HomeFilm"The Devil Wears Prada 2" Pecah Rekor Box Office Global Rp9,8 Triliun...

“The Devil Wears Prada 2” Pecah Rekor Box Office Global Rp9,8 Triliun — 20 Tahun Miranda Priestly Masih Berkuasa

Date:

Related stories

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info Streaming

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info...

3 Grafik Bandingkan Misi Artemis dan Apollo

Lebih dari setengah abad setelah jejak pertama manusia mengukir...

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages Proses pembangunan situs web modern yang mengandalkan arsitektur static site generation sering kali menghadapi

Zoneless Angular Resmi, Performa Web Makin Cepat

Mengenal Zoneless Angular: Revolusi Performa Web Ekosistem pengembangan frontend global...
spot_imgspot_img

Duapuluh tahun setelah film pertama membuat jagat fashion dan sinema heboh, The Devil Wears Prada 2 membuktikan bahwa Miranda Priestly belum selesai. Film yang tayang serentak di bioskop seluruh dunia pada 1 Mei 2026 ini telah menembus $613,3 juta (sekitar Rp9,8 triliun) di box office global — menjadikannya film terlaris kelima sepanjang tahun 2026.

Angka ini melampaui total pendapatan film pertama yang “hanya” $326,5 juta selama seluruh masa tayangnya pada 2006. Dalam waktu kurang dari sebulan, sekuel ini sudah nyaris dua kali lipat dari pendahulunya.

Di tengah kelesuan box office Hollywood dan dominasi franchise superhero, kehadiran film tentang majalah fashion ini terasa seperti anomali — sekaligus pelajaran berharga tentang apa yang sebenarnya penonton inginkan.

Cast Asli Kembali — Chemistry yang Tidak Bisa Digantikan CGI

Kunci utama kesuksesan sekuel ini sederhana: orang-orang yang sama kembali.

Meryl Streep kembali sebagai Miranda Priestly — editor-in-chief majalah Runway yang dingin, perfeksionis, dan tetap menjadi salah satu karakter paling ikonik dalam sejarah sinema modern. Anne Hathaway sebagai Andrea “Andy” Sachs, yang kini telah bertransformasi dari asisten magang menjadi jurnalis ternama. Emily Blunt sebagai Emily Charlton, dan Stanley Tucci sebagai Nigel — dua karakter yang menjadi tulang punggung emosional film pertama.

Mereka bukan sekadar cameo. Keempatnya mendapat porsi layar yang berarti, dan chemistry yang sama seperti 2006 terasa utuh.

Bergabung di sekuel ini adalah Justin Theroux, Lucy Liu, dan Kenneth Branagh sebagai karakter baru — masing-masing membawa dimensi segar tanpa mengganggu dinamika yang sudah terbentuk.

Dari Majalah Cetak ke Era Digital — Tema yang Mengejutkan Relevan

Plot film ini menempatkan karakter-karakter favorit kita di tengah lanskap media yang berubah total.

Andy Sachs kembali ke dunia Runway — bukan sebagai asisten, tapi sebagai features editor yang direkrut tanpa persetujuan Miranda oleh pemilik Elias-Clarke. Situasi ironis: Runway, majalah fashion paling bergengsi di dunia, kini berjuang karena tidak ada yang lagi membaca edisi cetak.

Nigel, tangan kanan Miranda, menjelaskan realitas pahit: majalah terpaksa mengadopsi clickbait online dan konten pendek berbiaya murah untuk mempertahankan profit dan hubungan dengan pengiklan. Salah satu pengiklan kunci mereka adalah Dior — tempat Emily sekarang bekerja.

Miranda sendiri — yang dulu absolut dalam kepercayaannya — kini terlihat kehilangan arah di tengah era media modern. Kelakuannya yang dulu tiran sudah “diredam” oleh keluhan HR. Dia menikmati hubungan nyaman dengan suaminya, Stuart, tapi secara profesional tampak kehilangan pegangan.

Ironi yang tidak bisa diabaikan: Film tentang majalah fashion cetak yang dibuat di era di mana industri media Indonesia mengalami transformasi serupa — dari cetak ke digital, dari editorial mendalam ke konten viral.

