Misteri Terpecahkan: Lembaran Materi Gelap Raksasa yang ‘Mengemudikan’ Galaksi Bima Sakti
Indfir.com — Selama puluhan tahun, para astronom telah dihantui oleh sebuah pertanyaan mendasar tentang lingkungan kosmik kita: Mengapa galaksi tetangga kita, Andromeda, meluncur lurus ke arah Bima Sakti sementara hampir semua galaksi lain di alam semesta saling menjauh akibat perluasan ruang angkasa? Kini, sebuah penelitian terobosan yang dirilis pada Februari 2026 memberikan jawaban yang mengejutkan. Ternyata, galaksi kita tidaklah sendirian di ruang hampa yang kosong; kita sedang “mengambang” di atas sebuah lembaran materi gelap (dark matter sheet) raksasa yang membentang jutaan tahun cahaya.
Penemuan ini, yang dipimpin oleh tim peneliti internasional dan dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy, menunjukkan bahwa Bima Sakti dan Andromeda tertanam di dalam sebuah struktur datar berskala besar yang terdiri dari materi gelap yang tidak terlihat. Struktur ini bertindak seperti “jalan tol” gravitasi atau landasan kosmik yang mengatur pergerakan galaksi-galaksi di lingkungan lokal kita.
Apa Itu Lembaran Materi Gelap?
Materi gelap adalah zat misterius yang tidak memancarkan, menyerap, atau memantulkan cahaya, sehingga tidak bisa dilihat secara langsung oleh teleskop. Namun, keberadaannya diketahui melalui pengaruh gravitasinya terhadap materi yang terlihat. Ilmuwan memperkirakan bahwa materi gelap menyusun sekitar 85% dari total materi di alam semesta. Tanpa materi gelap, galaksi seperti Bima Sakti akan hancur berantakan karena bintang-bintang di pinggirannya bergerak terlalu cepat untuk ditahan oleh gravitasi materi yang terlihat saja.
Menurut simulasi komputer terbaru yang paling canggih hingga saat ini, materi gelap di sekitar Bima Sakti tidak hanya membentuk gumpalan atau “halo” bulat seperti yang diperkirakan sebelumnya. Sebaliknya, ia membentuk lembaran tipis dan datar yang sangat luas. Struktur ini disebut sebagai Local Sheet atau Lembaran Lokal. Lembaran ini diperkirakan memiliki ketebalan hanya sekitar 1,5 juta tahun cahaya, namun membentang hingga puluhan juta tahun cahaya secara horizontal.
Di atas dan di bawah lembaran ini terdapat “void” atau lubang kosong raksasa yang hampir tidak memiliki materi sama sekali. Kondisi ini menciptakan tekanan dinamis yang memaksa galaksi-galaksi di dalam lembaran untuk bergerak dalam pola yang sangat teratur. “Ini seperti kita sedang berada di atas selembar kertas besar di tengah-tengah ruang kosong,” jelas salah satu penulis utama penelitian tersebut. “Gravitasi dari lembaran materi gelap ini begitu kuat sehingga ia mendominasi gerakan galaksi-galaksi di sekitarnya, menjelaskan mengapa Andromeda dan Bima Sakti saling tarik-menarik dengan cara yang sangat spesifik, sementara galaksi lain di luar lembaran ini tampak menjauh.”
Sejarah Singkat Pencarian Materi Gelap
Konsep materi gelap bukanlah hal baru. Pada tahun 1930-an, astronom Fritz Zwicky memperhatikan bahwa galaksi dalam gugus Coma bergerak jauh lebih cepat daripada yang dimungkinkan oleh massa bintang yang terlihat. Namun, ide ini baru mendapatkan momentum pada tahun 1970-an berkat pengamatan Vera Rubin terhadap rotasi galaksi spiral. Rubin menemukan bahwa bagian luar galaksi berputar secepat bagian tengahnya—sebuah anomali yang hanya bisa dijelaskan jika ada massa tersembunyi yang sangat besar di luar cakram galaksi.
Sejak saat itu, para ilmuwan telah mencoba memetakan distribusi materi gelap ini. Awalnya, diasumsikan bahwa materi gelap membentuk awan bulat (halo) di sekitar galaksi. Namun, seiring dengan meningkatnya resolusi simulasi kosmologis, para peneliti mulai menyadari bahwa pada skala yang lebih besar, materi gelap membentuk jaringan rumit yang disebut “Cosmic Web” atau Jaring Kosmik, yang terdiri dari filamen dan lembaran. Penemuan terbaru ini mengonfirmasi bahwa Bima Sakti berada tepat di persimpangan salah satu lembaran raksasa tersebut.
Implikasi Bagi Masa Depan Kosmik Kita
Penemuan ini bukan sekadar statistik astronomi yang baru. Ini mengubah cara kita memahami struktur skala besar alam semesta. Jika galaksi kita benar-benar berada di atas lembaran materi gelap, maka model-model kosmik masa lalu yang mengasumsikan distribusi materi yang lebih acak atau bulat harus ditinjau kembali.
Salah satu pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana lembaran ini akan mempengaruhi masa depan jangka panjang Grup Lokal. Kita tahu bahwa sekitar 4,5 miliar tahun dari sekarang, Bima Sakti dan Andromeda diperkirakan akan bertabrakan dan bergabung menjadi satu galaksi elips raksasa yang sering disebut sebagai “Milkomeda”. Dengan adanya landasan materi gelap ini, para astronom sekarang dapat menghitung jalur tabrakan tersebut dengan jauh lebih presisi.
“Kami sekarang dapat melihat bahwa tabrakan ini bukan hanya pertemuan acak antara dua galaksi,” kata Dr. Sarah Thompson, ahli astrofisika yang mengamati penelitian ini. “Ini adalah hasil dari aliran gravitasi terarah yang dipandu oleh lembaran materi gelap ini. Ini seperti dua mobil yang meluncur di atas rel yang sama menuju satu titik temu.”
Teknologi di Balik Penemuan
Bagaimana para ilmuwan bisa “melihat” lembaran yang tidak terlihat ini? Kuncinya adalah kombinasi antara data observasi presisi tinggi dan simulasi komputer super-cepat. Data dari misi Gaia milik ESA memberikan peta kecepatan bintang-bintang dan galaksi-galaksi tetangga dengan detail yang belum pernah ada sebelumnya. Para peneliti kemudian menggunakan algoritma pembelajaran mesin (Machine Learning) untuk mencocokkan pola gerakan tersebut dengan ribuan skenario distribusi materi gelap yang berbeda.
Hanya skenario “lembaran datar” yang mampu menjelaskan mengapa galaksi-galaksi di sekitar kita bergerak dengan cara yang sangat sinkron. Tanpa kemajuan dalam komputasi awan dan AI, penemuan semacam ini mungkin akan memakan waktu dekade lebih lama untuk terungkap.
Sumber Terpercaya dan Konteks Tambahan:
- NASA: Anatomy of the Milky Way
- Wikipedia: Dark Matter (Materi Gelap)
- Phys.org: Local Sheet and Galactic Motion
Sumber: Dilansir dari Daily Galaxy dan The Brighter Side of News (Februari 2026). Artikel ini ditulis untuk platform indfir.com.

