HomeFilmSpielberg Tolak AI di Hollywood: "Tidak Ada Pengganti untuk Jiwa"

Spielberg Tolak AI di Hollywood: “Tidak Ada Pengganti untuk Jiwa”

Date:

Related stories

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info Streaming

Jadwal Tayang Monday Night Raw Malam Ini & Info...

3 Grafik Bandingkan Misi Artemis dan Apollo

Lebih dari setengah abad setelah jejak pertama manusia mengukir...

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages

3 Cek Wajib Setelah Deploy Cloudflare Pages Proses pembangunan situs web modern yang mengandalkan arsitektur static site generation sering kali menghadapi

Zoneless Angular Resmi, Performa Web Makin Cepat

Mengenal Zoneless Angular: Revolusi Performa Web Ekosistem pengembangan frontend global...
spot_imgspot_img

Spielberg: “Jangan Gunakan AI sebagai Kata Terakhir dalam Kreativitas” — Hollywood Terbelah di Tengah Debat AI

Sutradara legendaris Steven Spielberg secara terbuka menolak peran AI dalam proses kreatif Hollywood, sementara Amazon MGM Studios justru meluncurkan dana AI senilai jutaan dolar untuk produksi serial animasi. Dua kutub yang sama-sama mengklaim “manusia tetap di pusat.”

Perdebatan tentang kecerdasan buatan di industri hiburan Hollywood memasuki babak baru — dan kali ini, Steven Spielberg yang memicunya.

Dalam penampilan di podcast “IMO” yang dibawakan Michelle Obama dan Craig Robinson, sutradara berusia 79 tahun ini menyampaikan pandangan tegas: AI boleh digunakan sebagai alat, tapi jangan pernah menjadi penentu keputusan kreatif.

“Di mana saya tidak menyukai AI adalah ketika ia mengambil posisi — atau ketika ada kursi kosong di meja penulis,” kata Spielberg.

“Saya tidak percaya ada pengganti untuk jiwa. Saya tidak berpikir ada algoritma yang bisa diciptakan untuk itu. Komputer yang berpikir bahwa ia merasakan lebih dari yang kita rasakan — itu bertentangan dengan cara saya dibesarkan dan cara saya akan menjalankan profesi saya.”

Batas Spielberg: Alat Boleh, Tapi Jangan Sampai Menggantikan

Penting dicatat — Spielberg tidak menolak AI secara total. Sutradara Jaws, Schindler’s List, dan Jurassic Park ini membedakan antara AI sebagai alat bantu dan AI sebagai pembuat keputusan.

Ia mengakui AI bisa berguna untuk tugas-tugas teknis seperti scouting lokasi syuting — pekerjaan yang memakan waktu dan tenaga. Tapi batasannya jelas:

  • JANGAN menulis dialog karakter
  • JANGAN menentukan posisi kamera
  • JANGAN mendesain set secara penuh

“Gunakan AI sebagai alat, tapi jangan gunakan AI sebagai kata terakhir dalam hal apapun yang bersifat kreatif. Di situlah saya menarik garis,” tegasnya.

Pernyataan ini bukan sekadar opini personal. Spielberg adalah salah satu pembuat film paling berpengaruh dalam sejarah Hollywood — orang yang mendefinisikan ulang blockbuster modern. Ketika dia bicara soal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pembuatan film, industri mendengarkan.

Bukan Cuma Spielberg — Leonardo DiCaprio Juga Menolak AI sebagai “Seni”

Spielberg tidak sendirian. Pada Desember 2025, Leonardo DiCaprio mengatakan kepada Time magazine bahwa AI tidak mampu memiliki kemanusiaan dan karenanya apapun yang diciptakannya tidak bisa dianggap sebagai seni secara autentik.

“Saya pikir apapun yang akan dianggap sebagai seni harus datang dari manusia,” kata DiCaprio.

Ia mengakui bahwa AI bisa menghasilkan karya yang secara teknis mengesankan — mashup lagu yang terdengar brilian, misalnya. Tapi menurutnya, karya semacam itu hanya mendapat “15 minutes of fame” sebelum akhirnya menghilang.

“Tidak ada jangkar padanya. Tidak ada kemanusiaan di dalamnya, sehebat apapun itu.”

Dua suara ini — Spielberg dan DiCaprio — mewakili arus utama Hollywood yang semakin khawatir bahwa AI akan mengubah kreativitas dari proses manusiawi menjadi perhitungan algoritmik.

