Martin Scorsese Resmi Gandeng Startup AI untuk Storyboard Film: “Bisa Hemat Waktu Produksi”
Martin Scorsese, sutradara legendaris Hollywood di balik Goodfellas, The Departed, dan The Irishman, secara resmi bergabung sebagai adviser di Black Forest Labs — perusahaan kecerdasan buatan yang mengembangkan model generatif gambar FLUX. Sutradara berusia 83 tahun ini akan menggunakan teknologi AI untuk proses storyboard dalam film-filmnya mendatang, sebuah langkah yang mengejutkan mengingat posisinya sebagai salah satu penjaga ketat sinema tradisional.
Pengumuman ini dirilis melalui pernyataan resmi Black Forest Labs dan dikonfirmasi oleh sejumlah media internasional termasuk Variety dan The New York Times. Scorsese menyebut bahwa teknologi AI bisa “menghemat waktu produksi” dan “mengurangi beban kerja kru” — pernyataan yang membuka kembali perdebatan panas tentang peran AI di industri kreatif.
Scorsese Resmi Bergabung dengan Black Forest Labs
Black Forest Labs adalah perusahaan AI yang berbasis di Freiburg, Jerman, didirikan pada 2024 oleh Robin Rombard — mantan eksekutif di Stability AI, perusahaan di balik model Stable Diffusion. Fokus utama perusahaan ini adalah pengembangan model FLUX, sebuah sistem generatif gambar yang mampu menghasilkan visual berkualitas tinggi dari deskripsi teks.
Dalam pernyataan resmi, Black Forest Labs mengumumkan bahwa Scorsese akan berperan sebagai adviser strategis — memberikan masukan tentang bagaimana teknologi AI bisa diintegrasikan ke dalam proses pembuatan film secara bertanggung jawab. Posisi ini mirip dengan peran James Cameron di Stability AI, di mana sutradara berpengalaman membantu perusahaan AI memahami kebutuhan industri perfilman.
Scorsese sendiri telah mendemonstrasikan penggunaan FLUX untuk storyboard dengan merecreate shot ikonik Copacabana Steadicam dari film Goodfellas — salah satu adegan paling terkenal dalam sejarah sinema. Demonstrasi ini menunjukkan bahwa model AI kini mampu memahami komposisi visual yang kompleks, termasuk gerakan kamera dan pencahayaan.
“Cinema is a young medium. We are only 125 years in,” ujar Scorsese dalam video pengumuman, merujuk pada fakta bahwa sinema masih relatif muda dibandingkan seni lainnya dan masih memiliki ruang besar untuk evolusi teknologi.
Ironi: Dari Kritikus MCU ke Adopter AI
Langkah Scorsese ini penuh ironi. Pada 2019, ia memicu kontroversi besar ketika menyebut film-film Marvel Cinematic Universe sebagai “theme parks” — bukan sinema sejati. Pernyataan itu memicu perdebatan panjang tentang apa yang mendefinisikan “sinema” dan memicu respons dari banyak sineas, baik yang mendukung maupun menentang.
Kini, Scorsese melakukan sesuatu yang mungkin memicu debat serupa dari arah berlawanan: merangkul AI, teknologi yang oleh banyak sineas dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi kreativitas manusia.
Tapi sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Scorsere bereksperimen dengan teknologi baru:
- Hugo (2011) — Film yang menggunakan teknologi 3D secara ekstensif, terinspirasi dari kecintaan Scorsese pada sejarah sinema Georges Méliès
- The Irishman (2019) — Menggunakan teknologi de-aging digital pada Robert De Niro, Al Pacino, dan Joe Pesci yang memicu diskusi tersendiri tentang etika “meremajakan” aktor secara digital
- Silence (2016) — Eksperimen dengan teknologi kamera digital untuk menciptakan visual yang intim dan kontemplatif
Pola yang terlihat jelas: Scorsese tidak menolak teknologi baru. Pertanyaannya selalu sama — apakah teknologi itu melayani cerita, atau menggantikannya?
Tren AI di Hollywood: Siapa yang Pro, Siapa yang Kontra
Keputusan Scorsese menempatkannya di kubu sineas besar yang secara aktif terlibat dalam pengembangan AI untuk industri film. Landscape Hollywood saat ini terbelah menjadi dua kubu yang jelas.
Kubu Pro-AI
James Cameron bergabung dengan dewan direktur Stability AI, perusahaan di balik model Stable Diffusion. Cameron melihat AI sebagai alat untuk visual effect dan world-building — pendekatan yang konsisten dengan visi futuristiknya di franchise Avatar.
Peter Jackson menyatakan secara eksplisit: “I don’t dislike AI, it’s a special effect.” Sutradara Lord of the Rings ini memandang AI sebagai evolusi natural dari tools VFX yang sudah ada, bukan sebagai ancaman.
