Blue Moon 31 Mei 2026 — Fenomena Langka Hiasi Langit Indonesia Malam Ini
Malam ini, 31 Mei 2026, langit Indonesia akan disaksikan oleh fenomena astronomi yang hanya terjadi setiap 2-3 tahun sekali: Blue Moon. Bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender ini akan terbit sekitar pukul 17.30-18.00 waktu setempat dan bisa diamati dari seluruh pelosok Nusantara — asalkan langit cerah.
Tapi tunggu dulu — jangan berharap bulan akan berubah warna jadi biru. Kenyataannya justru lebih menarik.
Apa Itu Blue Moon? Jawabannya Bukan yang Kamu Pikirkan
Blue Moon tidak berwarna biru. Faktanya, bulan purnama malam ini akan tampak persis seperti bulan purnama pada umumnya — berwarna putih kekuningan.
Blue Moon adalah istilah kalender, bukan deskripsi warna. Secara definisi astronomis, Blue Moon terjadi ketika ada dua bulan purnama dalam satu bulan kalender. Purnama pertama di bulan Mei 2026 terjadi pada 1 Mei — yang dikenal sebagai Flower Moon. Dan purnama kedua, malam ini 31 Mei, itulah yang disebut Blue Moon.
Istilah “Blue Moon” sendiri memiliki akar sejarah yang menarik. Salah satu referensi tertulis paling awal muncul pada 1528 dalam pamflet keagamaan karya dua biarawan Greenwich, William Roy dan Jerome Barlow. Saat itu, frasa ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang jelas-jelas tidak masuk akal — persis seperti makna “sekali dalam Blue Moon” (once in a blue moon) yang kita kenal sekarang.
Definisi modern yang populer — purnama kedua dalam satu bulan — ternyata berasal dari kesalahpahaman. Pada Maret 1946, penulis James Hugh Pruett menulis di majalah Sky & Telescope dan keliru menginterpretasikan definisi yang digunakan oleh Maine Farmers’ Almanac. Penelitian selanjutnya oleh Phillip Hiscock (dimuat di Sky & Telescope, Maret 1999) mengungkap bahwa definisi asli sebenarnya bersifat musiman, bukan bulanan.
Mengapa Blue Moon Bisa Terjadi?
Kunci jawabannya ada pada perbedaan panjang siklus bulan dan kalender.
Satu siklus lunar — dari purnama ke purnama berikutnya — berlangsung selama 29,5 hari. Sementara bulan kalender memiliki 30 atau 31 hari. Selisih satu atau dua hari inilah yang menyebabkan “kelebihan” satu purnama dalam bulan tertentu.
Skemanya sederhana:
- 1 Mei 2026 — Flower Moon (purnama pertama bulan Mei)
- 31 Mei 2026 — Blue Moon (purnama kedua, hanya 30 hari setelahnya)
Karena siklus lunar 29,5 hari, purnama kedua “terdorong” masuk ke bulan yang sama. Fenomena ini terjadi rata-rata setiap 33 bulan atau sekitar 2-3 tahun sekali.
Blue Moon 31 Mei 2026 — Bisa Dilihat dari Seluruh Indonesia
Menurut penjelasan dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Blue Moon malam ini dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia. Bulan akan terbit sekitar pukul 17.30-18.00 waktu setempat dan dapat disaksikan sepanjang malam selama kondisi langit cerah.
Kunci observasi yang baik:
- Pilih lokasi minim polusi cahaya — jauh dari lampu kota
- Pastikan langit tidak berawan
- Waktu terbaik: setelah matahari terbenam hingga tengah malam
“Blue Moon adalah fenomena kalender, bukan fenomena atmosfer. Secara visual, bulan akan tampak sama seperti bulan purnama biasa,” demikian penjelasan umum dari para astronom mengenai peristiwa ini.
Bonus Malam Ini: Blue Moon Berdampingan dengan Antares
Ada kejutan tambahan untuk pengamat langit malam ini. Blue Moon akan tampak berdekatan dengan Antares — bintang merah terang di konstelasi Scorpius (Kalajengking).
