Film Baru Na Hong-jin “Hope” Bikin Cannes Begadang Sampai Jam 1 Pagi — Horror Korea Paling Gila 2026
Festival Film Cannes 2026 baru berjalan beberapa hari, tapi satu film sudah berhasil bikin seluruh kru festival rela begadang hingga lewat tengah malam. Bukan film dari sutradara Prancis ternama, bukan juga film Hollywood bertabur bintang. Ini adalah film Korea berjudul “Hope” — karya terbaru Na Hong-jin, sutradara di balik The Wailing (2016), salah satu film horror Asia paling dihormati sepanjang masa.
Dan ya, Park Chan-wook — sutradara Oldboy sekaligus jury president Cannes tahun ini — sampai rela tetap duduk di bioskop melewati pukul 1 pagi demi nonton film ini. Kalau Park Chan-wook saja rela begadang, kamu tahu ada sesuatu yang spesial di sini.
Siapa Na Hong-jin dan Kenapa Namanya Bikin Penonton Takut?
Na Hong-jin bukan nama baru. Tapi di Indonesia, namanya masih lebih sering disebut di forum film ketimbang jadi headline media mainstream. Padahal, film-filmnya sudah jadi bahan kultus di kalangan cinephile Asia.
Debutnya sebagai sutradara, The Chaser (2008), langsung meledak di box office Korea dan jadi film thriller terlaris tahun itu. Lalu ada The Yellow Sea (2010) yang makin mengukuhkan reputasinya sebagai maestro kekerasan yang elegan.
Dari “The Strangers” ke “The Wailing” — Perjalanan Na Hong-jin
Tapi puncak karirnya —setidaknya di hati para pecinta film— ada di The Wailing (2016). Film horror sepanjang 156 menit ini bercerita tentang seorang polisi di desa terpencil Korea yang menyelidiki serangkaian kematian misterius. Film ini bukan sekadar jump scare. Ini film yang bikin kamu bertanya-tanya: siapa yang sebenarnya jahat? Dan pertanyaan itu terus mengganggumu bahkan setelah kredit berakhir.
The Wailing dapat standing ovation 10 menit di Cannes 2016, masuk jajaran Top 10 Film Terbaik 2016 versi banyak kritikus, dan sampai sekarang masih jadi rujukan utama ketika orang bicara soal “horror Asia terbaik.” Di Rotten Tomatoes, film ini masih bertengger di 99% Tomatometer.
Kenapa The Wailing Masih Jadi Horror Korea Terbaik Sepanjang Masa
Alasannya sederhana: Na Hong-jin tidak bermain aman. Dia tidak mengandalkan hantu yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Dia membangun atmosfer ketakutan yang perlahan-lahan merayap, sampai kamu sendiri tidak yakin apa yang harus dipercaya. Itu teknik yang langka — dan bikin The Wailing tetap relevan 10 tahun kemudian.
Sepuluh tahun. Itu berapa lama penonton menunggu film baru Na Hong-jin. Dan sekarang, penantian itu berakhir dengan Hope.
“Hope” di Cannes 2026 — Reaksi yang Bikin Seluruh Festival Terpesona
Hope tayang perdana di Cannes 2026 dalam slot Midnight Screening — slot khusus untuk film-film yang dianggap “terlalu ekstrem” untuk pemutaran reguler. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: film ini jadi salah satu yang paling dibicarakan di festival.
Saat ini, Hope memiliki skor 85% di Rotten Tomatoes — dan masih terus bergerak. Angka ini belum final, karena masih banyak kritikus yang belum merilis review resmi mereka.
Tomatometer 85% dan Terus Naik — Apa Kata Kritikus?
Review awal dari Cannes cukup beragam, tapi ada pola yang menarik: hampir semua kritikus setuju pada satu hal — jam pertama film ini luar biasa.
Tara Brady dari Irish Times menulis bahwa “jam pembuka yang astonishing” dari Hope datang berkat sinematografi cepat Hong Kyung-pyo dan efek praktis taktil yang memberikan bobot pada setiap adegan kekerasan. Selama monster itu masih tidak terlihat — hanya diketahui dari bangunan runtuh, tubuh manusia terlempar, dan gore yang berlebihan — film ini bekerja sempurna. (Baca review lengkap di Irish Times)
John Bleasdale dari Sight & Sound lebih antusias: “Tidak ada satu pun momen kebosanan, dan puncak-puncak aksinya yang menggembirakan sering kali diakhiri dengan pay-off yang bikin tertawa keras.” Dia menyebut film ini “brilliantly crafted and beautifully shot.”
Iana Murray dari Little White Lies bahkan lebih jauh: “Skala yang jaw-dropping ini mempermalukan sebagian besar film blockbuster.”
