Dunia astronomi kembali dikejutkan dengan penemuan sebuah planet yang sangat mirip dengan Bumi dalam hal ukuran dan orbit, namun memiliki karakteristik suhu yang sangat kontras. Planet kandidat yang dinamakan HD 137010 b ini ditemukan oleh tim ilmuwan internasional melalui analisis data arsip dari misi K2 Teleskop Luar Angkasa Kepler milik NASA. Meskipun memiliki banyak kesamaan fisik dengan planet kita, HD 137010 b diperkirakan memiliki suhu permukaan yang bahkan lebih ekstrem dinginnya dibandingkan planet Mars, menjadikannya sebuah dunia es yang misterius.
Para astronom sering kali memfokuskan pencarian mereka pada “Bumi kedua” yang terletak di zona layak huni bintang-bikit jauh, di mana air cair dapat eksis di permukaan. Namun, HD 137010 b memberikan perspektif baru tentang keragaman planet terestrial yang ada di galaksi kita. Terletak sekitar 146 tahun cahaya dari Tata Surya kita di rasi bintang Libra, planet ini mengorbit sebuah bintang jenis kerdil-K yang secara substansial lebih redup dibandingkan Matahari kita.
Karakteristik Fisik: Sangat Mirip Bumi
Berdasarkan data yang dipublikasikan dalam laporan ilmiah terbaru, HD 137010 b memiliki radius sekitar 1,1 kali radius Bumi. Ukuran ini menempatkannya dalam kategori planet “Super-Earth”, namun sangat mendekati proporsi planet kita sendiri. Dengan massa yang diperkirakan juga sebanding, planet ini hampir dipastikan memiliki komposisi batuan dan silikat, mirip dengan Bumi, Venus, dan Mars.
Salah satu aspek yang paling mencolok dari HD 137010 b adalah periode orbitnya. Planet ini membutuhkan waktu sekitar 354 hari untuk menyelesaikan satu kali putaran mengelilingi bintang induknya. Sebagai perbandingan, Bumi membutuhkan 365,25 hari. Kemiripan periode orbit ini sangat jarang ditemukan pada eksoplanet batuan yang sejauh ini lebih banyak ditemukan mengorbit sangat dekat dengan bintang mereka (orbit pendek). Jarak orbit yang hampir 1 Satuan Astronomi (AU) ini awalnya memberikan harapan akan adanya iklim yang mirip Bumi.
Mengapa Planet Ini Menjadi “Dunia Beku”?
Pertanyaan besar muncul: jika orbit dan ukurannya mirip Bumi, mengapa planet ini justru lebih dingin dari Mars? Rahasianya terletak pada sumber energinya, yaitu bintang HD 137010. Bintang ini adalah kerdil oranye (tipe spektrum K) yang memiliki suhu permukaan lebih rendah dan luminositas yang jauh lebih kecil daripada Matahari kita yang merupakan kerdil kuning (tipe G).
Karena bintang induknya memancarkan energi yang jauh lebih sedikit, planet yang berada pada jarak 1 AU darinya hanya menerima sebagian kecil dari radiasi yang diterima Bumi dari Matahari. Tim peneliti memperkirakan bahwa fluks energi yang diterima HD 137010 b hanya sekitar 30% hingga 40% dari fluks surya yang kita nikmati. Akibatnya, suhu rata-rata permukaan planet ini diperkirakan mencapai minus 68 derajat Celsius (-90 derajat Fahrenheit). Sebagai perbandingan, rata-rata suhu permukaan Mars adalah sekitar minus 65 derajat Celsius. Hal ini menjadikan HD 137010 b secara teknis lebih dingin dan lebih beku daripada “Planet Merah” di sistem kita sendiri.
Tantangan dan Harapan Bagi Kehidupan
Dalam pandangan tradisional astrobiologi, suhu minus 68 derajat Celsius dianggap terlalu dingin bagi air cair untuk bertahan di permukaan, yang merupakan syarat utama bagi kehidupan seperti yang kita kenal. Namun, para ilmuwan tidak serta merta mencoret planet ini dari daftar target penelitian. Keberadaan atmosfer menjadi variabel penentu yang krusial.