Antares merupakan salah satu bintang paling terang di langit malam dengan magnitudo sekitar 1,0. Warnanya yang kemerahan akan menciptakan kontras visual yang menarik dengan warna putih kekuningan Blue Moon. Untuk melihat formasi ini, arahkan pandangan ke timur-tenggara setelah matahari terbenam.
Kombinasi Blue Moon + Antares ini bukan kejadian setiap hari — dan menjadikannya momen yang layak untuk dinikmati, bahkan difoto.
Kapan Blue Bisa Jadi Benar-Benar Biru?
Meskipun Blue Moon malam ini tidak berwarna biru, bulan bisa memang tampak biru dalam kondisi atmosfer yang sangat langka.
Setelah letusan gunung berapi besar atau kebakaran hutan skala masif, partikel abu dan debu berukuran sekitar satu mikron dapat terlempar tinggi ke atmosfer. Partikel seukuran ini mampu menghamburkan gelombang cahaya merah dan kuning, sehingga bulan tampak berwarna biru atau lavender.
Contoh bersejarah:
- 1883 — Letusan Krakatoa di Indonesia menghasilkan bulan biru yang terlihat di seluruh dunia selama berbulan-bulan
- 1980 — Letusan Gunung St. Helens di Washington State juga menghasilkan efek serupa
Efek ini bersifat sementara dan bergantung sepenuhnya pada kondisi atmosfer, bukan pada bulan itu sendiri. Dan tidak, tidak ada prediksi bulan biru sungguhan dalam waktu dekat.
Sejarah dan Frekuensi Blue Moon
Blue Moon bukanlah fenomena baru. Ini sudah terjadi selama berabad-abad dengan pola yang bisa diprediksi:
- Terakhir terjadi: 30 Agustus 2023 (juga merupakan supermoon)
- Saat ini: 31 Mei 2026 — Monthly Blue Moon
- Berikutnya: 20 Mei 2027 — Seasonal Blue Moon
- 2029: 24 Agustus — Seasonal Blue Moon
Perlu dicatat bahwa ada tiga jenis Blue Moon yang diakui:
- Monthly Blue Moon — Dua purnama dalam satu bulan kalender (definisi paling populer)
- Seasonal Blue Moon — Purnama ketiga dalam satu musim yang memiliki empat purnama (definisi asli almanac)
- Astrological Blue Moon — Dua purnama saat Matahari berada di tanda zodiak yang sama
Blue Moon malam ini (31 Mei 2026) adalah Monthly Blue Moon — tipe yang paling dikenal masyarakat umum.
Tips Memotret Blue Moon Malam Ini
Buat yang ingin mengabadikan momen ini, berikut tips praktis untuk fotografi Blue Moon:
- Gunakan mode Pro/Manual di smartphone atau kamera DSLR/mirrorless
- ISO rendah (100-200) untuk meminimalkan noise
- Shutter speed cepat (1/125 atau lebih cepat) agar bulan tidak blur
- Gunakan tripod atau letakkan kamera di permukaan stabil
- Hindari zoom digital — lebih baik crop hasil foto di post-processing
- Timing terbaik: saat bulan baru terbit (sekitar 17.30-18.00), ketika bulan masih relatif rendah di horizon dan tampak lebih besar — efek yang dikenal sebagai Moon Illusion
Jangan lupa cari sudut yang menarik — bisa dengan siluet bangunan, pohon, atau gunung di latar depan. Dan kalau beruntung, kamu bisa menangkap Blue Moon + Antares dalam satu frame.
Penutup
Blue Moon malam ini mungkin tidak berwarna biru, tapi tetap merupakan momen langka yang layak untuk dinikmati. Dengan frekuensi kemunculan hanya setiap 2-3 tahun, ini kesempatan bagus untuk mengajak keluarga dan teman menikmati langit malam Indonesia — dan siapa tahu, mendapatkan foto yang menarik.
Jangan lewatkan. Karena berikutnya baru terjadi lagi di 2029. Dan kalau kamu melewatkannya malam ini, kamu benar-benar harus menunggu “sekali dalam Blue Moon” — literally.




