaring sinyal buatan manusia secara otomatis berdasarkan pola Doppler drift
- Mengidentifikasi anomali — sinyal aneh yang tidak cocok dengan kategori dikenal
- Mempelajari dari data sebelumnya untuk meningkatkan akurasi deteksi
- Memproses data secara real-time, bukan menunggu berbulan-bulan untuk analisis
Croft bahkan bekerja langsung dengan mahasiswa sarjana di UC Berkeley: “Saya selalu bilang pada mereka, mungkin kita sudah punya sinyal alien tersimpan di disk di suatu tempat, dan salah satu dari kalian mungkin akan menulis algoritma yang cukup pintar untuk menemukannya.”
Breakthrough Listen: Satu Juta Bintang Sudah Ter-scan
Salah satu proyek SETI paling ambisius saat ini adalah Breakthrough Listen. Sejak diluncurkan, proyek ini telah memindai lebih dari satu juta bintang menggunakan Green Bank Telescope dan instrumen lainnya. Mereka mencari dua jenis sinyal:
1. Beacon (suar) — sinyal yang sengaja dikirim oleh peradaban alien, mungkin sebagai cara untuk “memanggil” peradaban lain
2. Leakage (kebocoran) — sinyal yang tidak sengaja bocor dari sistem teknologi alien, mirip dengan siaran TV dan radio kita yang bocor ke luar angkasa
Pendekatan dual ini penting karena asumsi bahwa alien akan “sengaja mengirim pesan untuk kita” mungkin terlalu antroposentris. Mungkin yang kita butuhkan bukan menunggu telepon — tapi memasang telinga yang cukup sensitif untuk mendengar percakapan dari jauh.
Bukan Cuma “Sengaja Mengirim Pesan” — Sinyal Bocor pun Bisa Terdeteksi
Setiap transmisi radio yang kita hasilkan — dari kode Morse awal hingga siaran berita dan hiburan modern — merambat keluar ke luar angkasa ke segala arah, perlahan melemah seiring perjalanan. Karena gelombang radio bergerak dengan kecepatan cahaya, “gelembung radio” Bumi kita kini telah menyebar hingga sekitar 100 tahun cahaya dari planet kita.
Jika ada peradaban teknologi di dalam gelembung itu — dan jika mereka punya teleskop yang cukup sensitif — mereka sudah bisa mendeteksi keberadaan kita.
Dan sebaliknya: dengan teleskop generasi baru, kita mungkin bisa mendeteksi “kebocoran radio” dari sistem bintang lain. Bukan sinyal yang sengaja ditujukan untuk kita, tapi sisa teknologi — mirip dengan radar, satelit, dan komunikasi broadband yang kita pancarkan setiap hari.
Instrumen seperti Green Bank Telescope dan Allen Telescope Array di California Utara sudah mencari kedua jenis sinyal ini. Mereka tidak hanya mencari “suara” yang jelas dan disengaja, tapi juga sinyal samar yang menyerupai emisi radio broadband buatan Bumi dari planet yang berjarak ratusan tahun cahaya.
Paradoks Fermi: Jika Ada, Di Mana Semua Alien?
Pada tahun 1961, satu tahun setelah Project Ozma, Frank Drake merumuskan persamaan terkenal yang kini dikenal sebagai Persamaan Drake. Persamaan ini menghitung berapa banyak peradaban teknologis yang mungkin ada di galaksi kita (N), dan seberapa besar kemungkinan kita “mendengar” mereka:
N = R\* × fp × ne × fl × fi × fc × L
Di mana setiap variabel mewakili faktor berbeda — dari laju pembentukan bintang hingga umur rata-rata peradaban yang bisa berkomunikasi.
Saat Drake pertama kali menghitung, estimasi kasar menghasilkan angka antara beberapa lusin hingga 50 juta peradaban yang berpotensi berkomunikasi di Bima Sakti. Pengukuran modern telah menurunkan beberapa nilai itu — galaksi kita membentuk 1-3 bintang baru per tahun, dan hanya 0,1-0,5 planet berukuran Bumi di zona layak huni per bintang. Tapi kita sekarang tahu bahwa hampir setiap bintang di galaksi memiliki planet.
Bahkan dengan estimasi yang sangat konservatif, probabilitas bahwa kita benar-benar sendirian terasa hampir mustahil.
Dan itulah inti dari Paradoks Fermi: kontradiksi antara kemungkinan tinggi bahwa peradaban lain seharusnya ada, dengan kenyataan bahwa kita tidak menemukan jejak mereka sama sekali.
Ada tiga kategori jawaban umum:
- Mereka tidak sebanyak yang kita kira — mungkin kehidupan cerdas sangat langka
- Mereka tidak bertahan lama — peradaban cenderung menghancurkan diri sendiri sebelum bisa berkomunikasi antar bintang
- Mereka ada di sana, dan kita belum cukup baik dalam mencari
Steve Croft jelas berada di kubu ketiga.
Apakah Kita Perlu Terus Mencari?
Pertanyaan ini bukan sekadar filosofis. Ada argumen serius tentang apakah dana dan waktu yang dialokasikan untuk SETI sebaiknya digunakan untuk hal lain.
Tapi ada juga argumen kuat bahwa bahkan jika kita tidak menemukan apa-apa, pencarian itu sendiri tetap bernilai. Setiap teleskop yang kita bangun untuk SETI juga mengamati pulsar, lubang hitam, formasi bintang, dan struktur galaksi. Setiap algoritma AI yang kita kembangkan untuk menyaring data SETI bisa digunakan untuk klasifikasi galaksi, deteksi exoplanet, dan pemetaan materi gelap.
Dan ada satu hal yang tidak bisa disangkal: jawabannya akan mengubah segalanya.
Menemukan bahwa kita tidak sendirian — atau memastikan bahwa kita memang satu-satunya peradaban teknologis yang ada — keduanya adalah penemuan yang akan mengubah cara kita memandang tempat kita di alam semesta.
SETI Institute sendiri telah memperluas misinya. Selain pencarian sinyal radio, mereka kini juga meneliti asal-usul kehidupan, eksoplanet, astrobiologi, dan bahkan mempersiapkan masyarakat untuk skenario “bagaimana jika kita benar-benar menemukan sesuatu” — melalui Discovery and Futures Lab yang baru didirikan.
Kesimpulan: Era Baru Pencarian
Pencarian alien tidak lagi tentang menunggu dengan harapan kosong. SETI memasuki era di mana:
- Teleskop lebih sensitif — ngVLA dan SKA akan meningkatkan kemampuan deteksi secara eksponensial
- Data lebih banyak — 40 petabyte per bulan dari ngVLA saja
- AI lebih pintar — machine learning mampu menemukan pola yang terlewatkan analisis manual
- Pendekatan lebih luas — bukan hanya sinyal sengaja, tapi juga kebocoran teknologi
Soal apakah ada kehidupan cerdas di luar sana, kita belum tahu. Tapi untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita punya alat yang sebenarnya bisa menjawab pertanyaan itu.
Bukan soal “apakah” kita akan menemukan sesuatu. Pertanyaannya adalah “kapan.”
Sumber: Astronomy.com, SETI Institute, NRAO, Breakthrough Listen, SARAO




