HomeAstronomiCuaca Antariksa Bikin Sinyal Alien dari SETI Terlewat

Cuaca Antariksa Bikin Sinyal Alien dari SETI Terlewat

Date:

Related stories

Starlink Resmi Dukung Artemis III, Kirim Citra Bulan Cepat

Integrasi Jaringan Komersial dalam Misi Pendaratan Bulan Berawak Administrasi Penerbangan...

Promo Pixel 10a di T-Mobile, Hemat Hingga $800

Penawaran Spesial T-Mobile untuk Google Pixel 10a Operator seluler terkemuka...

Trailer ‘Everybody Digs Bill Evans’ Resmi Dirilis: Anders Danielsen Lie sebagai Bill Evans

Trailer Pertama "Everybody Digs Bill Evans" Resmi Dirilis Modern Films...

Meteorit yang Jatuh di New Jersey Mengandung ‘Kimia Dunia Alien’

Meteorit CM1/2 carbonaceous chondrite yang jatuh di New Jersey Juli 2024 mengandung molekul prebiotik dan cairan asin yang disebut para ilmuwan sebagai 'ki

Seberapa Volatil Saham AS di Luar Jam Bursa?

Pergerakan harga saham di bursa Amerika Serikat pada sesi...

Peneliti dari SETI Institute mengungkapkan bahwa sinyal radio dari peradaban alien yang selama ini dicari mungkin sudah terlewatkan karena pengaruh cuaca antariksa. Angin plasma dari bintang-bintang dapat mendistorsi sinyal tajam yang selama ini dianggap sebagai indikator utama kecerdasan extraterrestrial, membuatnya lebih lemah dan melebar di pita frekuensi.

Temuan ini mengubah cara pandang komunitas ilmiah terhadap upaya pencarian kehidupan di luar Bumi yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun. Alih-alih mencari sinyal sempit dan terdefinisi jelas, para ilmuwan kini harus memperhitungkan efek pembelokan sinyal yang terjadi saat gelombang radio melintasi medium antarbintang. Penelitian ini memberikan perspektif baru tentang mengapa SETI belum berhasil mendeteksi sinyal dari peradaban lain.

Sinyal yang Berubah di Perjalanan

Program SETI selama ini beroperasi dengan asumsi bahwa sinyal buatan peradaban asing akan muncul sebagai sinyal radio tajam pada rentang frekuensi sempit. Sinyal seperti itu dianggap tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena kosmologis alami, sehingga menjadi penanda kuat keberadaan teknologi alien. Asumsi ini menjadi landasan strategi pencarian selama lebih dari lima dekade.

Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa sinyal-sinyal tersebut mengalami perubahan signifikan saat melintasi angin plasma bintang. Medium antarbintang tidak kosong sepenuhnya, melainkan dipenuhi partikel bermuatan yang dapat memodifikasi karakteristik gelombang radio selama perjalanannya.

Vishal Gajjar dan Grayce Brown dari SETI Institute menghitung dampak efek ini pada transmisi radio dari wahana antariksa di tata surya kita sendiri. Mereka kemudian mengekstrapolasi hasil perhitungan tersebut ke lingkungan bintang lainnya.

Hasilnya cukup mengejutkan. Sinyal dengan frekuensi 100 megahertz dapat melebar hingga 100 hertz selama perjalanan. Pelebaran ini tampaknya kecil, namun cukup untuk membuat sinyal tersebut jatuh di bawah ambang deteksi tradisional yang selama ini digunakan.

Peristiwa cuaca antariksa tertentu dapat meningkatkan jumlah pembelokan yang dialami sinyal hingga beberapa orde magnitudo. Artinya, kondisi angin bintang yang intens bisa membuat sinyal yang sebenarnya kuat menjadi hampir tidak terdeteksi oleh instrumen yang ada saat ini. Fenomena ini mirip dengan bagaimana turbulensi atmosfer membuat bintang terlihat berkelap-kelip, namun terjadi pada skala frekuensi radio.

