OpenAI senilai $730 miliar. Anthropic diproyeksi menembus $800 miliar. Dua valuasi triliunan rupiah yang dibangun di atas satu asumsi fundamental: perusahaan ini bisa mempertahankan harga mahal untuk AI yang mereka jual.
Tapi kenyataannya di lapangan? Model AI yang sama persis kini bisa didapat 9 kali lebih murah. Dan perusahaan-perusahaan besar sudah mulai beralih.
Jelang rencana IPO yang bisa terjadi secepat September 2026, pertanyaan yang mulai muncul di kalangan investor bukan lagi “seberapa besar AI ini akan tumbuh” — tapi “apakah bisnis model ini masih realistis?”
OpenAI & Anthropic Menuju IPO — Triliunan Dolar di Atas Kertas
OpenAI dikabarkan sedang menyiapkan filing IPO dengan melibatkan Goldman Sachs dan Morgan Stanley, menurut laporan New York Times dan CNBC. Jika filing dilakukan dalam waktu dekat, listing bisa terjadi secepat September 2026.
Langkah ini muncul tepat setelah OpenAI memenangkan gugatan dari Elon Musk di pengadilan federal — salah satu hambatan terbesar menuju pasar publik. CEO Sam Altman mengatakan perusahaannya “secara teratur mengevaluasi berbagai opsi strategis.”
Anthropic juga sudah mengajukan filing secara confidential. SpaceX tak mau ketinggalan — filing S-1 mereka sudah dipublikasikan dan akan trade sebagai SPCX di Nasdaq. Gelombang IPO teknologi-AI sedang terbentuk.
Tapi ada masalah besar di balik angka-angka fantastis itu.
OpenAI melaporkan kerugian $5 miliar di 2024 dengan revenue hanya $3,7 miliar. Altman berkomitmen menghabiskan $600 miliar hingga 2030 untuk infrastruktur komputasi. Para analis memprediksi perusahaan akan rugi $44 miliar pada 2028, dengan profitabilitas baru tercapai di tahun 2029-2030. Timeline yang — dalam kata satu sumber — “sangat panjang untuk sebuah startup.”
Ada juga isu investasi sirkular yang jadi sorotan: OpenAI adalah pelanggan terbesar Nvidia, sementara Nvidia juga menjadi investor OpenAI. Microsoft pernah menjadi cloud provider eksklusif selama bertahun-tahun. Pola ini memicu pertanyaan tentang seberapa organik pertumbuhan valuasi ini.
AI Sedang Jadi Komoditas — Dan Harganya Runtuh
Di sinilah cerita menjadi menarik.
Perusahaan benchmarking Artificial Analysis menjalankan setiap model AI utama melalui 10 evaluasi yang sama persis, lalu mencatat total biayanya. Hasilnya untuk workload yang identik:
- Anthropic Claude: $4.811
- OpenAI ChatGPT: $3.357
- DeepSeek: $1.071
- Kimi: $948
- Zhipu GLM: $544
Claude hampir sembilan kali lebih mahal dari alternatif termurah. Untuk hasil yang setara.
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Di OpenRouter — sebuah marketplace yang memungkinkan developer mengakses ratusan model AI melalui satu antarmuka — model-model China melonjak dari 1% penggunaan di 2024 menjadi lebih dari 60% pada Mei 2026.
Dan model-model murah ini bukan lagi “langkah di belakang.” DeepSeek merilis preview model generasi berikutnya bulan lalu yang menyamai atau hampir menyamai model terbaru dari OpenAI, Anthropic, dan Google di bidang coding, agentic tasks, dan knowledge benchmarks. Model dari Moonshot, Xiaomi, dan Zhipu juga telah dirilis dengan kemampuan serupa dalam empat bulan terakhir.
Mengapa gap harga bisa sedemikian lebar? Amerika Serikat membangun AI di atas ratusan miliar dolar capex, chip Nvidia termahal, dan grid listrik yang kesulitan menambah kapasitas. Semua biaya itu diteruskan ke pelanggan. Di sisi lain, laboratorium AI China — yang bekerja di bawah pembatasan ekspor chip — justru menjadikan keterbatasan sebagai strategi. Mereka terpaksa mengoptimalkan secara agresif: melatih model kompetitif dengan lebih sedikit komputasi dan menjalankannya lebih efisien.
Enterprise Sudah Mulai “Diet” AI
Biaya AI tidak lagi menjadi rahasia. Musim laporan keuangan terbaru menunjukkan Meta, Shopify, Spotify, dan Pinterest semuanya menyebut biaya AI dan inference sebagai beban margin. Shopify secara eksplisit menyebut bahwa skala ekonomi “sebagian ter-offset oleh meningkatnya biaya LLM.”
Angka enterprise spending pun mencengangkan. Menurut survei CloudZero, 45% perusahaan menghabiskan lebih dari $100.000 per bulan untuk AI di 2025 — naik dari 20% di tahun sebelumnya.
Tapi bukannya semakin boros, perusahaan justru mulai berhemat.
CEO Figma Dylan Field menggambarkan tiga fase adopsi AI di perusahaan: pertama, tidak ada yang menggunakannya; kedua, semua orang harus, sampai ada yang “aduan siapa bisa habiskan token paling banyak”; dan ketiga — fase yang sedang dimasuki banyak perusahaan sekarang — kesadaran bahwa “semua orang menghabiskan terlalu banyak” dan harus memangkas biaya.
