Peter Thiel Taruh Rp2,2 Triliun untuk Pusat Data AI Terapung di Laut — Ditenagai Ombak, Dikirim Lewat Satelit
Pada awal Mei 2026, sebuah startup asal Oregon bernama Panthalassa mengumumkan penggalangan dana Seri B senilai $140 juta (sekitar Rp2,2 triliun) yang dipimpin oleh Peter Thiel — co-founder Palantir dan salah satu investor teknologi paling berpengaruh di Silicon Valley. Dengan total pendanaan yang kini mencapai $210 juta (~Rp3,66 triliun), Panthalassa memiliki satu misi yang terdengar seperti fiksi ilmiah: membangun pusat data AI yang terapung di laut, ditenagai oleh energi gelombang, dan mengirim hasilnya ke darat melalui satelit.
Ini bukan konsep di atas kertas. Prototipe sudah diuji di laut selama hampir satu dekade. Node pertama, Ocean-3, dijadwalkan deploy di Samudra Pasifik tahun ini. Dan daftar investornya adalah “who’s who” dunia teknologi: John Doerr, Marc Benioff, Max Levchin, Dylan Field (CEO Figma), Hanwha Group, hingga Super Micro Computer.
Yang paling menarik bukan sekadar “data center di laut” — tapi mengapa orang-orang terpintar di Silicon Valley sekarang menganggap ini layak miliaran dolar. Jawabannya ada di tiga krisis yang sedang menghantam industri AI.
Pusat Data AI yang “Hidup” dari Ombak — Tanpa Kabel ke Daratan
Panthalassa didirikan pada 2016 oleh Garth Sheldon-Coulson sebagai sebuah public benefit corporation yang berkantor pusat di Portland, Oregon. Selama hampir 10 tahun, perusahaan ini mengembangkan teknologi pembangkit listrik gelombang laut, propulsi otonom, dan komputasi di laut — semuanya dalam satu platform.
Setiap node Panthalassa adalah struktur baja sepanjang 85 meter — seukuran lapangan sepak bola — yang sebagian besar berada di bawah permukaan laut. Cara kerjanya sederhana tapi brilian: saat gelombang mengangkat dan menurunkan node, air dipaksa melewati turbin internal yang menghasilkan listrik. Listrik itu langsung digunakan untuk menjalankan chip AI di dalam wadah kedap air. Hasil komputasi dikirim ke darat via satelit orbit rendah (LEO), mirip Starlink.
“Ada tiga sumber energi di planet ini dengan potensi kapasitas puluhan terawatt: matahari, nuklir, dan lautan terbuka,” kata Garth Sheldon-Coulson, Co-Founder dan CEO Panthalassa. “Kami telah membangun platform teknologi yang beroperasi di wilayah gelombang paling padat energinya, jauh dari pantai, dan mengubahnya menjadi listrik bersih yang andal.”
Yang membedakan Panthalassa dari konsep data center bawah laut lainnya: node ini sepenuhnya otonom. Tidak ada kabel listrik ke darat. Tidak ada kabel fiber optik untuk komunikasi. Semua energi dihasilkan di tempat, semua data dikirim via satelit. Ocean yang sama juga menyediakan pendinginan gratis — air laut bersuhu 10-15°C yang menjadi heat sink alami.
Mengapa Dunia Butuh Ini? 3 Krisis yang Membuat Ide “Gila” Ini Masuk Akal
Pada permukaan, pusat data terapung terdengar seperti ide gila. Tapi ketika Anda melihat tiga masalah yang sedang dihadapi industri AI saat ini, ide ini mulai terlihat sangat masuk akal.
Krisis 1: Grid Listrik di Darat Tidak Sanggup
Komitmen komputasi AI sedang meledak. Anthropic mengunci $200 miliar di Google Cloud untuk TPU. Proyek Prometheus Jeff Bezos bernilai $38 miliar. Amazon dan Anthropic mengumumkan investasi $100 miliar untuk AWS Trainium. Semua ini mengimplikasikan kebutuhan puluhan gigawatt tambahan listrik sebelum 2028.