Jika HD 137010 b memiliki atmosfer yang sangat tebal dan kaya akan gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dosis tinggi atau metana, suhu permukaannya bisa terangkat melalui proses pemerangkapan panas. Di Bumi, efek rumah kaca alami menjaga suhu kita tetap hangat; di planet seperti HD 137010 b, efek rumah kaca yang lebih ekstrem mungkin justru menjadi penyelamat yang memungkinkan adanya kantong-kantong air cair. Selain itu, panas internal dari peluruhan radioaktif di inti planet batuan sebesar ini bisa menyediakan energi yang cukup untuk mempertahankan lautan bawah tanah, mirip dengan yang diduga ada di bulan-bulan es Jupiter.
Analisis Data K2: Harta Karun yang Tak Habis
Penemuan HD 137010 b merupakan hasil dari dedikasi para astronom dalam memeriksa kembali data-data lama. Teleskop Kepler, yang diluncurkan pada 2009, telah memberikan kontribusi revolusioner sebelum akhirnya pensiun pada 2018. Misi lanjutannya, yang dikenal sebagai K2, mencakup survei di sepanjang ekliptika yang menghasilkan ribuan kandidat eksoplanet.
Metode yang digunakan untuk menemukan HD 137010 b adalah metode transit, di mana teleskop mendeteksi penurunan intensitas cahaya bintang secara periodik saat sebuah planet melintas di depannya. Karena planet ini memiliki orbit yang cukup lama (hampir satu tahun), ia hanya melakukan transit beberapa kali selama periode pengamatan K2, membuat sinyalnya sangat sulit dideteksi di masa lalu. Berkat kemajuan dalam teknik pemrosesan sinyal dan algoritma deteksi otomatis, sinyal samar ini akhirnya berhasil dikonfirmasi sebagai sebuah planet.
“Misi Kepler mungkin sudah berakhir, tetapi warisannya masih memberikan kejutan setiap tahunnya,” ungkap salah satu tim peneliti dari NASA Exoplanet Science Institute. “HD 137010 b menunjukkan bahwa ada populasi planet mirip Bumi di luar sana yang menunggu untuk ditemukan di orbit yang lebih jauh dari biasanya.”
Masa Depan Pengamatan: Menuju JWST
Langkah selanjutnya bagi para astronom adalah mencoba mengkarakterisasi atmosfer HD 137010 b menggunakan fasilitas yang lebih modern. Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) memiliki kemampuan spektroskopi yang dapat mengintip komposisi kimiawi atmosfer eksoplanet. Meskipun 146 tahun cahaya adalah jarak yang cukup jauh, ukuran planet ini yang signifikan memberikan peluang kecil namun berharga untuk studi transmisi cahaya.
Jika JWST berhasil mendeteksi tanda-tanda uap air atau gas-gas organik di HD 137010 b, hal itu akan mengubah persepsi kita tentang batas-batas kehidupan di alam semesta. Planet “Bumi Beku” ini mungkin bukan sekadar batu es yang mati, melainkan sebuah laboratorium alam tentang bagaimana planet terestrial berevolusi di bawah cahaya bintang yang lebih redup.
Kesimpulan: Pelajaran dari Jauh
Penemuan HD 137010 b mengajarkan kita bahwa “kembaran” Bumi tidak selalu berarti tempat yang hangat dan hijau. Alam semesta menyediakan berbagai variasi dunia batuan dengan kondisi lingkungan yang sangat beragam. Penemuan ini juga mempertegas pentingnya menjaga dan menganalisis data observasi jangka panjang, karena jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar kita tentang tempat kita di alam semesta mungkin sudah tersimpan di arsip kita sendiri.
Dilansir dari laporan ScienceDaily dan informasi resmi dari NASA, penemuan ini menambah daftar panjang eksoplanet yang akan terus kita pelajari selama dekade-dekade mendatang. Setiap planet baru yang kita temukan membawa kita selangkah lebih dekat untuk memahami apakah Bumi adalah sebuah anomali atau hanyalah salah satu dari triliunan variasi kehidupan di galaksi.
—
Sumber Utama: NASA Science, ScienceDaily, Kepler Archive Research Project.

