Misi Artemis II — misi berawak pertama NASA ke Bulan dalam lebih dari 50 tahun — bukan hanya soal perjalanan bersejarah ke luar angkasa. Di balik drama eksplorasi antariksa yang megah, ada masalah yang sangat manusiawi: toilet pesawat rusak, dan empat astronot di dalamnya harus beradaptasi.
“Kami akali saja,” kata mission specialist Christina Koch dengan santai saat menjawab pertanyaan seorang gadis 9 tahun dalam town hall live di “CBS Mornings.”
Itu inti cerita dari misi yang seharusnya berfokus pada pencapaian luar biasa umat manusia — tapi justru mendapat sorotan besar karena urusan kamar kecil di luar angkasa.
Masalah Dimulai Hari Pertama
Kendala toilet di kapsul Orion muncul sejak hari pertama peluncuran. Sistem yang dirancang canggih untuk mengelola limbah di gravitasi mikro mengalami gangguan intermiten — tidak pernah benar-benar mati, tapi juga tidak pernah berfungsi penuh.
Masalah utama ada di vent line — pipa yang bertugas membuang limbah ke luar angkasa. Pipa ini membeku. Tanpa jalur pembuangan yang berfungsi, tangki toilet tidak bisa kosong, membuat sistem secara keseluruhan tidak bisa dipakai.
Tim pengendali penerbangan NASA di Johnson Space Center langsung bertindak. Mereka mengubah orientasi kapsul Orion — memutar seluruh pesawat agar sinar matahari langsung mengenai vent line yang membeku. Tujuannya sederhana: hangatkan pipa dengan cahaya matahari, lelehkan es yang menyumbat.
Strategi “bake out” ini berhasil sebagian. Pipa agak mencair, tapi tangki tidak kosong sepenuhnya.
“Secara teknis, toilet bisa dipakai dengan nomor satu sekarang, tapi kami ingin menjaga tangki tetap setengah penuh sampai kami tahu pasti apa yang terjadi dengan vent line,” kata Flight Director Judd Frieling kepada kru. “Masih aman untuk nomor dua.”
“Contingency Collapsible Urinals” — Cadangan yang Mengganti 25 Pon Popok
Ketika toilet utama bermasalah, kru beralih ke sistem cadangan: CCU, atau contingency collapsible urinals.
CCU pada dasarnya adalah wadah plastik fleksibel yang bisa dilipat, disegel, dan dikosongkan. Setiap anggota kru membawa dua unit. Wadah ini dirancang khusus untuk mengumpulkan urine dan membuangnya ke luar angkasa secara independen — tanpa perlu sistem toilet utama.
Veteran astronot Don Pettit menjelaskan di platform X bahwa CCU adalah “wadah terbuka yang bisa digunakan ulang, disegel, dan dikuras, yang mengendalikan antarmuka udara-urine menggunakan gaya kapiler — mirip dengan Space Cup yang saya desain untuk minum kopi di luar angkasa.”
Pettit menambahkan satu angka yang menarik: satu CCU menggantikan kebutuhan sekitar 25 pon (sekitar 11 kg) popok. Dalam misi ke Bulan, setiap kilogram sangat berharga.
“Ketika Anda berada di ruang cislunar dengan toilet rusak, Anda butuh kontingensi,” tulis Pettit.
Pertanyaan dari Anak 9 Tahun
Semua ini mencuat kembali ketika kru Artemis II tampil live di “CBS Mornings” untuk town hall bersama anak-anak. Seorang gadis bernama Bridget, 9 tahun, mengajukan pertanyaan langsung:
“Kalian ngapain ketika toiletnya rusak? Apakah kalian biarkan saja melayang-melayang?”
Pertanyaan itu memancing tawa dari para astronot dan audiens.
Christina Koch menjawab: “Semua hal di pesawat luar angkasa biasanya punya sistem cadangan, jadi untungnya para insinyur sudah mengantisipasi itu dan kami pakai sistem cadangan kami. Kami berhasil melewatinya. Tidak semudah toilet canggih kami yang bagus itu, tapi kami akali saja.”
