HomeTrading & KriptoDemand Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Sejak Desember — Whale Borong $237...

Demand Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Sejak Desember — Whale Borong $237 Juta ETH di Saat yang Sama

Date:

Related stories

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info Streaming

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info...

3 Grafik Bandingkan Misi Artemis dan Apollo

Lebih dari setengah abad setelah jejak pertama manusia mengukir...

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages Proses pembangunan situs web modern yang mengandalkan arsitektur static site generation sering kali menghadapi

Zoneless Angular Resmi, Performa Web Makin Cepat

Mengenal Zoneless Angular: Revolusi Performa Web Ekosistem pengembangan frontend global...
spot_imgspot_img

JAKARTA — Dua narasi bertabrakan di pasar kripto akhir Mei 2026. Di satu sisi, data on-chain menunjukkan demand Bitcoin mengalami penurunan paling tajam sejak Desember 2025. Di sisi lain, satu whale institusional justru menggelontorkan $237 juta untuk membeli Ethereum dalam seminggu terakhir. Kontras ini memunculkan pertanyaan krusial: apakah rally Bitcoin yang membawa harga dari $65.000 ke kisaran $74.000 benar-benar rapuh, atau justru ada pergeseran besar-besaran yang terjadi di balik layar?

Data apparent demand dari CryptoQuant mencatat angka negatif 147.000 BTC — penurunan drastis dari bulan April yang masih sempat mencatat -11.000 BTC. Secara sederhana, ini berarti jumlah Bitcoin yang ditahan oleh investor jangka panjang berkurang lebih cepat daripada yang ditambang. Sementara itu, Coinbase Premium Index — indikator yang mengukur agresivitas buyer institusional di Amerika Serikat — sudah berada di zona negatif sejak akhir April, menandakan bahwa demand dari pelaku pasar AS justru melemah saat harga naik.

Kontrasnya mencolok: Bitmine Immutable (BMNR), perusahaan yang dipimpin analis ternama Tom Lee, membeli 111.942 ETH senilai $237 juta dalam satu minggu — pembelian terbesar sepanjang 2026. Ironisnya, di Consensus 2026 awal bulan ini, Tom Lee justru mengimbau investor untuk “memperlambat akumulasi.” Sekarang? Dia sendiri yang serbu terbesar tahun ini.

Demand On-Chain Minus 147.000 BTC — Rally Ini Dipimpin Futures, Bukan Spot

Untuk memahami mengapa angka ini penting, perlu dipahami dulu apa itu apparent demand. Metrik ini mengukur selisih antara Bitcoin baru yang ditambang dengan Bitcoin yang berpindah tangan dalam transaksi on-chain. Ketika angkanya negatif, artinya lebih banyak Bitcoin yang bergerak keluar dari dompet investor — sebuah sinyal pelemahan demand.

Penurunan dari -11.000 BTC di April ke -147.000 BTC di akhir Mei adalah regresi yang tajam. Yang lebih mengkhawatirkan: rally Bitcoin dari level terendah April ($65.000) menuju $80.000 di pertengahan Mei ternyata dipimpin oleh leveraged traders di pasar futures, bukan oleh pembeli spot sungguhan.

Rally yang dipimpin futures memiliki kerentanan khusus. Ketika funding rate — biaya yang dibayar trader long kepada trader short — mulai turun, posisi long bisa terlikuidasi beruntun dan memicu koreksi cepat. Ini berbeda dari rally yang didukung pembelian spot, di mana Bitcoin benar-benar keluar dari exchange dan masuk ke cold wallet investor jangka panjang.

Level kunci yang perlu diwaspadai: $70.000 — yang merupakan Short-Term Trader Realized Price, atau rata-rata harga beli trader jangka pendek. Jika harga turun di bawah level ini, banyak trader akan berada dalam posisi rugi (underwater), dan tekanan jual bisa meningkat tajam.

Bitcoin ETF juga mengalami tekanan luar biasa. Dalam satu minggu (16-22 Mei), tercatat $1,47 miliar mengalir keluar dari Bitcoin ETF — arus keluar mingguan terburuk sepanjang 2026. BlackRock iShares Bitcoin Trust (IBIT) sendiri kehilangan $448,36 juta dalam satu hari saja pada 18 Mei.

Tom Lee Balik Haluan — Bitmine Borong $237 Juta ETH, Total Holdings 4,47% Supply

Di tengah kelesuan Bitcoin, Bitmine Immutable justru melakukan pembelian Ethereum terbesar di 2026. Perusahaan ini menambah 111.942 ETH dalam satu minggu, membawa total holdings menjadi sekitar 5,4 juta ETH — setara dengan 4,47% dari seluruh supply Ethereum yang beredar.

Ini bukan sekadar spekulasi harga. Dari 5,4 juta ETH tersebut, sekitar 4,7 juta ETH telah di-stake, menghasilkan revenue sekitar $276 juta per tahun dari staking rewards. Dengan total aset mencapai $12,3 miliar (termasuk crypto dan kas), Bitmine membangun model bisnis Ethereum treasury company yang mengandalkan yield dari staking sebagai pendapatan berulang.

Langkah ini konsisten dengan tesis investasi Tom Lee yang sejak lama melihat Ethereum sebagai infrastruktur blockchain yang undervalued. Yang menarik: pembelian besar ini terjadi tepat ketika harga ETH sedang melemah dari $2.400 di awal Mei menjadi sekitar $2.100 — klasik buying the dip dalam skala institusional.

