Tes Lidah Seharga Rp60 Ribu, Deteksi TBC dalam 30 Menit — WHO Resmikan Terobosan Baru
Mendiagnosis tuberkulosis — penyakit infeksi paling mematikan di dunia — kini bisa dilakukan tanpa laboratorium mahal, tanpa tenaga ahli khusus, dan dengan biaya yang setara satu bungkus kopi. Sebuah perangkat portabel bernama MiniDock MTB mendeteksi TBC dari usapan lidah dalam waktu kurang dari 30 menit, hanya dengan biaya sekitar $4 (~Rp60.000) per tes.
Hasil studi yang melibatkan 1.380 orang dari tujuh negara ini dipublikasikan pada 29 April 2026 di New England Journal of Medicine (NEJM). Sebulan kemudian, pada Maret 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi merekomendasikan tes ini — menjadi endorsement pertama untuk tes TBC yang bisa digunakan di fasilitas kesehatan komunitas tanpa laboratorium dan dengan pelatihan minimal.
“Rekomendasi ini membuka jalan untuk membawa tes molekuler TBC yang akurat langsung ke klinik-klinik tempat sebagian besar penderita TBC benar-benar datang,” kata Adithya Cattamanchi, ahli paru dari University of California, Irvine, yang memimpin penelitian ini.
Bagaimana Tes Lidah Ini Bekerja
Perangkat MiniDock MTB buatan perusahaan Pluslife Biotech dari Guangzhou, Tiongkok, mengubah paradigma diagnosis TBC yang selama ini bergantung pada sampel dahak dan infrastruktur laboratorium.
Prosedurnya sederhana: petugas kesehatan mengambil usapan dari permukaan lidah pasien — atau sampel dahak jika memungkinkan. Sampel dimasukkan ke tabung berisi cairan dan manik-manik lisis, lalu tabung dipanaskan dan diputar pada instrumen ThermoLyse untuk melepaskan materi genetik bakteri TB. Cairan hasil lisis kemudian diteteskan ke kartu tes yang dimuat ke platform MiniDock. Dalam 12 hingga 25 menit, lampu indikator pada perangkat menunjukkan hasil: positif atau negatif TBC.
Seluruh perangkat bisa beroperasi dengan power bank atau listrik dinding, berharga di bawah $400 untuk satu set lengkap, dan bisa digunakan oleh petugas kesehatan dengan keterampilan teknis dasar. Tidak perlu pipet presisi, tidak perlu ruang lab ber-AC, tidak perlu teknisi berpengalaman. Ini adalah contoh teknologi diagnostik portabel yang mengubah akses layanan kesehatan.
“Perangkat ini dirancang untuk bekerja di mana saja: klinik pedesaan, pos kesehatan komunitas, bahkan di luar ruangan,” ujar Cattamanchi, yang mengoptimalkan hampir satu dekade penelitian usapan oral untuk TBC.
Mengapa Ini Revolusioner
Untuk memahami besarnya terobosan ini, konteks masalah diagnosis TBC saat ini perlu dipahami. Metode konvensional — mikroskopi apus dahak — sudah digunakan selama sekitar 150 tahun dan masih menjadi andalan di banyak negara berkembang. Masalahnya, metode ini memiliki keterbatasan serius: setidaknya 1 dari 4 orang, termasuk anak-anak, penderita HIV, dan lansia, tidak bisa menghasilkan dahak yang memadai. Lebih dari 40 persen kasus TBC terlewat oleh mikroskopi apus.
Antibiotik bisa menyembuhkan TBC. Tapi dari lebih 10 juta orang yang menderita penyakit ini setiap tahunnya, lebih dari seperempatnya tidak terdiagnosis atau tidak mendapat pengobatan. Ini bukan masalah ketersediaan obat — ini masalah diagnosis yang tertunda atau tidak terjadi sama sekali.
WHO memang sudah merekomendasikan tes diagnostik yang menghasilkan salinan jejak DNA bakteri TB (teknologi NAAT — Nucleic Acid Amplification Test). Tes ini bisa mendeteksi penyakit dalam hitungan jam dan jauh lebih akurat. Tapi biayanya mahal dan membutuhkan infrastruktur laboratorium yang memadai, sehingga tidak terjangkau untuk puskesmas atau klinik lapangan di daerah terpencil.
MiniDock MTB menjembatangi celah ini. Akurasi perangkat ini: berhasil mendeteksi TBC pada 86 persen sampel dahak positif dan 80 persen sampel usapan lidah positif — memenuhi target akurasi WHO. Performa tes dahaknya mengungguli mikroskopi apus sebesar 24 persen dan sebanding dengan standar tes laboratorium mahal.
Emily MacLean, epidemiolog dari University of Sydney yang terlibat dalam skrining TBC menggunakan MiniDock, menekankan bahwa akurasi bukan segalanya. Bagi pasien yang tidak bisa menghasilkan dahak, usapan lidah adalah “perbedaan antara mendapatkan tes dan tidak mendapatkan apa-apa sama sekali.”