Kutub Lain: Amazon MGM Studios Luncurkan Dana AI untuk Kreator

Sementara Spielberg menarik garis merah, Amazon MGM Studios justru mengambil arah berlawanan — dengan klaim yang sama: “manusia tetap di pusat.”

Di acara “AI on the Lot” 2026 di Culver Studios pekan ini, Amazon mengumumkan GenAI Creators’ Fund — dana yang memberikan pembiayaan dan akses ke alat produksi AI bagi filmmaker, kreator digital, dan startup teknologi untuk mengembangkan acara TV dan film premium.

Hasil pertamanya sudah konkret: Amazon MGM Studios sudah me-greenlight tiga serial animasi untuk Prime Video yang seluruhnya diproduksi dengan bantuan AI:

  • “Punky Duck” — karya Jorge R. Gutierrez (sutradara The Book of Life)
  • “Love, Diana Music Hunters” — dari Albie Hecht (mantan presiden Nickelodeon, pengembang SpongeBob SquarePants)
  • “Cupcake & Friends” — dari BuzzFeed Studios

Yang menarik: semua proyek ini tetap menggunakan aktor manusia dan voice actor manusia. AI digunakan untuk proses produksi visual, bukan untuk menggantikan performer.

Project Nara — Platform Produksi AI End-to-End dari Amazon

Di balik dana tersebut, Amazon dan AWS meluncurkan Project Nara — platform produksi AI yang diklaim sebagai pertama di industri yang dirancang khusus untuk visual storytelling.

Platform ini mengintegrasikan AI production agents dengan tools yang sudah biasa digunakan kreator — Maya, Blender, Nuke, Unreal Engine, dan Adobe. Arsitekturnya “model-agnostic”, artinya menggabungkan model video AI dari berbagai pihak ketiga dengan model proprietary Amazon sendiri.

Target Amazon ambisius: memberikan deadline lima minggu kepada ketiga mitra awal untuk menyelesaikan pilot mereka — untuk membuktikan bahwa produksi berbasis AI bisa dilakukan dengan cepat.

“Salah satu keluhan terbesar yang kami dengar dari kreator adalah: AI tidak akan melakukan apa yang Anda inginkan,” kata Albert Cheng, COO Amazon MGM Studios, kepada Variety.

“Sistem AI video saat ini dirancang untuk media sosial. Kami mengubah model-model itu menjadi tools yang bisa digunakan oleh industri.”

Ironi yang Tak Terhindarkan

Paralel antara pernyataan Spielberg dan inisiatif Amazon menciptakan ironi yang sulit diabaikan.

Di satu sisi: sutradara paling ikonik di sejarah Hollywood mengatakan “jangan gunakan AI sebagai kata terakhir.”

Di sisi lain: studio terbesar yang didukung infrastruktur teknologi paling canggih di dunia mengatakan “AI memberi kekuatan pada kreativitas manusia.”

Keduanya mengklaim manusia tetap sentral. Tapi definisi “sentral” mereka sangat berbeda.

Bagi Spielberg, sentral berarti manusia yang menulis dialog, menentukan sudut kamera, dan mendesain set — AI hanya membantu pekerjaan administratif.

Bagi Amazon, sentral berarti manusia yang mengarahkan output AI — AI mengerjakan produksi visual, manusia memberi arahan kreatif.

Perbedaan ini bukan teknis. Ini filosofis. Dan jawabannya akan menentukan bentuk Hollywood untuk dekade-dekade mendatang.

Relevansi untuk Industri Kreatif Indonesia

Perdebatan ini bukan cuma soal Hollywood. Industri film dan konten Indonesia — yang sedang berkembang pesat dengan platform streaming lokal dan internasional — akan menghadapi pertanyaan yang sama.

Apakah AI akan menjadi alat bantu yang mempercepat produksi? Atau akan menjadi pengganti kreator manusia dalam proses penulisan, penyutradaraan, dan desain?

Pandangan Spielberg — bahwa AI boleh sebagai tool tapi tidak sebagai decision maker — mungkin menjadi kompas yang berguna bagi pembuat konten Indonesia yang ingin memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jiwa karya.

Seperti kata Spielberg sendiri: “Saya tidak percaya ada pengganti untuk jiwa.”

Dan mungkin, itulah hal yang paling tidak bisa digantikan oleh algoritma manapun.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here