Dalam ajang New York Comic Con (NYCC) yang berlangsung meriah, pembuat karya grafis Cynthia von Buhler menjadi pusat perhatian saat membahas karya terbarunya, Minky Woodcock: The Girl Called Cthulhu. Acara tersebut tidak berlangsung di ruang konferensi biasa, melainkan di atas kapal malam Frying Pan Boat yang berlabuh di Pier 66, New York. Von Buhler, yang juga bertindak sebagai penulis dan ilustrator utama, memaparkan detail mengenai novel grafis terbaru yang diterbitkan di bawah imprint Hard Case Crime dan Titan Comics ini. Meskipun judulnya menyiratkan keterkaitan dengan dunia perfilman, fokus utama pembahasan adalah pada kedalaman narasi visual yang ditawarkan dalam format komik dewasa ini.
Kehadiran von Buhler di acara tersebut disertai dengan atmosfer yang unik, lengkap dengan jubah beludru hitam dan suasana kapal yang telah direklamasi dari dasar laut. Dalam sesi wawancara eksklusif, von Buhler menjelaskan bahwa Minky Woodcock: The Girl Called Cthulhu merupakan petualangan ketiga dari sang protagonis. Sebelumnya, Minky telah terlibat dalam kasus yang melibatkan Harry Houdini dan Nikola Tesla. Karakter Minky digambarkan sebagai detektif swasta yang berani, mandiri, dan sering kali terlibat dalam peristiwa sejarah besar tanpa menyadari dampaknya secara langsung. Gaya penceritaan ini sering dibandingkan dengan sosok Forrest Gump versi perempuan yang bergerak lintas zaman.
Kolaborasi Tokoh Sejarah dan Fiksi Horor
Salah satu daya tarik utama dari karya ini adalah pertemuan fiksi antara tokoh-tokoh sejarah nyata dengan elemen horor kosmik. Dalam installment terbaru ini, Minky Woodcock bertemu dengan Aleister Crowley, okultis terkenal yang meminta bantuan untuk membersihkan namanya dari fitnah. Investigasi Minky kemudian membawanya bertemu dengan berbagai figur ikonik lainnya. Von Buhler melakukan riset mendalam untuk memastikan karakterisasi tokoh-tokoh ini tetap sesuai dengan catatan sejarah, meskipun ditempatkan dalam konteks fiksi noir.
Beberapa tokoh sejarah yang muncul dalam narasi ini meliputi:
- H.P. Lovecraft: Penulis horor kosmik yang karya tulisnya menjadi inspirasi judul buku, digambarkan dengan kompleksitas pandangan rasialnya namun tetap dihormati sebagai seniman.
- Ian Fleming: Pencipta James Bond, yang dalam cerita ini terinspirasi oleh Minky untuk menciptakan karakter agen rahasia utamanya.
- Josephine Baker: Bintang hiburan dan aktivis yang terlibat dalam aksi perang dunia.
- Operasi Mincemeat: Operasi penipuan strategis Perang Dunia II yang melibatkan ide-ide dari para penulis untuk menipu Hitler.
Von Buhler menekankan bahwa ide utama di balik buku ini adalah bagaimana para penulis dan orang kreatif berperan besar dalam mengakhiri Perang Dunia II. Menurutnya, banyak film dan buku yang membahas perang tersebut, namun jarang yang menyoroti kontribusi ideologis dari para penulis seperti Crowley, Fleming, dan Basil Thompson. Dalam wawancara, von Buhler menyatakan, “Saya tidak berpikir ada orang yang pernah membuat buku tentang itu. Ada begitu banyak buku dan film tentang Perang Dunia II tetapi bukan ide bahwa penulis memiliki bagian sebesar itu.”
Gaya Visual dan Proses Kreatif
Sebagai seorang seniman visual, Cynthia von Buhler tidak hanya menulis naskah tetapi juga melukis setiap panel dalam novel grafis ini secara manual. Karya seni yang disajikan sebagian besar berbasis pada model manusia nyata, dengan Pearls Daily sebagai model utama untuk karakter Minky Woodcock. Pendekatan ini memberikan tekstur realistis pada gambar, membedakan karyanya dari komik digital biasa. Dalam sebuah pesta setelah acara utama di loteng pribadinya, von Buhler memamerkan lukisan asli yang menjadi dasar halaman komik tersebut, menunjukkan dedikasinya terhadap detail artistik.
Regarding karakter Aleister Crowley, von Buhler memiliki pandangan unik yang tidak terlalu menakutkan. Ia menggambarkan Crowley sebagai sosok yang humoris dan narsis, bukan sebagai figura jahat yang gelap. “Saya tidak menganggapnya serius, saya hanya menganggapnya sebagai karakter yang lucu. Saya tahu banyak orang berpikir dia menakutkan dan jahat tetapi saya tidak melihatnya seperti itu,” ujar von Buhler. Pendekatan ini memberikan nuansa segar pada tokoh yang sering kali distigmatisasi dalam budaya pop horor.
Relevansi bagi Pembaca Indonesia
Bagi pembaca di Indonesia, karya Minky Woodcock menawarkan perspektif menarik mengenai genre noir yang dipadukan dengan horor kosmik ala Lovecraft. Genre horor dan misteri sejarah semakin mendapatkan tempat di hati penggemar komik tanah air. Selain itu, penggambaran tokoh wanita yang kuat dan mandiri seperti Minky Woodcock relevan dengan perkembangan karakter perempuan dalam media hiburan Indonesia saat ini. Gaya visual yang lukisan tangan juga memberikan nilai estetika tinggi yang bisa diapresiasi oleh kolektor seni dan penggemar komik dewasa di Indonesia yang mencari alternatif dari gaya manga atau komik superhero mainstream.
Ketersediaan karya ini dalam format koleksi grafis memungkinkan pembaca untuk menikmati seluruh trilogi petualangan Minky secara utuh. Kombinasi antara riset sejarah yang ketat, seni lukis tangan yang memukau, dan narasi yang berani menjadikan seri ini sebuah studi kasus menarik tentang bagaimana komik bisa berfungsi sebagai media sastra visual yang serius. Bagi mereka yang tertarik dengan sejarah Perang Dunia II dari sudut pandang yang tidak konvensional, seri ini menyediakan hiburan yang mendidik.
Seri Minky Woodcock yang meliputi The Girl Who Handcuffed Houdini, The Girl Who Electrified Tesla, dan The Girl Called Cthulhu kini telah tersedia sebagai novel grafis koleksi melalui Hard Case Crime dan Titan Comics. Karya ini direkomendasikan bagi penggemar noir yang menyukai sentuhan horor sejarah serta ilustrasi yang hidup. Informasi lebih lanjut mengenai wawancara lengkap dan detail proyek dapat diakses melalui tautan sumber berikut: https://www.aintitcool.com/interview-cynthia-von-buhler-minky-woodcock-83633/