Konteks Indonesia: Peringkat Dua Beban TBC Global
Bagi Indonesia, terobosan ini bukan sekadar berita sains internasional — ini menyangkut nyawa jutaan orang. Menurut WHO Global Tuberculosis Report 2025, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam beban TBC setelah India, dengan perkiraan lebih dari 800.000 kasus baru setiap tahunnya.
Tantangan diagnosis di Indonesia sangat nyata. Ribuan puskesmas dan klinik di daerah terpencil — dari pedalaman Papua hingga kepulauan terpencil di Maluku — tidak memiliki akses ke laboratorium molekuler. Bahkan alat GeneXpert, yang menjadi standar diagnosis molekuler TBC di Indonesia, membutuhkan biaya sekitar $10-15 per tes dan infrastruktur yang jauh lebih kompleks dibanding MiniDock.
Dengan biaya Rp60.000 per tes dan perangkat seharga Rp6 juta, MiniDock berpotensi memperluas jangkauan diagnosis TBC secara dramatis. Bayangkan setiap puskesmas, bahkan klinik lapangan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), bisa mendiagnosis TBC dalam 30 menit tanpa mengirim sampel ke kota.
Deteksi lebih dini berarti penularan berkurang. Setiap penderita TBC yang terdiagnosis dan diobati bisa mencegah penularan ke 10-15 orang lainnya per tahun. Dalam konteks Indonesia, dampak populasi dari tes yang lebih murah dan lebih mudah diakses bisa sangat signifikan.
Tantangan & Catatan Penting
Meski menjanjikan, MiniDock MTB tidak sempurna. Perangkat ini tidak mendeteksi TBC resisten obat (drug-resistant TB), yang merupakan masalah serius di Indonesia. Pluslife saat ini sedang mempercepat pengembangan kartu tes yang bisa mendeteksi resistensi obat, tapi produk itu belum tersedia.
Sensitivitas tes juga menurun jika sampel mengandung sedikit bakteri — situasi yang umum terjadi pada tahap awal penyakit. “Ini bukan masalah khusus untuk usapan lidah,” kata MacLean. “Ketika bakteri dalam jumlah sedikit, memang lebih sulit bagi tes apa pun untuk menemukan sinyal.”
Amira Roess, epidemiolog dari George Mason University, menyarankan MiniDock digunakan bersamaan dengan tes lain untuk meningkatkan kemungkinan deteksi dini TBC. Cattamanchi sendiri menekankan bahwa usapan lidah tidak bisa menggantikan setiap tes, tapi bisa menjadi “alat yang memberikan tes yang tepat kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat.”
Tantangan implementasi di Indonesia meliputi: evaluasi regulasi oleh BPOM, distribusi perangkat ke daerah terpencil, pelatihan tenaga kesehatan, dan integrasi dengan sistem kesehatan nasional. WHO menekankan pentingnya pelibatan organisasi masyarakat sipil dan komunitas untuk komunikasi awal, penciptaan permintaan, pengiriman, dan pemantauan tes ini di area baru.
Pluslife & Ketersediaan Global
Produk Pluslife Biotech — kartu tes MTBC Nucleic Acid Test Card — saat ini sudah tersedia melalui Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria serta Stop TB Partnership Global Drug Facility. Ini berarti negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah bisa mengakses produk ini melalui mekanisme pengadaan global, tanpa harus melalui negosiasi bilateral yang rumit.
WHO menetapkan bahwa semua produk NAAT TBC yang direkomendasikan harus menyelesaikan proses pra-kualifikasi dalam dua tahun agar tetap bisa diadakan secara resmi oleh PBB. Proses pra-kualifikasi untuk produk TB NAAT diperluas untuk mencakup NPOC-NAAT pada Agustus 2025 — sebuah langkah yang membuka pintu bagi lebih banyak produsen untuk memasuki pasar diagnostik TBC.
Bagi Indonesia, jalur pengadaan ini bisa menjadi alternatif yang lebih cepat dibandingkan mengembangkan alat diagnostik sendiri dari nol. Kementerian Kesehatan dan BPOM bisa memanfaatkan data WHO untuk mempercepat proses evaluasi dan izin edar, sehingga perangkat ini bisa segera digunakan di fasilitas kesehatan tanah air.
Langkah Selanjutnya
Tim Cattamanchi saat ini juga menguji diagnostik TBC berbasis pola RNA dalam darah, protein, dan metabolit — yang berpotensi mendeteksi penyakit tanpa memerlukan spesimen apa pun dari saluran napas. Ini bisa menjadi lompatan berikutnya setelah era usapan lidah.
Tapi untuk saat ini, MiniDock MTB sudah ada dan sudah direkomendasikan WHO. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan mengubah lanskap diagnosis TBC, tapi seberapa cepat negara-negara — termasuk Indonesia — bisa mengadopsinya.
Bagi Indonesia, pertanyaan itu mendesak. Setiap hari yang berlalu tanpa diagnosis yang lebih baik berarti penularan yang terus berlanjut dan nyawa yang bisa diselamatkan tapi terbuang. Dengan alat seharga Rp60.000 dan hasil dalam 30 menit, tidak ada alasan lagi untuk tidak bertindak.
Sumber: New England Journal of Medicine, Science News, WHO