Ancaman Teknologi Komunikasi Modern

Simon George dari SETI Institute menilai bahwa pendekatan mencari siaran radio sempit yang secara tidak sengaja terpancar ke ruang angkasa sudah mulai usang. Peradaban cerdas kemungkinan besar tidak akan mengirim sinyal seperti itu, terutama ketika melihat bagaimana teknologi komunikasi berevolusi sejak era 1960-an.

Terjadi pergeseran dramatis menuju teknik broadband dan spread-spectrum karena mampu membawa jauh lebih banyak informasi. George mengajak untuk memandang Bumi seperti eksoplanet yang diamati oleh peradaban alien.

Pada era 1960-an, Bumi merupakan sumber sinyal sempit yang kuat. Kini, sinyal tersebut jauh lebih lemah dan terus mengalami penurunan tren. Hal ini berlaku jika peradaban lain juga mengikuti pola evolusi teknologi yang serupa dengan umat manusia.

Pandangan Optimis dari Komunitas Ilmiah

John Elliott dari University of St Andrews di Inggris memilih melihat temuan ini dari sisi positif. Pencarian sebelumnya mungkin telah melewatkan bukti, namun pencarian di masa depan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil karena parameter deteksi kini lebih luas. Penyesuaian algoritma dan ambang deteksi dapat mengkompensasi efek distorsi yang sebelumnya tidak diperhitungkan.

Elliott menekankan bahwa lebih dari 50 tahun penelitian aktif sebenarnya masih sekejap mata dalam skala waktu kosmik. Selain distorsi sinyal, teknologi yang tidak memadai untuk mengekstrak sinyal dari kebisingan juga menjadi hambatan utama selama ini.

Komputasi dan kecerdasan buatan yang semakin kuat mulai mengubah lanskap pencarian. Elliott memproyeksikan bahwa 1.000 tahun ke depan, teknologi manusia akan mencapai level yang saat ini terlihat seperti sihir.

Skeptisisme dan Realitas

Eric Atwell dari University of Leeds, yang terlibat dengan SETI sejak pergantian milenium, memberikan perspektif lebih skeptis. Ia memperkirakan temuan ini mungkin menaikkan peluang menemukan sinyal alien dari 0,0001 persen menjadi 0,0002 persen, tetap sangat rendah.

Atwell menilai upaya SETI bukan pemborosan waktu. Mereka telah mencoba berbagai pendekatan dan memiliki bukti kuat bahwa apa yang mereka coba tidak berhasil, karena belum menemukan apa pun. Metode mendeteksi sinyal aneh yang tidak dapat dijelaskan oleh fitur astronomi known tetap merupakan cara yang kurang tepat untuk menemukan kehidupan cerdas. Ia menambahkan bahwa pencarian SETI selama ini ibarat mencari jarum di tumpukan jerami tanpa mengetahui bentuk jarum yang sebenarnya.

Atwell juga meragukan bahwa menunggu secara pasif bukti kehidupan yang terpancar secara tidak sengaja adalah pendekatan yang tepat. Ia berpendapat bahwa jika benar ada alien yang ingin ditemukan, mereka akan mengirim sinyal yang jauh lebih eksplisit dan mudah dikenali.

Pendekatan Alternatif: METI

Sementara SETI mendengarkan secara pasif, organisasi Messaging Extraterrestrial Intelligence mengambil pendekatan berbeda. METI berencana untuk secara aktif memancarkan sinyal ke planet-planet lain, dengan harapan kehidupan di luar sana juga sedang mendengarkan.

Perdebatan antara pendekatan pasif dan aktif ini terus berkembang di komunitas ilmiah. Temuan terbaru tentang distorsi sinyal oleh cuaca antariksa menambah dimensi baru dalam diskusi ini, karena memengaruhi kedua pendekatan secara berbeda.

  • Peletakan parameter deteksi baru dapat memperluas jangkauan pencarian sinyal extraterrestrial di masa depan
  • Teknologi kecerdasan buatan dan komputasi tinggi menjadi kunci untuk mengekstrak sinyal kabur dari kebisingan latar belakang kosmik
  • Evolusi komunikasi dari narrowband ke broadband berlaku untuk peradaban manapun, termasuk manusia

Referensi

Latest stories

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here