Grid listrik AS tidak siap. Komisi Utilitas Publik di Virginia, Oregon, Texas, dan Iowa telah membatasi atau menunda beberapa proyek kampus data center dalam 12 bulan terakhir. Antrian interkoneksi tegangan tinggi melebihi 24 bulan di sebagian besar negara bagian. Singkatnya: membangun data center baru di darat itu sekarang sangat lambat dan sangat mahal.
Krisis 2: Pendinginan Raksasa
Data center konvensional mengalokasikan 20-30% listrik mereka hanya untuk pendinginan. Bayangkan: sepertiga dari semua energi yang masuk hanya untuk menjaga chip agar tidak meleleh. Panthalassa menyelesaikan masalah ini secara elegan — air laut adalah pendingin gratis yang tak terbatas. Hasilnya? PUE (Power Usage Effectiveness) diperkirakan 1.1-1.2, jauh lebih efisien daripada data center darat yang biasanya 1.3-1.5.
Ada keuntungan lain: di darat, data center membayar dua kali — untuk pembangkit listrik (PPA), lalu untuk transmisi tegangan tinggi ke lokasi. Panthalassa menghilangkan biaya transmisi sepenuhnya karena pembangkitan dan konsumsi berada di tempat yang sama. Tidak ada kerugian transmisi (5-10%), tidak ada ketergantungan pada operator sistem transmisi.
Krisis 3: Izin dan Regulasi
Membangun data center di darat membutuhkan 4-7 tahun untuk perizinan, akuisisi lahan, dan konstruksi. Di laut lepas — di luar 12 mil laut — situasinya sangat berbeda. Panthalassa membutuhkan sekitar 18 bulan untuk mendeploy satu node. Dan di laut terbuka, tidak perlu izin lokal dalam cara yang sama seperti di darat. Ini bukan berarti tanpa regulasi, tapi landscape hukumnya masih jauh lebih longgar.
“Masa depan menuntut lebih banyak komputasi daripada yang bisa kita bayangkan,” kata Peter Thiel. “Solusi ekstra-terestrial bukan lagi fiksi ilmiah — Panthalassa telah membuka perbatasan samudra.”
Kalimat itu merangkum semuanya. Thiel — yang juga berinvestasi di SpaceX dan Palantir — secara konsisten menaruh taruhan pada teknologi yang beroperasi di wilayah yang belum sepenuhnya diatur. Luar angkasa. Laut lepas. Tempat di mana Anda bisa membangun sebelum regulasi mengejar.
Spesifikasi yang Membuat Ini Bukan Fiksi Ilmiah
Mari lihat angkanya secara konkret:
- Dimensi: 85 meter baja, sebagian besar di bawah permukaan
- Daya: 4-8 MW per node (50-100 kW per meter front gelombang di Pasifik Utara)
- Komputasi: ~5.000 GPU H300 per node
- Latensi: 30-50 ms via satelit LEO — cukup untuk training dan batch inference, bukan real-time
- PUE: 1.1-1.2 (vs 1.3-1.5 di darat)
- Waktu deploy: 18 bulan per node (vs 4-7 tahun di darat)
- Total pendanaan: $210 juta (~Rp3,66 triliun)
- Prototipe: Ocean-1, Ocean-2, Wavehopper (2021-2024) — sudah diuji di laut
- Timeline: Pilot Ocean-3 di Pasifik 2026, komersial 2027
Panthalassa juga sedang menyelesaikan pabrik manufaktur pilot di dekat Portland, Oregon, untuk memproduksi node-node ini secara massal dari pelat baja di pabrik pesisir. Ini bukan laboratorium riset — ini perusahaan yang sedang bersiap produksi.
Tantangan yang Belum Terjawab
Sebelum Anda berpikir ini adalah solusi sempurna, ada beberapa tantangan serius yang perlu diakui secara jujur.
Maintenance di laut terbuka itu mahal. Korosi air asin, biofouling (organisme laut yang menempel), badai, petir, dan getaran konstan — semuanya menjadi musuh. Biaya perawatan per MWh bisa 2-3 kali lebih tinggi daripada di darat. Panthalassa mengandalkan otonomi penuh, tapi kegagalan mekanis tetap membutuhkan intervensi kapal khusus.
Kepadatan komputasi belum tervalidasi. Satu node menghasilkan 4-8 MW — cukup untuk ~5.000 GPU, tapi jauh dari kepadatan gigawatt-per-kampus di darat. Berapa banyak node yang bisa ditempatkan per kilometer persegi? Itu belum terbukti, apalagi dengan pertimbangan konflik penggunaan: nelayan, pelayaran, dan militer juga menggunakan laut yang sama.
