Tim nasional Belgia berhasil menundukkan Amerika Serikat dengan skor telak 4-1 dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026. kemenangan ini memastikan Les Diables Rouges lolos ke babak perempat final setelah melewati salah satu tuan rumah turnamen tahun ini.
Partai yang berlangsung di hadapan suporter tuan rumah tersebut berjalan di luar prediksi. Belgia, yang sempat nyaris tersingkir di babak 32 besar ketika tertinggal 0-2 dari Senegal hingga menit-menit akhir, tampil jauh lebih dominan dan percaya diri saat menghadapi Amerika Serikat.
De Ketelaere Buka Keran Gol Belgia
Belgia langsung menunjukkan intensitas tinggi sejak peluit awal dibunyikan. Dalam dua menit pertama, tembakan jarak jauh Timothy Castagne sebenarnya sudah nyaris membuka keunggulan, namun kiper Amerika Serikat Matt Freese berhasil melakukan penyelamatan gemilang.
Gol pembuka akhirnya datang pada menit kesembilan. Charles De Ketelaere menyambar umpan silang mendatar dari Nicolas Raskin dengan penyelesaian yang tenang untuk membawa Belgia memimpin 1-0. Gol ini menjadi momentum penting yang membuat Belgia semakin mendominasi penguasaan bola di lapangan tengah.
De Ketelaere tampil sangat menonjol sepanjang laga. Pemain yang memperkuat klub di Serie A Italia ini tidak hanya mencatatkan satu gol, melainkan memberikan ancaman konstan bagi pertahanan Amerika Serikat melalui pergerakan tanpa bola dan kemampuan teknisnya dalam menerima tekanan.
Tillman Sempat Samakan Kedudukan
Amerika Serikat tidak tinggal diam setelah tertinggal. Tuan rumah mulai membangun serangan balik dan menemukan momen emas mereka melalui Malik Tillman. Gelandang Amerika Serikat tersebut berhasil menjebol gawang Belgia dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1, sebuah gol yang memantik reaksi emosional dari bangku pelatih Belgia.
Mauricio Pochettino, pelatih Amerika Serikat, terlihat sangat frustrasi saat melihat bola bersarang di jaring gawang timnya. Reaksinya terekam jelas di kamera siaran, menunjukkan betapa tingginya tekanan yang dihadapi kedua pelatih dalam laga eliminasi ini.
Sebelumnya, Pochettino sudah mempersiapkan strategi khusus untuk menghadapi Belgia. Namun keunggulan yang dibangun dengan susah payah itu tidak bertahan lama, karena Belgia segera merespons dengan intensitas yang lebih tinggi.
Belgia Tancap Gas di Babak Kedua
Masuk ke babak kedua, Belgia tampil dengan wajah yang sangat berbeda. Penguasaan bola semakin dominan, transisi dari bertahan ke menyerang berjalan mulus, dan lini depan mereka terus merepotkan barisan belakang Amerika Serikat.
Skor berubah menjadi 2-1 bagi keunggulan Belgia sebelum jeda babak pertama. Di babak kedua, Les Diables Rouges menambahkan dua gol lagi yang mengubur harapan Amerika Serikat untuk melanjutkan turnamen di kandang sendiri.
Serangan bertubi-tubi dari Belgia membuat pertahanan tuan rumah kewalahan. Kombinasi umpan pendek yang presisi dan pergerakan lini depan yang cair membuat Amerika Serikat kesulitan membendung laju permainan Belgia. Skor akhir 4-1 menjadi cerminan dominasi Belgia di atas lapangan.
Perjalanan Belgia yang Berliku
Kemenangan ini menjadi pembuktian bahwa Belgia telah bangkit dari pengalaman pahit di babak sebelumnya. Di babak 32 besar, mereka nyaris tersingkir setelah tertinggal dua gol dari Senegal sebelum akhirnya membalikkan keadaan di menit-menit krusial.
Kemampuan Belgia untuk bangkit dari situasi sulit menunjukkan mentalitas juara yang kuat. Tim yang pernah menduduki peringkat pertama FIFA ini tampaknya mulai menemukan kembali performa terbaiknya di momentum yang tepat, yakni di panggung Piala Dunia.
Generasi emas Belgia memang telah mengalami pergantian pemain, namun semangat kompetitif tidak pernah luntur. De Ketelaere dan rekan-rekannya membuktikan bahwa Belgia masih merupakan kekuatan yang patut diperhitungkan dalam sepak bola internasional.
Amerika Serikat Gagal Manfaatkan Keuntungan Tuan Rumah
Kekalahan telak ini menjadi pukulan berat bagi Amerika Serikat. Sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, dukungan suporter seharusnya menjadi energi tambahan. Namun tekanan bermain di depan publik sendiri justru menjadi beban yang sulit ditangani.
Pochettino kini harus mengevaluasi secara menyeluruh performa timnya. Meskipun sempat menunjukkan perlawanan melalui gol Tillman, secara keseluruhan Amerika Serikat terlihat kalah kelas di hadapan Belgia yang tampil lebih kompak dan terorganisir.
Bagi Belgia, tiket perempat final menjadi hadiah atas kerja keras dan kepercayaan diri yang terus dibangun sepanjang turnamen. Dengan performa yang terus meningkat, Les Diables Rouges berpotensi melaju lebih jauh di Piala Dunia 2026.
Referensi: Vietnam.vn, sport.tvp.pl, Meczyki.pl, www.goal.com




