HomeAstronomiChina Luncurkan Shenzhou 23 ke Tiangong — Astronot Hong Kong Pertama Ikut...

China Luncurkan Shenzhou 23 ke Tiangong — Astronot Hong Kong Pertama Ikut ke Luar Angkasa

Date:

Related stories

Laba Kuartal I Dorong Pasar Saham ke Rekor Baru

Lonjakan laba perusahaan pada kuartal pertama tahun ini telah...

Danny Boyle Bidik Syuting Film Ketiga 28 Days Later 2027

Danny Boyle Bidik Syuting Film Ketiga 28 Days Later...

Status Nemesis Season 2 di Netflix: Tayang atau Batal?

Para penggemar serial Nemesis di Indonesia maupun penonton global...

Teleskop Webb Ungkap Detail Galaksi Spiral Terdekat

Teleskop Webb Ungkap Detail Galaksi Spiral Terdekat Badan Antariksa Amerika...
spot_imgspot_img

China Luncurkan Shenzhou 23 ke Tiangong — Astronot Hong Kong Pertama Ikut ke Luar Angkasa

China resmi meluncurkan misi Shenzhou 23 pada Sabtu, 24 Mei 2026, mengirim tiga astronot ke stasiun luar angkasa Tiangong. Yang membuat misi ini bersejarah: untuk pertama kalinya dalam sejarah program luar angkasa China, seorang astronot asal Hong Kong ikut terbang ke orbit.

Peluncuran menggunakan roket Long March 2F dari Jiuquan Satellite Launch Center di tepi Gurun Gobi, China barat laut — lokasi yang sama dengan semua misi berawak China sejak Shenzhou 5 pada 2003. Roket tersebut meluncur tepat waktu dan memasuki orbit sesuai jadwal, memulai perjalanan menuju Tiangong yang diperkirakan memakan waktu sekitar enam setengah jam dengan metode rendezvous cepat.

Tiga awak Shenzhou 23 akan menggantikan kru yang sudah berada di Tiangong — yang menurut beberapa laporan sudah “overdue” untuk rotasi — dalam misi pergantian awak rutin. Yang menarik perhatian: misi ini berpotensi menjadi awal dari tinggal satu tahun di orbit, yang akan menjadi rekor durasi baru bagi program luar angkasa China.

Siapa Kru Shenzhou 23?

Tim Shenzhou 23 terdiri dari tiga astronot dengan latar belakang berbeda. Yang paling menyita perhatian publik adalah anggota kru asal Hong Kong — langkah simbolis yang menegaskan integrasi wilayah otonomi khusus itu dalam program antariksa nasional China.

Pemilihan astronot dari Hong Kong bukan sekadar representasi. Hong Kong memiliki tradisi riset sains dan teknologi yang kuat, tapi representasi langsung di program antariksa China adalah langkah yang melampaui kontribusi teknis — ini pesan politik tentang persatuan dan akses yang setara ke program luar angkasa nasional.

Dua anggota kru lainnya adalah astronot berpengalaman dari Korps Astronot China (PLAAC). Mereka membawa keahlian operasional yang dibutuhkan untuk mengelola eksperimen ilmiah dan pemeliharaan stasiun selama misi yang berpotensi memakan waktu hingga satu tahun.

Misi Shenzhou 23: Pergantian Awak dan Potensi Rekor Baru

Misi ini pada dasarnya adalah pergantian awak (crew rotation) — menggantikan kru yang sudah tinggal di Tiangong selama beberapa bulan sebelumnya. Pergantian rutin ini penting untuk menjaga kesehatan astronot dan keberlanjutan operasi stasiun.

Yang membuat Shenzhou 23 spesial adalah potensi misi tinggal satu tahun di orbit. Durasi ini jauh melampaui misi Shenzhou sebelumnya yang umumnya berkisar enam bulan. Jika berhasil, ini akan menjadi rekor baru bagi China dan menempatkan mereka di level yang sama dengan pemegang rekor internasional untuk misi jangka panjang.

Tingginya durasi satu tahun di orbit bukan sekadar soal ketahanan fisik astronot. Ini tentang membuktikan bahwa China bisa mempertahankan kehadiran manusia di luar angkasa secara berkelanjutan — prasyarat fundamental untuk program ambisius seperti stasiun penelitian di Bulan dan misi Mars berawak.