Kritikus dan Penonton Sepakat: “Sinfully Enjoyable”

Di Rotten Tomatoes, konsensus kritikus berbunyi:

“Meryl Streep still wears Miranda Priestly like a finely-tailored suit in this sinfully enjoyable sequel, which is dressed to the nines in off-the-rack wish fulfillment and some trenchant observations about the state of modern media.”

Beberapa ulasan standout:

  • NPR (John Powers): “Like any good sequel, the movie feels like a reunion.”
  • The Movie Cricket (Sean P. Means, 3/4): “Hathaway seems to up her game in her scenes with Streep, and Streep seems to enjoy working to turn this impossibly arrogant character into something human.”
  • Sioux City Journal (Bruce R. Miller, 3/4): Memuji screenplay Aline Brosh McKenna sebagai salah yang terbaik tahun ini — “When ‘Prada 2’ gets to a lavish gala, everyone gets a moment.”

Dari sisi penonton, respons mayoritas positif. Banyak yang menyebut film ini “hiburan ringan tapi sangat well-done.” Ada juga kritik — sebagian penonton menilai fashion di film ini “meh” dibanding film pertama, dan beberapa merasa sekuel ini terlalu bergantung pada nostalgia.

Tapi secara keseluruhan: film ini bekerja. Dan box office $613,3 juta adalah bukti paling konkret.

David Frankel & Aline Brosh McKenna — Tim Kreatif yang Tahu Formula

Di Hollywood, banyak sekuel gagal karena mengganti sutradara atau penulis. The Devil Wears Prada 2 melakukan hal sebaliknya: David Frankel kembali sebagai sutradara, dan Aline Brosh McKenna — penulis naskah film pertama yang juga menulis Crazy Rich Asians — kembali menulis skenario.

Kontinuitas kreatif ini bukan kebetulan. McKenna memahami karakter-karakter ini karena dia yang menciptakannya untuk layar lebar. Frankel memahami visual tone film karena dia yang membangunnya 20 tahun lalu.

Hasilnya? Sekuel yang terasa seperti lanjutan natural, bukan produk yang dipaksakan oleh studio.

Plot: Lebih dari Sekadar Fashion dan Nostalgia

Cerita sekuel ini ternyata punya kedalaman yang tidak banyak orang duga.

Dua dekade setelah meninggalkan posisinya di Runway, Andy adalah jurnalis yang dihormati — sampai seluruh newsroom-nya dipecat via teks di tengah gala penghargaan. Secara bersamaan, Miranda mendapat masalah karena memuat puff piece tentang brand yang menggunakan sweatshop labor.

Untuk memperbaiki kredibilitas majalah, pemilik Elias-Clarke merekrut Andy sebagai features editor — tanpa persetujuan Miranda. Situasi yang canggung dan penuh potensi konflik.

Film ini kemudian mengungkap bagaimana Runway berjuang di era digital, bagaimana Andy harus membuktikan diri dengan cara yang berbeda dari masa lalunya, dan bagaimana Miranda — sang “devil” — ternyata juga manusia yang bisa kehilangan arah.

Ada subplot menarik: Irv Ravitz, pemilik Elias-Clarke dan atasan Miranda, meninggal di pesta ulang tahun ke-75. Putranya, Jay, mengambil alih — dan tidak punya sentimen terhadap fashion maupun Runway. Promosi Miranda ditunda. Konflik kekuasaan dimulai.

Film ini pada dasarnya adalah cerita tentang perubahan, adaptasi, dan apa yang terjadi ketika dunia bergerak lebih cepat dari yang kita siap. Tema yang universal — tidak hanya untuk fashion.

Kesimpulan: $613 Juta Bukan Angka Kebetulan

Ada formula di balik angka $613,3 juta itu:

  • Cast asli — bukan CGI, bukan aktor pengganti, bukan reboot
  • Writer & director asli — kontinuitas kreatif yang langka
  • Cerita yang menghormati penonton — bukan nostalgia murahan, tapi lanjutan yang punya makna sendiri
  • Tema universal — perubahan media, adaptasi, hubungan manusiawi

Di era di mana Hollywood dipenuhi franchise fatigue dan AI-generated content, The Devil Wears Prada 2 mengingatkan satu hal sederhana: cerita yang bagus, dieksekusi oleh orang yang tepat, tetap menang.

Miranda Priestly masih berkuasa. Dan Rp9,8 triliun di box office global adalah buktinya.

Referensi

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here