HomeGeneralHarga Dolar Tembus Rp18.000, Konflik AS-Iran Tekan Rupiah dan Pasar Keuangan

Harga Dolar Tembus Rp18.000, Konflik AS-Iran Tekan Rupiah dan Pasar Keuangan

Date:

Related stories

Trailer Kedua Spider-Man Brand New Day Resmi Rilis

Trailer Kedua Spider-Man Brand New Day Resmi Rilis LOS ANGELES,...

Komet Antarbintang 3I/ATLAS Punya Air yang Tak Ada di Tata Surya

Teleskop luar angkasa James Webb berhasil mendeteksi komposisi air...

Google Resmi Luncurkan Antigravity 2.0

Both source pages are JavaScript-rendered SPAs returning minimal content....

Gedung Putih Susun Aturan AI Tanpa Peta Jalan

**Gedung Putih Improvisasi Aturan AI Tanpa Rencana Jelas** Washington —...

Trailer ‘Kill Code’: Keitel, Tyrese, Grillo di Sci-Fi Thriller

Trailer 'Kill Code': Keitel, Tyrese, Grillo di Sci-Fi Thriller Los...
spot_imgspot_img

Harga dolar Amerika Serikat menembus kisaran Rp18.000 pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pelemahan rupiah terjadi ketika investor kembali memburu dolar AS sebagai aset aman, sementara lonjakan risiko geopolitik turut mendorong kenaikan harga minyak dan menekan mata uang negara pengimpor energi.

Di pasar valuta asing, rupiah dilaporkan diperdagangkan sekitar Rp18.040 per dolar AS hingga pukul 11.03 WIB. Posisi tersebut melemah 73 poin atau 0,41 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya di kisaran Rp17.967 per dolar AS. Pergerakan ini memperlihatkan tekanan jual terhadap rupiah masih berlanjut setelah nilai tukar melewati level psikologis Rp18.000.

Harga Jual Dolar di Perbankan Meningkat

Pelemahan rupiah turut tercermin pada harga jual dolar AS di sejumlah bank. Berdasarkan laporan media, terdapat perbankan yang menawarkan dolar AS hingga sekitar Rp18.300. Harga tersebut merupakan kurs jual yang berlaku ketika nasabah membeli dolar dari bank, sehingga umumnya lebih tinggi dibandingkan nilai tukar yang diperdagangkan di pasar antarbank.

Perbedaan harga dolar antarbank dapat dipengaruhi oleh jenis transaksi, waktu pembaruan kurs, ketersediaan valuta asing, serta margin yang ditetapkan masing-masing bank. Kurs untuk transaksi melalui layanan elektronik juga dapat berbeda dari harga yang berlaku di kantor cabang atau transaksi menggunakan uang kertas asing.

Kenaikan kurs jual dolar menunjukkan perbankan menyesuaikan harga terhadap volatilitas pasar dan risiko pelemahan rupiah lebih lanjut. Dalam situasi pasar yang bergerak cepat, selisih antara kurs beli dan kurs jual biasanya dapat melebar karena pelaku usaha keuangan berupaya mengantisipasi perubahan harga.

Konflik AS-Iran Menjadi Tekanan Utama

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi nilai tukar. Laporan mengenai serangan Iran ke Kuwait serta respons militer AS di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran atas keamanan jalur perdagangan energi dunia. Pasar juga mencermati perkembangan negosiasi kedua negara yang belum menghasilkan kesepakatan damai.

Selat Hormuz memiliki posisi penting dalam distribusi minyak global. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi mengurangi pasokan energi dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara yang membutuhkan impor minyak dalam jumlah besar karena kebutuhan dolar untuk membayar impor berpotensi bertambah.

Ketika risiko geopolitik meningkat, investor global cenderung memindahkan dana dari aset berisiko menuju instrumen yang dinilai lebih aman dan likuid. Dolar AS sering menjadi salah satu tujuan utama dalam situasi tersebut. Permintaan yang meningkat kemudian memperkuat dolar terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah.

Pasar Mencermati Kebijakan Ekonomi AS

Selain konflik geopolitik, pelaku pasar memperhatikan arah kebijakan moneter dan kondisi fiskal Amerika Serikat. Data ekonomi AS akan menjadi petunjuk mengenai langkah suku bunga berikutnya. Apabila inflasi bertahan tinggi atau perekonomian tetap kuat, suku bunga dapat dipertahankan pada level tinggi lebih lama sehingga aset berdenominasi dolar tetap menarik.

Namun, kekhawatiran mengenai utang pemerintah AS yang disebut mendekati US$40 triliun juga mulai mendapat perhatian. Besarnya utang dapat memengaruhi kepercayaan pasar terhadap kondisi fiskal AS dalam jangka panjang. Pada saat yang sama, dolar masih memperoleh dukungan sebagai mata uang cadangan utama dunia dan aset yang banyak dicari ketika ketidakpastian meningkat.

Pergerakan dolar dalam beberapa waktu ke depan akan ditentukan oleh kombinasi antara perkembangan konflik, harga energi, data ekonomi AS, serta respons bank sentral. Perubahan tajam pada salah satu faktor tersebut dapat dengan cepat mengubah arah perdagangan mata uang.

Emas dan Minyak Bergerak Mengikuti Sentimen Global

Gejolak nilai tukar juga berlangsung bersamaan dengan pergerakan harga emas dan minyak. Emas dunia dilaporkan menguat ketika dolar melemah dan muncul harapan meredanya ketegangan. Harga emas spot sempat naik sekitar 0,7 persen menjadi US$4.461 per troy ounce. Meski demikian, pergerakannya tetap sensitif terhadap berita terbaru dari kawasan Timur Tengah dan perubahan nilai dolar AS.

Secara umum, dolar yang melemah dapat membuat emas lebih terjangkau untuk pembeli yang menggunakan mata uang lain. Sebaliknya, penguatan dolar berpotensi membatasi kenaikan emas. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak selalu bergerak searah karena emas dan dolar sama-sama dapat diburu sebagai aset aman ketika risiko global melonjak.

Harga minyak menjadi faktor penting lainnya. Jika konflik mengganggu jalur pasokan energi, harga minyak berpotensi naik dan memperbesar kebutuhan valuta asing negara importir. Sebaliknya, kemajuan perundingan damai dapat mengurangi kekhawatiran pasar, menekan harga minyak, dan membantu meredakan tekanan terhadap sejumlah mata uang.

Volatilitas Diperkirakan Tetap Tinggi

Pelaku pasar masih menunggu kepastian mengenai arah hubungan AS-Iran serta keamanan perdagangan di sekitar Selat Hormuz. Selama belum terdapat kesepakatan yang mampu meredakan ketegangan, pergerakan dolar, rupiah, emas, dan minyak diperkirakan tetap berfluktuasi tajam.

Perusahaan yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar biasanya akan mencermati perubahan kurs secara lebih ketat. Kenaikan dolar dapat meningkatkan biaya pembelian barang, bahan baku, atau kewajiban lain yang menggunakan mata uang AS. Sementara itu, pelaku pasar valuta asing perlu memperhatikan perbedaan kurs antarbank serta risiko perubahan harga dalam waktu singkat.

Pergerakan rupiah setelah menembus Rp18.000 akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan sentimen investor global. Meredanya konflik dapat membuka ruang pemulihan, sedangkan eskalasi lanjutan berpotensi mempertahankan permintaan terhadap dolar AS dan menambah tekanan pada pasar keuangan.

Referensi: Bareksa.com, Kompas.com, Bisnis Indonesia Premium, www.cnbcindonesia.com

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here