Eksperimen ilmiah yang dijadwalkan selama misi mencakup bidang biologi ruang angkasa, fisika material, dan observasi Bumi. Tiangong dilengkapi dengan rak eksperimen yang bisa menampung hingga 25 eksperimen simultan — kapasitas yang signifikan untuk stasiun seukuran ini.

Stasiun Tiangong: Rumah China di Orbit

Tiangong — yang berarti “Istana Surgawi” — adalah stasiun luar angkasa modular China yang mulai beroperasi penuh pada akhir 2022. Meski jauh lebih kecil dari International Space Station (ISS), Tiangong dirancang untuk beroperasi secara independen tanpa bergantung pada kolaborasi internasional.

Stasiun ini terdiri dari modul inti Tianhe dan dua modul laboratorium sains: Wentian dan Mengtian. Total berat Tiangong sekitar 100 ton — sekitar seperlima berat ISS — tapi cukup untuk menampung tiga astronot secara permanen (dan enam astronot selama masa pergantian awak).

China membangun Tiangong sebagai platform penelitian jangka panjang dan demonstrasi teknologi yang akan mendukung target ambisius: stasiun penelitian di kutub selatan Bulan (dalam rencana kerja sama dengan Rusia) dan misi berawak ke Mars di dekade 2030-an.

Program Luar Angkasa China: Dari Shenzhou 5 hingga Ambisi Mars

Program luar angkasa berawak China dimulai dengan Shenzhou 5 pada Oktober 2003 — membuat China negara ketiga yang secara independen mengirim manusia ke orbit, setelah Uni Soviet/Rusia dan Amerika Serikat. Astronot pertama China, Yang Liwei, mengorbit Bumi selama 21 jam dalam misi bersejarah itu.

Sejak itu, China mencapai serangkaian milestone penting: misi luar angkasa pertama dengan dua astronot (Shenzhou 6), spacewalk pertama China (Shenzhou 7), docking dengan modul laboratorium Tiangong-1 dan Tiangong-2, dan akhirnya pembangunan stasiun luar angkasa permanen yang dimulai pada 2021.

Di sisi misi robotik, China juga mencatatkan pencapaian signifikan: pendaratan pertama di sisi jauh Bulan (Chang’e 4, 2019 — pertama dalam sejarah manusia), pengambilan sampel dari Bulan (Chang’e 5, 2020), dan misi Mars pertama (Tianwen-1) yang berhasil mendaratkan rover Zhurong di permukaan Planet Merah pada 2021.

Keberhasilan Shenzhou 23 semakin memperkuat posisi China sebagai pemain utama dalam eksplorasi luar angkasa global — dan di kawasan Asia, China kini menjadi pesaing serius bagi India (ISRO) dan Jepang (JAXA).

Relevansi untuk Indonesia dan Asia Tenggara

Program luar angkasa China yang semakin matang punya implikasi langsung bagi Asia Tenggara, termasuk Indonesia. BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) telah melakukan berbagai kerja sama dengan lembaga sains China, dan antariksa adalah area yang potensial untuk kolaborasi lebih lanjut.

Dari perspektif geopolitik, keberhasilan China mengirim astronot dari Hong Kong memperkuat narasi Beijing tentang persatuan nasional — pesan yang juga relevan bagi negara-negara ASEAN. China secara aktif menawarkan kerja sama dalam kerangka Belt and Road Initiative yang mencakup komponen sains dan teknologi luar angkasa.

Untuk Indonesia, momentum ini bisa menjadi pendorong untuk mempercepat pengembangan program antariksa sendiri. BRIN saat ini mengoperasikan observatorium dan fasilitas riset astronomi, tapi ambisi untuk misi orbital atau partisipasi dalam proyek antariksa internasional masih dalam tahap pengembangan.

Sumber dan Referensi

  • Space.com — “China reveals 3-person Shenzhou 23 crew, including Hong Kong’s 1st astronaut” (space.com)
  • Space.com — “Watch China launch Shenzhou 23 astronauts to Tiangong on May 24” (space.com)
  • CNSA — China National Space Administration official coverage (cnsa.gov.cn)
  • Xinhua News Agency — Official Chinese state news coverage (xinhuanet.com)
  • Wikipedia — Shenzhou program & Tiangong space station background (wikipedia.org)

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here