Teknik yang semakin populer disebut “advisor model.” CEO Databricks Ali Ghodsi menjelaskan: model open-source murah menangani sebagian besar pekerjaan sebagai default. Saat menemui tugas yang tidak bisa diselesaikan, model ini memanggil model frontier dari OpenAI atau Anthropic untuk membantu.
“Anda bisa mengendalikan biaya dengan sangat baik dengan cara ini,” kata Ghodsi.
Google pun tidak tinggal diam. Di konferensi I/O minggu ini, CEO Sundar Pichai menyebut banyak perusahaan sudah “menghabiskan budget token tahunan mereka, dan ini baru Mei.” Google mempitch Gemini 3.5 Flash sebagai solusi: jika pelanggan Google Cloud terbesar mengalihkan 80% workload dari model frontier ke Flash, mereka bisa hemat lebih dari $1 miliar per tahun.
Dampak ke Valuasi IPO — Bubble atau Realitas?
Valuasi $730 miliar untuk OpenAI dan $800 miliar+ untuk Anthropic mengasumsikan dua hal: mereka akan mempertahankan market share, dan mereka akan mempertahankan pricing power. Artinya, kompetitor tidak bisa mengejar dengan mudah, dan pelanggan enterprise akan terus membayar premium karena tidak ada alternatif nyata.
Kedua asumsi itu sedang digugat oleh data.
Kompetitor bukan hanya mengejar — mereka sudah sampai. Model China menawarkan kualitas setara dengan harga sepersembilan. Western challenger seperti Nvidia, Cohere, Reflection, dan Mistral membangun alternatif yang lebih murah, lebih kecil, dan lebih efisien.
Anthropic sendiri mengakui tekanan ini. Dalam policy paper yang dirilis Mei 2026, perusahaan menyebut model AS hanya “beberapa bulan di depan” model China, dan memperingatkan bahwa Beijing “menang dalam adopsi global karena harga.”
OpenAI melihat berbeda. Seorang sumber internal mengatakan setiap rilis model frontier baru — termasuk GPT-5.5 bulan lalu — memicu lonjakan penggunaan API dan produk, dengan demand enterprise yang tumbuh seperti “dinding vertikal.” Menurut sumber ini, tekanan harga bahkan tidak masuk dalam 10 besar kekhawatiran perusahaan.
Tapi seorang CEO perusahaan AI enterprise — yang meminta anonimitas — memberikan perspektif lain: pertumbuhannya nyata, “tapi akan tumbuh lebih cepat untuk frontier jika teknik ‘advisor model’ ini tidak digunakan.”
Inilah pasar yang diminta OpenAI dan Anthropic untuk dinilai oleh investor publik. S-1 harus menunjukkan pertumbuhan dan konsentrasi revenue enterprise yang membenarkan valuasi triliunan dolar. Tapi premium yang menjadi dasar valuasi itu justru paling cepat tergerus di segmen yang paling perlu mereka dominasi.
Siapa yang Sebenarnya Untung dari Semua Ini?
Jika ada yang jelas dari pergeseran ini, pemenang dan pecundangnya sudah mulai terlihat.
Nvidia masih di puncak. Revenue data center mereka melonjak menjadi $75,2 miliar — naik 92% year-over-year. Total revenue kuartal: $81,6 miliar. Nvidia bahkan tidak lagi mengklasifikasikan diri sebagai “perusahaan gaming” — mereka sekarang menyebutnya “Edge Computing.”
Laboratorium AI China mengalami ledakan market share. DeepSeek, Kimi, GLM — semua menawarkan kemampuan setara dengan harga yang membuat model Barat terlihat seperti barang mewah.
Perusahaan enterprise adopter mendapat lebih banyak pilihan dengan harga turun. Mereka yang sebelumnya terjebak dalam kontrak mahal kini bisa beralih atau menggunakan teknik “advisor model” untuk memangkas 20-30% konsumsi token.
Developer dan startup mendapat keuntungan terbesar: barrier to entry AI turun drastis. Di Indonesia, ini berarti startup lokal bisa membangun produk berbasis AI tanpa perlu budget enterprise. Model-model open-source yang semakin kompeten memungkinkan eksperimen yang sebelumnya tidak terjangkau.
Kesimpulan: Boom AI Masih Nyata, Tapi Ekonominya Berubah
Gelombang AI tidak melambat. Tapi cara AI dimonetisasi sedang mengalami transformasi fundamental.
OpenAI dan Anthropic menuju IPO dengan premis valuasi yang dibangun pada era ketika AI frontier langka dan mahal. Era itu sedang berakhir — digantikan oleh pasar di mana kemampuan AI melimpah, murah, dan semakin setara.
Pertanyaannya bukan apakah AI akan mengubah dunia — itu sudah terjadi. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan mendapatkan nilai ekonomi dari perubahan itu?
Untuk pembaca di Indonesia, jawabannya mungkin lebih dekat dari yang dibayangkan. Saat AI menjadi komoditas, hambatan untuk berinovasi turun. Startup lokal, UMKM, dan developer independen kini punya akses ke tools yang sama — dengan harga yang terjangkau.
Revolusi AI bukan lagi tentang siapa yang punya model paling canggih. Ini tentang siapa yang paling pintar memanfaatkannya.
Sumber: CNBC, Engadget, The New York Times, Artificial Analysis, OpenRouter, CloudZero.




