“`html
Para astronom mengungkap bukti baru bahwa komet antarbintang 3I/ATLAS berusia 10 hingga 12 miliar tahun, menjadikannya lebih dari dua kali lipat usia tata surya kita. Penemuan ini berdasarkan analisis rasio isotop karbon dan deuterium yang menunjukkan objek tersebut terbentuk di tepi disk protoplanetary bintang induknya miliaran tahun lalu.
Konfirmasi dari Very Large Telescope
Tim peneliti yang dipimpin Cyrielle Opitom dari University of Edinburgh menggunakan Ultraviolet and Visual Echelle Spectrograph (UVES) pada Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory. Hasil observasi mereka mengkonfirmasi temuan James Webb Space Telescope (JWST) mengenai isotop karbon dan menambahkan pengukuran isotop nitrogen yang menghasilkan kesimpulan menarik.
Sebelumnya, Martin Cordiner dari NASA Goddard Space Flight Center memimpin riset yang mengungkapkan data JWST menunjukkan usia komet 3I/ATLAS antara 10-12 miliar tahun berdasarkan rasio isotop karbon dan deuterium. Temuan awal ini sekarang mendapat dukungan kuat dari observasi VLT yang independen.
Isotop sebagai Penanda Waktu
Isotop adalah versi elemen atom dengan jumlah neutron berbeda. Karbon-12 mengandung enam proton dan enam neutron, sementara karbon-13 memiliki enam proton dan tujuh neutron. Nitrogen-14 memiliki tujuh proton dan tujuh neutron, sedangkan nitrogen-15 mengandung tujuh proton dan delapan neutron.
Isotop-isotop ini terbentuk melalui proses yang berbeda, pada waktu dan lokasi berbeda di galaksi. Rasio isotop dalam gas yang dilepaskan komet 3I/ATLAS ke koma dan ekor saat mendekati Matahari dan memanas dapat mengungkap banyak hal tentang asal-usul dan sejarah objek tersebut.
“Objek antarbintang seperti 3I/ATLAS adalah semacam fosil dari proses pembentukan planet yang terjadi sangat jauh, tapi kita mendapat kesempatan untuk mempelajarinya dari jarak lebih dekat,” kata Opitom dalam pernyataan resmi.
Rasio Karbon yang Tidak Biasa
Tim Opitom menemukan bahwa rasio karbon-12 terhadap karbon-13 lebih tinggi dibandingkan komet di tata surya kita maupun medium antarbintang lokal. Karbon-13 diproduksi dalam kelimpahan lebih besar daripada karbon-12 seiring berjalannya waktu, biasanya di bintang raksasa merah.
Fakta bahwa terdapat jauh lebih banyak karbon-12 daripada karbon-13 dalam komet 3I/ATLAS menunjukkan objek ini terbentuk sebelum banyak bintang raksasa merah memperkaya medium antarbintang dengan karbon-13. Ini konsisten dengan usia yang sangat tua, sekitar 10-12 miliar tahun.
Usia ini menempatkan pembentukan 3I/ATLAS pada era awal galaksi Bima Sakti, ketika tata surya kita belum ada. Sebagai perbandingan, tata surya kita baru terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun lalu.
Implikasi untuk Pemahaman Pembentukan Planet
Penemuan ini memberikan wawasan langka tentang proses pembentukan planet di sistem bintang lain pada era awal galaksi. Komet 3I/ATLAS berfungsi sebagai kapsul waktu yang membawa informasi kimiawi dari masa ketika galaksi masih muda.
Data isotop nitrogen dari VLT menambahkan dimensi baru dalam pemahaman komposisi komet antarbintang ini. Pengukuran lengkap dari kedua teleskop terkemuka dunia memberikan gambaran lebih utuh tentang kondisi di lingkungan pembentukan 3I/ATLAS miliaran tahun lalu.
Komet antarbintang seperti 3I/ATLAS sangat langka dan berharga bagi ilmu pengetahuan. Setiap objek yang memasuki tata surya kita dari ruang antarbintang membawa cerita unik tentang sistem bintang asalnya dan kondisi galaksi pada masa pembentukan.
Proses Observasi Berkelanjutan
3I/ATLAS terus diamati saat mendekati Matahari, memungkinkan para astronom mengumpulkan lebih banyak data tentang komposisi dan karakteristiknya. Kombinasi data dari JWST dan VLT menunjukkan kekuatan kolaborasi internasional dalam astronomi modern.
Very Large Telescope yang berlokasi di Cile dan James Webb Space Telescope yang mengorbit di titik Lagrange L2 saling melengkapi dalam kemampuan observasi mereka. JWST unggul dalam pengamatan inframerah, sementara VLT memberikan data spektroskopi ultraviolet dan visual yang detail.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal astronomi terkemuka dan menjadi bagian dari upaya global untuk memahami objek antarbintang yang mengunjungi tata surya kita. Setiap penemuan membawa kita lebih dekat untuk memahami keragaman sistem planet di galaksi Bima Sakti.
Referensi
“`

