Riset: Musik Jazz & Klasik Kini Lebih Sederhana
Analisis matematis terhadap ribuan komposisi musik dari enam genre barat mengungkap tren mengejutkan: struktur melodi dan harmoni dalam musik jazz serta klasik mengalami penyederhanaan signifikan sepanjang dekade terakhir, menunjukkan pola yang semakin mirip dengan musik pop dan rock kontemporer.
Temuan ini berasal dari studi yang diterbitkan pada 23 April 2026 di jurnal Scientific Reports oleh tim peneliti dari University of Tuscia, Italia. Penelitian tersebut menganalisis 21.480 karya musik melintasi genre klasik, elektronik, hip hop, jazz, pop, dan rock menggunakan format file MIDI yang mengodekan informasi nada, durasi, dan dinamika secara numerik.
Data & Metodologi: Memetakan Evolusi Nada
Tim peneliti yang dipimpin Niccolò Di Marco, seorang computational social scientist, mengekstrak data melodi dan harmoni dari setiap karya untuk memetakan hubungan antar nada — termasuk urutan nada yang dimainkan dan pola transisi antar not. Jaringan data ini memungkinkan visualisasi dan analisis pola musikal secara kuantitatif.
Secara keseluruhan, distribusi data menunjukkan pola yang lebih seragam pada genre-genre baru seperti pop, elektronik, dan rock. Sementara itu, genre lama seperti jazz dan klasik memiliki pola yang lebih bervariasi. Namun ketika peneliti menelusuri tren ini secara kronologis, mereka menemukan sesuatu yang menarik.
Paruh pertama abad ke-20 menampilkan struktur yang cukup kompleks dalam musik jazz dan klasik. Pada dekade-dekade berikutnya, terjadi tren menuju repetisi harmoni, interval, dan fitur struktural lainnya — pola yang lebih menyerupai genre seperti pop dan rock.
“Kami mengamati evolusi dalam musik,” kata Di Marco. Pergeseran ini, menurutnya, mungkin didorong oleh teknologi digital yang memudahkan akses dan inspirasi dari rekaman musik yang sudah ada.
Teknologi Digital dan Simplifikasi Kreatif
Kehadiran teknologi audio digital dan alat komposisi yang semakin terjangkau telah mengubah cara musisi modern menciptakan musik, jelas Di Marco. Peneliti yang sama sebelumnya juga meneliti tren seni sampul album dan menemukan “pergeseran luas menuju minimalisme” — pola yang konsisten dengan temuan studi musik ini.
Namun penting untuk dicatat bahwa penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa musik jazz atau klasik menjadi membosankan atau kehilangan kualitas. Paper ini berfokus pada kerangka matematis musik, bukan pengalaman mendengarkan secara langsung.
“Ada banyak hal lain yang membentuk musik, seperti lirik, produksi, desain suara, dan konteks budaya,” tulis Di Marco dan rekan-rekannya. Pencipta musik modern sekadar menemukan “cara berbeda untuk menciptakan musik yang hebat.” Seperti halnya sampul album, bentuk seni ini juga sedang dibentuk oleh evolusi budaya dan teknologi — sekaligus membentuknya kembali.
Debat: Kemunduran atau Demokratisasi?
Friedlind Riedel, seorang cultural musicologist dari University of Salzburg, Austria, memberikan perspektif yang lebih luas. Dengan hanya melihat aspek-aspek tertentu, bisa muncul kesan seolah terjadi penurunan keragaman musik, ujarnya.
“Selalu ada kekhawatiran tentang simplifikasi dalam musik,” kata Riedel. “Seperti dalam semua seni, ada sejarah panjang pesimisme budaya — gagasan tentang keabuan budaya. Namun kesempatan untuk mendengarkan musik mungkin tidak pernah begitu beragam dalam sejarah seperti hari ini.”
Pernyataan ini menyoroti dualitas persepsi yang menarik: di satu sisi, data matematis menunjukkan penyederhanaan struktur. Di sisi lain, akses terhadap keragaman genre, era, dan gaya musik justru lebih terbuka dari sebelumnya berkat platform digital.
Implikasi untuk Pendidikan dan Riset Masa Depan
Temuan ini membuka beberapa pertanyaan penting bagi dunia pendidikan musik dan riset musikologi. Jika tren simplifikasi memang berlanjut, bagaimana kurikulum musik harus beradaptasi? Apakah pengajaran teori musik klasik perlu menekankan pada kompleksitas historis yang semakin jarang dipraktikkan?
Di sisi lain, studi ini juga menunjukkan potensi besar analisis komputasional dalam memahami evolusi budaya. Pendekatan kuantitatif terhadap seni — yang sering dianggap subjektif — bisa memberikan wawasan baru tentang bagaimana preferensi manusia berubah seiring waktu.
Penelitian selanjutnya kemungkinan akan memperluas cakupan analisis ke genre-genre non-barat, serta mengeksplorasi hubungan antara kompleksitas musikal dan metrik engagement di platform streaming. Dengan dataset yang semakin kaya, pemahaman kita tentang evolusi musik — dan apa yang ia ungkapkan tentang evolusi manusia — akan terus berkembang.