Review dari berbagai kritikus bisa dilihat di Rotten Tomatoes — Hope (2026).
Tapi tidak semua orang puas. Ed Potton dari The Times (UK) memberikan 2/5, menyebut film ini “relentless dan repetitive” meski mengakui ambisinya. Nick Ruhrkraut dari AwardsWatch memberi nilai C- dan menyebutnya “disappointing.” Dan ada kritik soal CGI alien yang terasa artifisial dibandingkan efek praktis di awal film.
Park Chan-wook Rela Begadang Sampai Jam 1 Pagi — Endorsement Tertinggi
Tapi mungkin “review” paling penting datang bukan dari kritikus, melainkan dari sesama sutradara. Park Chan-wook — yang filmnya Oldboy (2003) mengubah cara dunia melihat sinema Korea — rela tetap duduk di bioskop melewati pukul 1 pagi untuk menyaksikan pemutaran Hope di Midnight Screening Cannes.
Bayangkan: jury president yang seharusnya bisa pulang lebih awal, memilih tetap menonton film sesama sutradara Korea hingga larut malam. Dalam dunia film, ini bukan sekadar “suka.” Ini endorsement level tertinggi yang bisa kamu dapat dari kolega se-profesi.
Fakta bahwa Yeon Sang-ho — sutradara Train to Busan dan Parasyte: The Grey — juga menayangkan film zombie-nya Colony di Cannes yang sama, membuat 2026 jadi tahun di mana sinema Korea genre resmi mendominasi festival paling bergengsi di dunia.
Sci-Fi Horror? Ini yang Bikin “Hope” Beda dari Film Na Hong-jin Sebelumnya
Jika The Wailing adalah horror supernatural yang membingungkan, Hope adalah monster movie yang meledak-ledak. Ini pergeseran genre yang signifikan dari Na Hong-jin — dan itulah yang membuat banyak orang penasaran.
Film ini berlatar di sebuah kota bernama Hope, yang terletak di dekat zona militer perbatasan Korea Selatan. Tokoh utamanya adalah kepala polisi setempat yang diperankan Hwang Jung-min — aktor veteran yang juga membintangi The Wailing. Dia harus menghadapi makhluk misterius yang mendatangkan kekacauan level seperti “Predator on crack,” begitu salah satu kritikus mendeskripsikannya.
Kemudian datang Jung Ho-yeon dari Squid Game, bersenjata lengkap, dan langsung bikin penonton Cannes gila. Ada juga Zo In-sung, salah satu aktor paling populer di Korea. Di sisi internasional, film ini menampilkan Taylor Russell (Bones and All), Alicia Vikander, dan Michael Fassbender — yang konon memerankan alien CGI di film ini.
Practical Effects vs CGI — Kenapa Kritikus Puji Efek Non-Digital
Salah satu hal yang paling sering dipuji dari Hope adalah penggunaan efek praktis. Selama monster itu tidak terlihat — hanya jejak kehancurannya yang tampak — film ini terasa sangat nyata dan mengerikan. Hong Kyung-pyo, direktur fotografi film ini (yang juga mengerjakan Parasite!), menggunakan kamera cepat dan framing yang membuat setiap adegan aksi terasa visceral.
Tapi begitu CGI alien ditampilkan sepenuhnya, beberapa kritikus merasa ada penurunan kualitas. Makhluk yang diperankan Fassbender, Vikander, dan Russell terlihat “distractingly artificial,” begitu Irish Times menyebutnya. Langit digital yang tidak pernah berganti matahari juga jadi catatan negatif.
Ini pelajaran menarik: kadang monster yang TIDAK terlihat lebih menakutkan daripada yang terlihat. Dan Na Hong-jin, yang di The Wailing juga bermain dengan ambiguitas, sepertinya tahu ini — tapi mungkin tekanan untuk memberikan “spektakel” di film sebesar ini membuatnya harus menunjukkan monsternya.
Plot & Genre — Apa yang Sebenarnya Terjadi di “Hope”
Secara genre, Hope sulit dikategorikan. Ini horror? Ya. Sci-fi? Juga. Action? Tentu. Komedi? Secara mengejutkan, ya — beberapa kritikus menyebut ada elemen slapstick dan humor gelap yang bikin penonton tertawa di tengah kekacauan.
Film ini berdurasi 160 menit (2 jam 40 menit) — dan di situlah masalah utamanya muncul. Sebagian besar kritikus setuju bahwa film ini kehilangan momentum di paruh kedua. Mythology yang terlalu rumit, karakter pendukung yang kurang berkembang, dan dialog yang hampir seluruhnya terdiri dari kata-kata kotor menjadi beban tersendiri.