Latensi membatasi jenis workload. Dengan latensi 30-50 ms via satelit, Panthalassa tidak cocok untuk real-time inference — aplikasi seperti ChatGPT, Claude Code, atau Cursor membutuhkan respons dalam milidetik. Target mereka adalah training dan batch processing, yang memang mencakup 40-50% dari total komputasi global, tapi bukan segmen paling menguntungkan.
Regulasi maritim belum siap. Deploy skala besar membutuhkan otorisasi dari International Seabed Authority dan IMO. Konflik dengan perikanan, pelayaran, dan pertahanan pasti akan muncul. Dan dalam skenario ketegangan geopolitik, instalasi ini bisa dianggap sebagai target strategis oleh China, Rusia, dan kekuatan regional lainnya.
Apa Relevansinya untuk Indonesia?
Sebagai negara kepulauan dengan wilayah maritim yang luas, Indonesia punya posisi unik untuk mempertimbangkan opsi serupa. April 2026, BP Batam dan PLN menandatangani kesepakatan 450 MW untuk pengembangan data center di Batam — Indonesia memang sedang bertransformasi menjadi hub digital Asia.
Tapi Indonesia juga menghadapi tantangan energi yang sama: grid yang tertekan, biaya pendinginan yang tinggi di iklim tropis, dan kebutuhan infrastruktur yang tumbuh eksponensial. Bukan berarti Indonesia harus langsung membangun data center terapung — tapi pelajaran dari Panthalassa menunjukkan bahwa ada alternatif di luar paradigma “bangun data center di darat, hubungkan ke grid.” Untuk negara dengan 17.000 pulau dan laut yang tak terbatas, potensi wave energy di seluruh wilayah maritim adalah pertanyaan yang layak ditanyakan.
Tren Bigger Picture: Data Center Bukan Lagi Cuma di Darat
Panthalassa bukan satu-satunya pemain di ruang infrastruktur komputasi alternatif. Lanskap data center sedang terfragmentasi menjadi tiga pola:
- Land hyperscale — Skala besar, biaya marginal rendah. Contoh: Microsoft Quincy, Google Council Bluffs.
- Modular/edge — Latensi ultra-lokal. Contoh: Edge 5G nodes, AWS Local Zones.
- Off-grid/extra-territorial — Energi alternatif + kedaulatan komputasi. Di sini Panthalassa bergabung dengan Crusoe (data center berbahan bakar gas bakar dari ladang minyak) dan nuklir SMR (X-energy, Oklo).
Semua pola ini punya satu tujuan sama: melewati kelangkaan grid listrik yang semakin menjadi penghalang terbesar pertumbuhan AI.
Di laut, pesaing Panthalassa termasuk Oscilla Power (Seattle) dan C-Power (Oregon State University) yang juga mengembangkan teknologi energi gelombang. Di orbit, Google dan SpaceX mengembangkan proyek Suncatcher — data center bertenaga surya orbital.
Kesimpulan
Panthalassa bukan solusi sempurna. Masih ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang maintenance, kepadatan, dan regulasi. Tapi ini adalah jawaban atas masalah nyata yang semakin besar: dunia butuh lebih banyak komputasi, dan grid di darat tidak bisa mengimbangi.
Yang paling menarik bukan apakah Panthalassa akan berhasil. Yang menarik adalah bahwa orang-orang terpintar dan terkaya di Silicon Valley — Thiel, Doerr, Benioff, Levchin — sudah menganggap ide ini cukup masuk akal untuk ditaruh miliaran dolar. Ketika investor sekelas itu mulai membangun di laut, bukan di darat, itu sinyal bahwa paradigma infrastruktur AI sedang berubah.
Ocean-3 akan deploy tahun ini. Kita akan tahu apakah taruhan ini gila — atau jenius — dalam waktu 12 bulan ke depan.
Sumber: PR Newswire, Business Wire, Tom’s Hardware, Data Center Dynamics, Ars Technica, idlen.io. Ditambahkan untuk konteks: laporan Kompas tentang kesepakatan data center Batam (April 2026).