Kubu Anti-AI
Guillermo Del Toro mengambil sikap paling keras. Dalam Cannes masterclass, sutradara The Shape of Water dan Pan’s Labyrinth ini berkata: “I’d rather die than use generative AI.” Baginya, AI generatif bukan sekadar alat — ia adalah pengganti kreativitas manusia yang tidak bisa diterima.
Perdebatan ini semakin memanas setelah Tribeca Film Festival menayangkan Dreams of Violets — film pertama yang menggunakan AI secara signifikan dalam proses produksinya. Langkah ini memicu gelombang protes dari komunitas sineas independen yang merasa bahwa festival film seharusnya menjadi ruang untuk kreativitas manusia.
Sementara itu, film Stop That Train juga sempat menjadi kontroversi ketika rumor menyebar tentang penggunaan AI dalam visualnya — rumor yang kemudian dibantah keras oleh sutradara bersangkutan.
Bagaimana FLUX Bekerja untuk Storyboard
FLUX adalah model generatif gambar yang dikembangkan Black Forest Labs. Cara kerjanya: pengguna menulis deskripsi teks (prompt) tentang scene yang ingin divisualisasikan, dan model AI menghasilkan gambar berdasarkan deskripsi tersebut.
Untuk kebutuhan storyboard, Scorsese menggunakan FLUX untuk merekonstruksi dan memvisualisasikan konsep scene sebelum proses syuting dimulai. Proses ini bukan tentang menggantikan storyboard artist — melainkan mempercepat iterasi visual sehingga sutradara dan tim produksi bisa mengeksplorasi lebih banyak ide dalam waktu lebih singkat.
Keunggulan utama dibanding storyboard tradisional:
- Kecepatan — Visual bisa dihasilkan dalam hitungan detik, bukan jam
- Iterasi — Mudah mengubah angle, lighting, atau komposisi hanya dengan mengubah prompt
- Kolaborasi — Semua departemen bisa melihat visual reference yang sama sejak awal
Namun, Scorsese menekankan bahwa AI tidak menggantikan peran storyboard artist. “It’s a tool, not a replacement,” ujarnya. Pernyataan ini penting — di tengah kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan pekerja kreatif, Scorsese memposisikan teknologi sebagai alat bantu, bukan pengganti.
Apa Artinya untuk Industri Film Indonesia
Kabar ini relevan bukan hanya untuk Hollywood. Industri film Indonesia yang terus berkembang juga perlu memperhatikan tren ini, terutama mengingat semakin banyaknya filmmaker lokal yang mengadopsi teknologi digital.
Potensi Efisiensi
AI pre-production bisa memberikan efisiensi signifikan untuk filmmaker Indonesia, terutama untuk produksi independen dengan budget terbatas. Storyboard yang biasanya membutuhkan hari dan biaya besar untuk dikerjakan secara manual, bisa dipercepat secara dramatis dengan bantuan AI.
Beberapa area yang berpotensi mendapat manfaat:
- Pra-produksi — Storyboard, concept art, visual mood board
- Pitching — Presentasi visual untuk investor dan produser
- Pre-visualization — Animatic kasar sebelum syuting dimulai
Risiko dan Tantangan
Namun ada risiko yang perlu diwaspadai oleh industri film Indonesia:
- Dehumanisasi kreatif — Jika AI menggantikan peran artistik manusia, industri bisa kehilangan “sentuhan” yang membuat film Indonesia unik dan berkarakter
- Kesenjangan teknologi — Studio besar dengan akses ke AI canggih bisa mendominasi, sementara filmmaker kecil tertinggal
- Regulasi — Belum ada payung hukum yang mengatur penggunaan AI dalam produksi film di Indonesia, menciptakan ketidakpastian hukum
Masa Depan Sinema
Scorsese menutup pengumumannya dengan refleksi: “125 tahun sinema, dan kita masih di awal.” Pernyataan ini mengandung optimisme sekaligus pertanyaan yang belum terjawab.
Di mana batas antara alat dan pengganti? Apakah AI untuk storyboard sama “aman”-nya seperti kamera digital menggantikan film seluloid? Atau apakah ini awal dari sesuatu yang lebih besar — dan lebih mengkhawatirkan — untuk industri kreatif?
Yang pasti, dengan Scorsese, Cameron, dan Jackson di satu sisi, dan Del Toro di sisi lain, debat tentang peran AI dalam sinema tidak akan segera berakhir. Dan mungkin memang seharusnya tidak — karena perdebatan inilah yang menjaga sinema tetap hidup dan berkembang.
Sumber: Pernyataan resmi Black Forest Labs, Variety, The New York Times. Diolah untuk pembaca indfir.com.




