Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 kian memanas menjelang Muktamar Ke-35 di Kabupaten Jombang. Sejumlah nama tokoh organisasi, akademisi, hingga mantan pejabat negara mulai mengemuka, memicu dinamika internal yang menarik perhatian kader Nahdliyin. Proses suksesi ini mencerminkan regenerasi kader sekaligus menjadi indikator arah kebijakan PBNU lima tahun mendatang. Di tengah persiapan teknis yang terus digenjot, para kandidat mulai melakukan konsolidasi dukungan, sementara mekanisme pemilihan ketat akan menjadi penentu kepemimpinan baru.
Bursa Kandidat Makin Ramai, Delapan Nama Mengemuka
Pemetaan internal menunjukkan setidaknya delapan nama yang secara konsisten disebut sebagai potensi kuat penerus kepemimpinan. Prof Moh Mukri mencatat bahwa figur-figur tersebut telah muncul dalam berbagai forum pengajian dan pertemuan pengurus daerah. Di antara nama yang sering disinggut adalah Yahya Cholil Staquf dengan rekam jejak panjang di struktur organisasi, serta mantan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang dikenal dengan latar belakang akademis dan birokrasi. Selain itu, muncul pula KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, serta Gus Kikin yang memiliki basis dukungan kuat di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Keberagaman latar belakang kandidat dinilai sebagai cerminan kaderisasi yang sehat. Gus Salam menilai banyaknya figur yang berminat memimpin PBNU menunjukkan keberhasilan organisasi mencetak pemimpin berkapasitas mumpuni. Setiap kandidat membawa tawaran visi berbeda, mulai dari penguatan pendidikan pesantren, diplomasi global, hingga modernisasi tata kelola. Semua nama tersebut masih harus melalui verifikasi ketat sesuai anggaran dasar dan rumah tangga NU sebelum resmi ditetapkan dalam Muktamar.
Dukungan Politik dan Mekanisme Pemilihan
Dalam sistem pemilihan Ketua Umum PBNU, dukungan dari tingkat pengurus cabang dan wilayah memegang peranan krusial. PCNU Jawa Tengah secara terbuka telah menyatakan dukungan kepada Gus Yusuf. Langkah ini merupakan dinamika normal organisasi massa yang mengandalkan asas musyawarah. Dukungan daerah secara langsung memengaruhi perolehan suara dari para utusan muktamar.
Mekanisme pemilihan dirancang untuk memastikan transparansi dan legitimasi. Proses ini mencakup penyaringan administrasi, presentasi visi misi di hadapan dewan syura, hingga pemungutan suara berjenjang. Para kandidat dituntut tidak hanya mengandalkan popularitas, tetapi juga kemampuan menjawab tantangan organisasi kontemporer. Gus Ipul, yang menjabat di bidang pendidikan, hukum, dan media PBNU, mengonfirmasi bahwa sejumlah nama telah menyiapkan dokumen pencalonan dan melakukan silaturahmi. Kompetisi berlangsung dalam koridor etika organisasi yang ketat.
Persiapan Infrastruktur dan Simbol Muktamar
Sementara dinamika internal berjalan, persiapan fisik dan simbolik Muktamar Ke-35 terus dilakukan panitia penyelenggara. PBNU resmi menetapkan logo Muktamar yang dirancang oleh M Shofa Ulum, alumni Pondok Pesantren Langitan. Logo tersebut memuat elemen filosofis yang merepresentasikan identitas NU, termasuk nilai keislaman dan semangat pembaruan. Penetapan ini menandakan tahapan persiapan telah memasuki fase final.
Di sisi infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Perhubungan melakukan penyesuaian di titik strategis jalur menuju Tambakberas. Penggantian lampu penerangan jalan umum dengan daya 90 watt dilakukan untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan pergerakan delegasi. Langkah ini mencerminkan sinergi organisasi masyarakat dengan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan hajatan akbar yang akan dihadiri puluhan ribu utusan.
Dinamika Personal dan Jejak Rekam Tokoh
Di balik persaingan formal, aspek personal dan rekam jejak kandidat juga menjadi pertimbangan. Beberapa tokoh yang mengemuka telah menunjukkan konsistensi dalam berbagai bidang selama puluhan tahun. Gus Salam kembali menjadi sorotan karena dukungan lamanya kepada timnas Argentina sejak Piala Dunia 1986, yang sering ia tunjukkan melalui atribut khas. Hal ini mencerminkan bagaimana figur publik dinilai dari kedekatan emosional dengan masyarakat dan konsistensi nilai yang dipegang.
Para pengamat menilai Muktamar Ke-35 akan menjadi momentum penentuan arah kebijakan PBNU dalam menghadapi tantangan global, mulai dari moderasi beragama hingga transformasi digital pesantren. Setiap kandidat dituntut menyampaikan program terukur tanpa meninggalkan khittah organisasi. Proses ini akan berlangsung terbuka, di mana utusan memiliki hak penuh memilih pemimpin yang dianggap paling mampu membawa NU maju.
Pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU di Jombang tidak sekadar pergantian kepemimpinan struktural, melainkan refleksi perjalanan organisasi dalam menjaga keseimbangan tradisi dan pembaruan. Dengan bursa kandidat kompetitif, mekanisme terstruktur, serta persiapan logistik matang, seluruh elemen diharapkan dapat menyelaraskan pandangan demi terciptanya kepemimpinan solid. Hasil akhir dari proses ini akan menjadi fondasi kebijakan organisasi dalam lima tahun mendatang.
Referensi: ANTARA News Megapolitan, MetroTVNews.com, Jombang Banget, lampung.nu.or.id, surabaya.tribunnews.com, nomorsatukaltim.disway.id