Pilot Victor Glover bahkan membuat lelucon tentang insiden itu — menyebutnya “constellation Urion,” referensi kreatif pada tetesan urine beku yang tetap melayang di luar angkasa setelah dibuang.
“Manusiawi Jika Orang Terobsesi dengan Toilet”
Ketika media terus memberitakan soal kendala toilet ini, Mission Management Team Chairman John Honeycutt menanggapinya dengan filosofis.
“Saya rasa ketertarikan orang pada toilet ini adalah sifat alami manusia,” kata Honeycutt. “Semua orang tahu betapa pentingnya hal itu bagi kita di Bumi, dan memang lebih sulit mengelolanya di luar angkasa.”
“Saya tahu kondisi kami saat ini baik, tapi saya sangat ingin semuanya dalam keadaan terbaik — demi kru. Tapi mereka baik-baik saja, dan mereka terlatih untuk mengelola situasi seperti ini.”
Di luar urusan toilet, misi Artemis II berjalan lancar. Trajektori pesawat hampir sempurna — dua kali berturut-turut, koreksi jalur yang dijadwalkan dibatalkan karena analisis menunjukkan pesawat sudah berada di jalur yang tepat.
Komandan Reid Wiseman dan Victor Glover sempat bergantian mengemudikan Orion secara manual untuk membantu insinyur memahami performa pesawat di penerbangan sesungguhnya.
Pemandangan yang Tak Terlupakan
Di tengah semua drama teknis ini, kru Artemis II tetap mengalami momen yang hanya bisa dinikmati segelintir manusia sepanjang sejarah.
Saat mendekati Bulan di akhir pekan Paskah, Victor Glover merenungkan keindahan ciptaan. “Kalian berbicara dengan kami karena kami berada di pesawat luar angkasa yang sangat jauh dari Bumi, tapi kalian sendiri berada di pesawat luar angkasa bernama Bumi yang diciptakan untuk memberi kita tempat tinggal di alam semesta,” katanya dalam wawancara dengan CBS News.
“Kamu mungkin berpikir apa yang kami lakukan ini istimewa karena jarak kami. Tapi kami punya jarak yang sama dengan kamu, dan percaya padaku — kamulah yang istimewa di antara semua kekosongan ini.”
Christina Koch menambahkan: “Bagi saya, semuanya kembali pada rasa syukur. Bahwa dari alam semesta yang begitu luas, kita bisa hidup bersama di planet Bumi — dan betapa anomali yang luar biasa itu.”
Mengapa Toilet di Luar Angkasa Begitu Sulit?
Ini bukan masalah sepele. Di Bumi, gravitasi melakukan hampir semua pekerjaan — air dan limbah mengalir ke bawah. Di luar angkasa, tidak ada “bawah.” Cairan melayang. Gas tidak naik atau turun. Setiap sistem yang dirancang untuk mengelola limbah harus memperhitungkan kondisi itu.
Toilet di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sudah sangat maju — menggunakan aliran udara untuk menarik limbah, bukan gravitasi. Tapi Orion adalah kapsul yang lebih kecil, dengan sistem yang lebih ringkas dan lebih rentan terhadap gangguan.
Vent line yang membeku di Artemis II menunjukkan salah satu tantangan terbesar eksplorasi antariksa: lingkungan yang tidak ramah terhadap hal-hal yang di Bumi kita anggap remeh.
Pelajaran untuk Artemis III dan Setelahnya
Masalah toilet di Artemis II bukan kegagalan — ini data. Setiap kendala yang muncul di misi ini memberikan informasi berharga untuk misi berikutnya.
Artemis III — yang direncanakan akan mendaratkan astronot di permukaan Bulan — akan membutuhkan sistem pendukung kehidupan yang bahkan lebih andal. Misi itu akan berdurasi lebih lama, dengan lebih banyak variabel yang harus dikelola.
Kenyataan bahwa kru Artemis II berhasil melewati kendala ini dengan sistem cadangan adalah bukti dari perencanaan NASA. Tapi juga pengingat bahwa eksplorasi antariksa, sehebat apa pun teknologinya, selalu melibatkan elemen improvisasi manusia.
“We made do” — kami akali saja. Empat kata sederhana yang merangkum esensi eksplorasi: ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, manusia menemukan cara.