Tapi ada mid-credit scene yang disebut-sebut “wajib ditonton” dan mengonfirmasi sequel. Ya, Hope akan punya lanjutan. Dan itu mungkin berita paling menarik dari semua review.
Kenapa Film Korea Horror Selalu Meledak di Indonesia
Ada pola yang konsisten: setiap kali film Korea genre bagus rilis, Indonesia adalah salah satu pasar terbesar di luar Asia Timur. Train to Busan (2016) jadi fenomena. Parasite (2019) ditonton jutaan orang. Squid Game (2021) jadi tontonan wajib bahkan untuk yang biasanya tidak nonton serial Korea.
Alasannya? Film Korea genre berhasil menggabungkan entertainment value tinggi dengan komentar sosial yang relevan. Train to Busan bukan cuma soal zombie — ini soal kelas sosial dan egoisme. Parasite bukan cuma thriller — ini soal ketimpangan ekonomi. Dan dari review awal, Hope sepertinya mengikuti pola yang sama: monster movie yang juga bercerita tentang sesuatu yang lebih dalam.
Untuk Hope secara spesifik, belum ada informasi resmi tentang tanggal rilis di Indonesia. Tapi mengingat antusiasme Cannes dan cast internasional yang kuat, kemungkinan besar film ini akan mendapat distribusi theatrical — bukan cuma streaming.
Film Korea Lain yang Wajib Ditunggu di Cannes 2026 dan Setelahnya
Cannes 2026 ternyata jadi tahun besar untuk sinema Korea. Selain Hope, ada beberapa film Korea lain yang juga patut diperhatikan:
Project Hail Mary — Ryan Gosling, $318 Juta, Sekarang Streaming
Bukan film Korea, tapi relevan: Project Hail Mary karya Phil Lord & Christopher Miller dengan Ryan Gosling sudah menghasilkan $318,3 juta di box office dan sekarang streaming di Amazon Prime Video. Film sci-fi berbasis novel Andy Weir (The Martian) ini dapat 90%+ di Rotten Tomatoes dan disebut “near-miraculous fusion of smarts and heart.” Kalau kamu suka sci-fi yang bikin mikir tapi tetap menghibur, ini wajib tonton.
Michael — Film Biopic MJ Raih $184 Juta
Film biopic Michael Jackson berjudul Michael sudah meraup $184,2 juta di box office. Jaafar Jackson — keponakan MJ — mendapat pujian luas untuk perannya. Tapi kritikus menyebut film ini “terlalu aman” dan “sanitized.” Menariknya, penonton biasa (90%+ audience score) justru sangat menyukai film ini. Kalau kamu fans MJ, ini mungkin cukup memuaskan — tapi jangan ekspektasi deep dive.
Colony — Yeon Sang-ho Bawa Zombie ke Cannes
Yang ini relevan: Colony karya Yeon Sang-ho (Train to Busan) juga tayang di Cannes 2026 sebagai Midnight Screening. Film zombie berlatar gedung perkantoran berlantai banyak ini disebut “dark, dangerous, dan surprisingly hilarious.” Jika Hope terlalu berat untukmu, Colony bisa jadi alternatif yang lebih ringan tapi tetap seru.
Selain film-film yang tayang di Cannes, redaksi indfir.com juga baru saja mengulas film Jack Ryan: Ghost War yang tetap terasa segar meski telah melewati ujian waktu.
Dan untuk yang suka dokumenter olahraga, simak juga trailer terbaru The Match, dokumenter Piala Dunia ’86 yang baru saja dirilis.
Hope bukan film sempurna. Durasi 160 menit-nya terlalu panjang, CGI-nya tidak konsisten, dan paruh keduanya kehilangan sebagian momentum. Tapi jam pertamanya adalah salah satu pembuka film terbaik yang Cannes lihat bertahun-tahun. Dan jika kamu pernah menonton The Wailing dan masih ingat perasaan tidak nyaman yang menetap berminggu-minggu setelahnya — kamu tahu bahwa Na Hong-jin adalah sutradara yang tidak perlu membuat film sempurna untuk membuat film yang tidak bisa kamu lupakan.
Tambahkan Park Chan-wook yang rela begadang, casting bintang internasional, dan konfirmasi sequel di mid-credit scene — dan kamu punya salah satu film paling ditunggu 2026.
Cannes masih berlangsung sampai 24 Mei. Skor 85% Hope di Tomatometer masih bisa naik. Dan jika kamu ingin jadi salah satu yang pertama tahu tentang film Korea yang mungkin akan jadi breakout horror tahun ini — bookmark halaman ini. Kami akan update begitu ada informasi rilis Indonesia.
Sumber: Review kritik dari Rotten Tomatoes, Irish Times, dan Cannes 2026 Recap.