Kontras Tajam: ETF Bocor $1,5 Miliar, MicroStrategy Malah Beli Rp38 Triliun

Perbedaan perilaku institusi semakin mencolok. Di satu sisi, investor ritel dan institusi kecil menarik dana besar-besaran dari Bitcoin ETF — $1,47 miliar keluar dalam seminggu. Di sisi lain, MicroStrategy yang dipimpin Michael Saylor justru membeli 34.164 BTC senilai $2,54 miliar (sekitar Rp38 triliun), menambah total holdings mereka menjadi lebih dari 815.000 BTC.

Siapa yang benar? Wall Street menjual, Saylor membeli. Keduanya punya logika masing-masing. Investor ETF mungkin melihat sinyal teknis yang bearish — demand gauge negatif, Coinbase Premium minus, futures-led rally yang rapuh. Saylor, di sisi lain, bermain untuk horizon multi-tahun dan menganggap setiap penurunan harga sebagai kesempatan akumulasi.

Yang jelas, pertarungan antara seller ETF dan buyer institusi jangka panjang akan menentukan arah Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan. Jika demand on-chain terus melemah, tekanan bearish bisa semakin dominan. Tapi jika institusi seperti MicroStrategy terus membeli dalam volume besar, supply shock jangka panjang tetap menjadi narasi yang valid.

Bonus: Elon Musk Masuk Top 5 Pemegang Bitcoin Korporasi Setelah Merger Tesla-SpaceX

Perkembangan menarik lainnya datang dari Elon Musk. Setelah merger operasi Tesla dan SpaceX — yang diumumkan pada 27 Mei 2026 — gabungan holding Bitcoin kedua perusahaan mencapai 30.221 BTC (11.509 BTC dari Tesla + 18.712 BTC dari SpaceX), bernilai sekitar $3,3 miliar.

Angka ini menempatkan entitas Musk di posisi lima besar pemegang Bitcoin korporasi global, di bawah MicroStrategy (815.000+ BTC), Twenty One Capital, venture Jack Mallers, dan Metaplanet. SpaceX sendiri berencana melakukan IPO di Nasdaq pada Juni 2026 dengan valuasi privat mencapai $1,25 triliun setelah merger dengan xAI.

Musk tetap menjadi figur paling berpengaruh di pasar kripto. Satu tweet atau pernyataannya sering kali mampu menggerakkan harga dalam hitungan menit. Dengan SpaceX masuk ke bursa publik, holding Bitcoin senilai $3,3 miliar ini akan menjadi bagian dari disclosure publik — potensi katalis atau tekanan tambahan bagi sentimen pasar.

Paralel Menyeramkan: Maret 2022 Terulang?

Ini mungkin bagian yang paling mengkhawatirkan. CryptoQuant secara eksplisit membandingkan rally saat ini dengan apa yang terjadi pada Maret 2022 — bulan yang kemudian menjadi awal dari crypto winter panjang.

Rally dari April 2026 low menunjukkan kenaikan sekitar +37%. Bandingkan dengan Maret 2022 yang mengalami kenaikan +43% sebelum akhirnya rally stall di 200-day moving average dan tren turun berlanjut. Kedua rally memiliki kemirupan: dipimpin oleh trader futures, bukan pembeli spot, dan terjadi setelah koreksi yang cukup dalam.

Coinbase Premium yang sudah negatif sejak 29 April mengindikasikan bahwa $5,97 miliar realized losses telah dicatat oleh holder yang membeli di harga lebih tinggi (underwater holders). Dan level $70.000 — Traders’ On-chain Realized Price — menjadi garis batas kritis. Jika ditembus ke bawah, bisa terjadi cascading liquidation.

Sejarah tidak selalu berulang persis. Tapi pola rally futures-led yang kehilangan momentum karena lack of spot demand adalah pola yang sudah terlihat berkali-kali di siklus-siklus sebelumnya.

Apa Artinya untuk Trader Kripto Indonesia?

Untuk trader yang aktif di exchange Indonesia seperti Indodax, Tokocrypto, atau Pintu, beberapa hal perlu diperhatikan:

Pertama, demand on-chain yang negatif adalah sinyal global. Tapi demand lokal bisa berbeda — volume BTC/IDR di exchange Indonesia kadang menunjukkan pola yang independen dari pasar global, terutama ketika kurs menyentuh Rp17.830 dan trader lokal mencari safe haven dari pelemahan rupiah.

Kedua, skenario jika demand tetap negatif: risiko uji support $70.000 semakin besar. Jika $70.000 jebol, koreksi berikutnya bisa menuju area $65.000 — level terendah April. Trader yang menggunakan leverage perlu ekstra hati-hati.

Ketiga, skenario alternatif: jika spot buying tiba-tiba muncul (misalnya dari institusi baru atau adoption wave), breakout di atas $80.000 bisa berlanjut. Tapi untuk sekarang, belum ada tanda-tanda itu.

Keempat, untuk Ethereum: akumulasi institusi oleh Bitmine dalam skala masif bisa menjadi sinyal bahwa ETH sedang mendekati area bottom. Tapi jangan lupa — Bitmine membeli untuk yield staking, bukan untuk spekulasi harga jangka pendek.

Praktis: jangan FOMO di rally yang dipimpin futures. Tunggu konfirmasi dari spot buying — volume naik di exchange, ETF inflow kembali positif, dan Coinbase Premium berbalik ke zona positif — sebelum menambah posisi secara agresif.

Sumber: CoinDesk — Bitcoin Demand Gauge Analysis & Bitmine Purchase, CryptoQuant — Apparent Demand & On-Chain Metrics, CNBC — Tesla-SpaceX Merger & BTC Holdings

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here